Pluto

Akhir Agustus lalu di Praha, IAU telah memutuskan untuk memberi definisi baru pada planet dan mereduksi jumlah planet menjadi 8, dengan menempatkan Pluto dalam kategori dwarf planet. Dengan demikian Pluto juga dikenal sebagai objek pertama yang ditemukan dalam lingkup trans neptunian object. Kilas balik sejenak, resolusi IAU menghasilkan ada 3 kategori utama dalam Tata Surya :

  • Planet : 8 objek dari Merkurius – Neptunus
  • Dwarf Planets : Pluto dan objek bundar lainnya yang belum menyapu bersih lingkungan disekitar orbitnya, dan bukan merupakan satelit.
  • Benda Kecil di Tata Surya : semua objek lain yang mengorbit Matahari.

Keputusan IAU ini bukan lantas membuat Pluto dikeluarkan dari Tata Surya atau bahkan dikeluarkan dari Bimasakti. Kalau itu yang terjadi, maka betapa hebatnya para astronom yang berkonferensi bulan Agustus lalu sampai-sampai mampu “menendang Pluto keluar dari Bimasakti” ;). Yang terjadi adalah kriteria planet didefinisi ulang dan dibuat kelas baru dalam Tata Surya yakni dwarf planet ( planet katai / kerdil ).

Namun ternyata resolusi ini menyisakan ketidakpuasan juga karena definisi IAU mengenai “daerah disekitar orbit yang belum bersih disapu” dianggap lemah. Keberatan yang diajukan, orbit disekitar Bumi, Mars, Jupiter dan Neptunus pun belum bersih dalam arti ada asteroid di dalam lingkup sekitarnya. Jupiter sendiri masih memiliki 50.000 asteroid yang mengorbit di daerah sekitarnya. Selain itu definisi baru dari IAU juga dianggap rancu karena hanya diterapkan untuk definisi planet di dalam Tata Surya sedangkan saat ini planet tidak hanya ditemukan di dalam lingkup Tata Surya. Saat ini ada sekitar 205 planet yang telah ditemukan di luar Tata Surya.

Ketidakpuasan para astronom akan hasil IAU dinyatakan dalam petisi yang ditandatangani oleh 300 astronom yang memutuskan mereka tak akan memakai definisi baru dari IAU tersebut. Isi petisi tersebut sebagai berikut :

We, as planetary scientists and astronomers, do not agree with the IAU’s definition of a planet, nor will we use it. A better definition is needed.

Tampaknya dalam pertemuan IAU berikutnya di Rio de Jeneiro masalah definisi planet akan diangkat kembali untuk dibahas dan diperjelas. Lantas mengapa setelah bertahun-tahun baru definisi planet dibicarakan kembali?

Sedikit kilas balik, Pluto ditemukan tahun 1930, saat astronom mencari objek yang diperkirakan menyebabkan terjadinya perturbasi (gangguan) pada orbit planet yang sedang mengelilingi Matahari. Neptunus, planet ke-8 di Tata Surya sendiri ditemukan tahun 1846 setelah para ilmuwan menggunakan teori gangguan pada orbit Uranus untuk memprediksikan lokasi “planet ke-8”. Setelah beberapa dekade, pencarian planet ke-9 pun dilakukan dan Pluto pun ditemukan. Meskipun telah diangkat sebagai planet, status Pluto kemudian mulai dipertanyakan karena orbitnya lebih miring dan panjang dibanding orbit planet lainnya di Tata Surya dan massanya juga lebih kecil 1% dari massa Bumi. Analisis ulang yang dilakukan menempatkan Pluto sebagai solusi dari problem yang tak pernah ada.

Tahun 1951, dengan analisis orbit Komet, Gerrard Kuiper memprediksikan keberadaan sabuk komet di luar Neptunus – sekarang dinamakan Sabuk Kuiper – analog dengan sabuk asteroid diantara Mars dan Jupiter. Teknologi teleskop di tahun 1990an membawa penemuan berbagai objek di Sabuk Kuiper yang lebih kecil dari Pluto dan mengorbit Matahari. Dengan penemuan ini, tampaknya Pluto lebih cocok menjadi objek terbesar dalam keluarga Sabuk Kuiper dibanding menjadi planet bersama 8 planet lainnya. Namun selama Pluto merupakan objek terbesar dalam jajaran objek sabuk Kuiper, keberadaan Pluto sebagai planet belum menjadi suatu masalah.

Tahun 2005, astronom Mike Brown mengumumkan penemuan objek baru di Sabuk Kuiper, dengan nama panggilan Xena atau planet X, dimana objek baru ini sedikit lebih besar dari Pluto. Penemuan ini mengakhiri status quo kesembilan planet di Tata Surya. Jika Pluto cukup besar untuk menjadi planet, maka Xena pun seharusnya menjadi bagian dari planet di Tata Surya, atau dengan kata lain merupakan planet kesepuluh. Tapi lantas bagaimana dengan objek Sabuk Kuiper lainnya yang hanya sedikit lebih kecil dari Pluto dan bagaimana juga dengan penemuan-penemuan dimasa yang akan datang? Bagaimana memberi batasan yang jelas antara planet dan objek besar di Sabuk Kuiper? Hal inilah yang kemudian membawa IAU membahas dan menentukan kriteria apa itu planet.

Pada awalnya diajukan kriteria utama planet adalah memiliki bentuk bundar, dimana Pluto dan Xena pasti masuk menjadi bagian dari Planet. Namun pengajuan ini juga akan memasukkan Charon (satelit Pluto) dan 40 objek Sabuk Kuiper lainnya, serta asteroid Ceres. Namun kemudian kriteria planet dimodifikasi kembali dengan menambahkan “daerah disekeliling orbitnya telah bersih tersapu”. Ceres gagal masuk dalam kriteria ini, karena disekelilingnya masih banyak asteroid dan Ceres pun kembali menjadi asteroid. Charon juga kembali menjadi satelit bagi Pluto. Namun Pluto pun akhirnya kehilangan statusnya sebagai planet karena ia memang merupakan anggota dari Sabuk Kuiper.

Tak bisa dipungkiri, definisi ulang yang menyebabkan Pluto kehilangan statusnya membawa dampak “kontroversi” diantara para ilmuwan, sekolah bahkan politisi. Yah memang pada akhirnya buku-buku pelajaran harus dicetak ulang dengan mendefinisikan kelas baru di Tata Surya yakni planet katai. Model Tata Surya yang dijadikan alat peraga untuk pembelajaran pun harus diubah. Proposal penelitian planet mungkin harus dibuat kembali, anggaran yang sudah dibuat untuk penelitian planet mungkin harus dihitung ulang, kebanggan dan relasi Pluto dengan sebuah kota dan negara harus juga terusik…namun lmu pengetahuan memang akan terus bergerak maju dan perubahan akan terus terjadi.

Apa yang telah kita ketahui masih akan terus berkembang dan bisa saja apa yang diputuskan sekarang akan berubah seiring waktu karena alam semesta ini luas dan masih menyimpan banyak misteri. Berhasil menyingkapkan satu misteri hanyalah awal untuk menemukan misteri berikutnya. Satu penemuan baru adalah awal untuk penemuan-penemuan berikutnya.

artikel terkait:
Penentuan Planet
Once Xena and Gabrielle, Now Eris and Dysnomia

About the Author

ivie

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

View All Articles