Semua dimulai di akhir tahun 2007 di Athena, sebuah kota tua yang penuh dengan sejarah dunia. Dalam pertemuan Communicating Astronomy with the Public, saya mengajukan diri untuk bekerja dalam task group cosmic diary cornerstone project, yang merupakan bagian dari International Year of Astronomy 2009.
Di sudut jalan anak itu berdiri, dalam balutan pakaian yang rapih sambil mendekap tasnya. Sesekali ia melirik ke jalan di depannya seperti sedang menantikan seseorang, atau mungkin takut terlihat? Entahlah. Wajah polosnya terus tertunduk sambil sesekali mencari di antara lalu lalang orang berpakaian bagus, menenteng tas tangan dalam dandanan mentereng menuju gereja. Alunan lagu-lagu natal terdengar sayup dari rumah-rumah disekelilingnya.
Tak lama menunggu, anak itu terlihat gembira dengan kedatangan gadis kecil lainnya dari sisi jalan yang berbeda. Celotehan gembira terdengar di antara keduanya sambil menuju sebuah sekolah untuk merayakan Natal. Natal malam itu begitu meriah dalam keceriaan yang indah…. continue…
Beberapa hari lalu saat sedang menelusuri video lagu-lagu era saya masih berseragam di youtube, saya justru menemukan video lagu Lentera Jiwa, single baru yang dibawakan oleh Nugie. Seperti biasa, lagu dengan makna yang cukup dalam dan menyentuh. Lagu yang bercerita tentang sebuah pencarian dalam hidup dan perjalanan mengikuti nurani.
Sejenak saya seperti berkaca melihat kehidupan saya sendiri. Semua seperti mengalir dalam sebuah sungai yang penuh riak dan kadang terantuk batu dan kerikil. Tapi walau demikian saya menikmatinya. Sudahkah saya menemukan lentera jiwa saya? Itu pertanyaan yang sesaat muncul namun kemudian akan tenggelam hilang di antara deru kesibukan sehari-hari. continue…
Jumat lalu saya diminta untuk mencarikan 2 talent anak-anak untuk syuting acara Jalan Sesama di Bosscha. Dari 4 anak yang dihubungi, 3 diantaranya menolak kesempatan yang diberikan tersebut. Akhirnya kami harus mencari 1 talent anak perempuan untuk melengkapi skenario yang ada. Singkat cerita talent tersebut memang ditemukan dari anak salah satu pegawai di lokasi syuting. continue…
In Memoriam of Faizal Riza (Makassar, 24 Mei 1979 - Makassar, 31 Oktober 2008)
”Semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya.”(Faizal Riza) continue…
Tumpukan buku di atas mejaku
Nyala komputer di sampingku
Buku-buku juga cinta melulu
Bosan bosan bosan
Kunyalakan tivi di hadapanku
Kudengar pidato menteriku
Perbaikan ekonomi untuk negeriku
Bohong bohong bohong
Terdesak kita terdesak
Tertindas di negeri sendiri
Dua pilihan harus kita hadapi
Reformasi atau Revolusi
Lirik dan syair oleh Astronomi 97 [Iyam, Umar,Ichal] dibuat tahun 1998
Demi Tuhan Bangsa Dan Almamater
Bergema di dalam hatiku
Demi Tuhan Bangsa dan Almamater
Bergema di dalam hatiku
Kucinta rakyatku kucinta negeriku kucinta tanah airku
Kucinta rakyatku kucinta negeriku kucinta tanah airku
Bergerak kita bergerak
Satukan tekad satukan langkah
Hentak kaki kita bergerak
Semangat juang wujudkan cita
Demi Tuhan Bangsa dan Almamater
Tahun 2005 untuk pertama kalinya saya menampilkan poster paper di dalam konferensi. Saat itu saya dan beberapa rekan membuat poster paper tentang majalah Centaurus yang sedang kami rencanakan saat itu. Walau hanya 2 hari menampilkan poster tersebut di APRIM 2005, saya cukup terkesan dengan desain yang dibuat Agung. Menarik dan terstruktur.
Tahun 2006 saat mengikuti ICMNS,untuk pertama kalinya saya harus membuat sendiri desain poster saya. Yang terpikir tentu harus menarik. Nyari di internet yang didapat hanya template standar yang kaku dan memang sangat ilmiah untuk sebuah ajang ilmiah yang diperuntukan untuk dibuat di Microsoft power point. Menarik memang, namun entah kenapa saya tidak nyaman melihat bentuk yang lebih mirip paper yang diperbesar dalam ukuran A0 itu. continue…




