Hawa, Konsekuensi Sebuah Pilihan

Kehidupan menuntut kita untuk membuat pilihan. Kadang pilihan itu terasa mudah, yah sekedar memilih akan makan apa kita hari ini, atau memilih buku atau kaset apa yang ingin dibeli. Tapi kadang ada pilihan yang mungkin sedikit lebih berat .. tentang siapa pendamping hidup kita atau dimana kita bekerja. Tapi memilih buah apa yang harus dimakan? wah rasanya terlalu mudah khan? Pilih aja.. banyak kok buah di pasar …. pilih yang segar.. ada rambutan, durian, apel, strawberi atau buah apapun. Ingin makan mangga muda? silahkan… akibatnya tanggung sendiri yah. Inilah sebuah konsekwensi dan tanggung jawab yang akan diletakkan pada kita saat kita memilih sesuatu. Seringkali saat memilih kita hanya melihat keindahan luarnya tanpa memperhitungkan akibat dan tanggung jawab yang harus dipikul kelak. Ada akibat yang baik ada yang buruk. Hal itulah yang terjadi pada Hawa.

Siapa sih yang tak kenal Hawa? Hawa itu.. istrinya Adam khan? Si manusia pertama yang paling ganteng sedunia. Jelas donk.. istrinya pun cantik dan sempurna. Hawa, wanita yang diciptakan Allah sebagai pendamping yang sepadan bagi Adam. Ia adalah Ibu bagi semua yang hidup dan juga Ibu bagi semua yang mati. Adam dan Hawa juga kita semua diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupaNya. Ia menciptakan kita dalam suatu kesempurnaan yang ajaib, dimana kita bisa menikmati hubungan yang indah dengan sesama dan Sang Pencipta.

Adam dan Hawa hidup dalam sebuah kesempurnaan hubungan dengan Tuhan dan juga menikmati kesempurnaan dunia ciptaanNya. Hawa sangat beruntung hidup dalam masa ini. Dia bisa bercakap-cakap dengan Tuhan, dia punya relasi yang baik dengan suaminya, dia bebas menjadi apapun yang dia inginkan. Tidak ada penindasan kaum pria terhadap dirinya, tidak ada pemukulan suami terhadap istri. Relasi yang luar biasa indah dan harmonis terbentuk di Eden. Hawa menunjukkan pada kita bagaimana kemanusiaan itu lahir dan berjalan tapi dia juga menunjukkan seperti apa kehidupan itu akan memilih jalannya. Keharmonisan itu berjalan sampai suatu hari sebuah percakapan singkat dengan ular berakhir dalam sebuah kehancuran.

Tuhan memerintahkan “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari kau memakannya, pastilah engkau mati.” Perintah yang mudah bukan??? Jangan makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Gampang.. toh masih banyak buah yang lain.

Sebenarnya untuk mengerti kehadiran buah ini kita harus juga mengerti tentang keberadaan kita saat diciptakan dalam gambar dan rupa Allah.

Lihat sebentar ke alam semesta yok…
Tuhan menciptakan bintang dan semua benda angkasa yang bergerak dalam dinamika keteraturan yang sudah ditentukan. Bisa ditebak kok.. gerakan benda-benda angkasa itu akan mengelilingi pusat massanya dalam orbit lingkaran, ellips, hiperbola, parabola… Tuhan juga menciptakan musim semi, musim panen dalam satu siklus waktu yang dapat diprediksikan. Semua benda alam ini terprogram seperti apa yang telah Tuhan atur. Tapi ditengah semua ciptaan itu, manusia diciptakan berbeda. Kita bisa memilih untuk mencintai dan mematuhi Allah, atau memilih untuk berbalik dan meninggalkan Dia. Ia memberikan kekuatan pada kita untuk memilih, tanpa adanya kekuatan ini kita mungkin tak kan mengerti apa arti kata mencintai. Meminta sebuah kepatuhan itu mudah tapi kita tak bisa meminta seseorang untuk mencintai tanpa mengerti apapun. Dsinilah kita sebenarnya diajarkan untuk mengerti bahwa kita membutuhkan Allah yang menciptakan kita..lewat respon kita untuk memilih berada dalam kehendakNya.

Balik lagi ke Hawa dan ular. Dengan sedikit kata-kata manis bahwa Hawa akan menjadi seperti Allah .. bahwa Tuhan tidak mau melihat manusia seperti diriNya… keinginan itu hadir .. menyeruak.. pelannn namun pasti. Akhirnya Hawa mengambil buah itu.. makan dan memeberikan pada suaminya. dimakan pula sama Adam. Enak sihh.. dikasih istri kok ditolak.. gitu deh kira-kira pikiran Adam saat itu. Pada akhirnya keduanya menyadari ketelanjangan mereka dan memutuskan membuat pakaian dari daun pohon ara.

Lihat khan ?? hanya sebuah pilihan mudah. Makan atau tidak. Dan Hawa memilih untuk makan buah itu. Cuma makan buah.. apa sih susahnya?? Tapi dibalik pilihan itu, ada konsekwensi yang harus ditanggung. Pilihan yang dipilihnya menandakan suatu keraguan dan ketidakpercayaan akan kebaikan Allah. Sebuah cara yang mungkin terlihat tolol tapi mengandung makna yang dalam untuk menyatakan bahwa Allah telah salah menginterpretasikan diriNya, dan Ia tidak mendapat tempat terbaik dalam hati manusia ciptaanNya. Pilihan keduanya mendemonstrasikan sebuah paradox mengenai penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia segambar dan serupa denganNya namun kita bebas untuk menempatkan keinginan kita diatas keinginan Allah. Kita bebas untuk tidak memperdulikan pencipta kita. Paradoks bukan??

Pilihan keduanya menghasilkan kehancuran relasi manusia dengan Tuhan, juga kehancuran relasi antara manusia dengans sesamanya. Lihat saja bagaimana Adam menyalahkan Hawa, dan Hawa menyalahkan ular. Padahal kalau kita tilik.. keputusan ada di tangan masing-masing pribadi tersebut. Saling menyalahkan menggantikan kepercayaan dan cinta. Itulah kehidupan kita saat ini, ketidakpercayaan, kecurigaan, keraguan menghiasi setiap hubungan. Relasi dalam keluarga jadi berantakan, hubungan suami istri jadi kaku bahkan terjadi tindak penyelewengan dan kekerasan. Manusia memilih untuk hidup tanpa Tuhan. Akibat sebuah pilihan itu berlanjut sampai detik ini.

Tuhan tau apa yang diperbuat ciptaanNya dan Ia datang pada mereka, Ia yang datang ke taman itu mencari mereka. Dan walaupun ada hukuman yang ditimpakan pada manusia dan ular namun Ia membuatkan pakaian dari kulit binatang buat mereka. Kematian menghampiri. dari debu kembali menjadi debu. Kesakitan saat melahirkan.. yang pria akan mencari rezeki dengan susah payah. Namun yang paling menyakitkan adalah kekosongan yang dirasakan karena keterpisahan dengan Allah.

Namun Ia bukan Allah yang tidak perduli. Bahkan ditengah penghukuman atas dosa, Ia memberi janji pemulihan hubungan yang telah hancur itu. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturuannya; keturunannya akan meremukan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”(kej 3:15). Sebuah peringatan pada Iblis kalau kemenangannya hanya sementara. Akan tiba saatnya kekalahan saat Yang Dijanjikan lahir, dan mengambil kembali kemenangan itu.

Kisah yang dibuat tentang manusia belum berakhir, layar belum diturunkan. Allah tidak sedang membuat sebuah kisah tragedy. Kisah Hawa memang tragis, bukan hanya untuk dirinya tapi untuk seluruh umat manusia. Setelah terusir dari Taman Eden, kita hanya bertemu Hawa saat ia melahirkan Kain dan Habel, juga Seth. Anak-anaknya yang lain tidak disebutkan, kematiannya tak pernah kita ketahui. Bahkan mungkin tahun-tahun penuh penyesalan, kekawatiran harus ia lalui. Kain putranya membunuh saudaranya Habel. Sebuah akhir yang menyedihkan buat seorang ibu. Tapi ia mendapatkan apa yang dijanjikan padanya. Mengetahui pengetahuan yang baik dan buruk. Ia merasakan kesakitan, kehilangan dan kematian. Dan Ia pernah merasakan betapa indahnya hidup bersama dengan Allah dalam kebebasan yang tiada batas. Suatu perpindahan yang tragis saat ia dan keluarganya harus terusir dari kehangatan kasih Allah dan merasakan akibat dari pilihan mereka.

Satu kali ia membuat pilihan, ia tidak mampu mengubah akhir kisah ini untuk dirinya, untuk Adam, Kain dan Habel, untuk Seth dan untuk semua keturunannya. Tapi Sang Penulis cerita masuk kedalam kisah kehidupan manusia dan mengubah akhir kisah ini. Ia mengambil semua akibat yang ditimbulkan oleh pilihan yang salah jugga rasa sakit dan kesengsaraan yang harus dialami dan mengubahnya menjadi akhir yang membahagiakan. Keturunan Perempuan akan mengalahkan Iblis.

Hawa hidup dalam pengharapan akan kehadiran Sang Penyelamat, namun kita hidup dalam Janji yang telah dipenuhi. Hubungan kita dengan Allah telah dipulihkan dalam Kristus. Di dalam Kristus, kisah hidup kita yang tragis bisa diubah.. relasi dengan Allah dipulihkan, relasi dengan sesama dipulihkan. Kita bisa memilih supaya Allah yang menuliskan akhir yang bahagia untuk drama kehidupan kita.

happy ending or sad ending… semuanya adalah pilihan kita. Karena itu jangan salah memilih walaupun itu pilihan yang sangat sepele. Hawa pernah salah.. akankah kita juga salah memilih??

The answer is yours, my friend.

inspiration from :
Kitab Kejadian 1-3. Alkitab, LAI.
Mathews Alice, 2004. EVE : How To See Long-Term Consequences in Little Decision, Discovery Series. RBC Ministries

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

One Comment

  • Renungan yang bagus sekali Ivy. Saya seorang muslim. Dan seorang muslim diberikan panduan tentang Hawa artinya ‘hidup’. Alquran tak pernah menyebut Hawa sebagai nama. Namun sebagai Istri. Menitiktekankan perempuan pada peran, sesuatu yang tidak Dia berikan pada laki-laki dengan mudah.
    kristiani dan Islam adalah awal dan kelanjutan. Kristiani memberikan latar, kemudian Islam mendirikan sesuatu di atasnya, sebagai penutup dan perlindungan terakhir.
    Sebagai pengikut Abraham yang mencari Tuhan yang Satu (monotheism). Kita sebenarnya bersaudara. Dan saya berterimakasih atas tulisan di atas. Dengan logika latar dan penutup. Keimanan saya meningkat tak terbantahkan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: