Ester, Rajutan Jemari Tuhan Yang Tak Terlihat

Kisah ini sama seperti kisah sejarah lainnya, yang dimulai dengan kata “Pada zaman Ahasyweros…(ester 1:1)”, tidak ada yang istimewa bagi kita yang sering membaca kisah-kisah sejarah kerajaan yang berjaya di masa lalu. Pesta yang diadakan sang raja juga merupakan hal yang biasa. Apa sih istimewanya sebuah pesta perayaan?? Wah.. istimewa loh..pesta ini diadakan selama 180 hari atau 6 bulan…. plus ditambah perjamuan 7 hari didalam istana, dengan segala kemewahan juga kemeriahan. Namun ditengah semua kemeriahan dan kemabukan, juga hawa nafsu yang kotor, terjadi penolakan sang ratu untuk datang menghadap raja. Akibatnya sang ratu, wasti dibuang dan tak pernah muncul lagi dalam kisah ini.

Sampai disini, apa istimewanya? semuanya biasa saja bukan? tapi itulah hidup, semuanya dimulai dengan biasa saja tapi didalamnya tangan Tuhan tak pernah berhenti merajut, bahkan ditengah kondisi paling biasa sekalipun Ia ada dengan tekun merajut hidup kita menjadi sebuah rajutan indah menurut rencanaNya.

Kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi pada diri kita hari ini. Demikian juga dengan Daud, hari itu ia mulai sama seperti hari-hari lainnya untuk menggembalakan domba, namun siapa sangka Daud  kemudian diurapi sebagai seorang Raja? Atau Musa, ia bangun hari itu untuk menggembalakan domba-domba ayah mertuanya, namun siapa sangka ia bertemu Allah yang merubah hidupnya menjadi pemimpin kelepasan suatu bangsa dari Mesir?
Dan penulis yakin Petrus pun tak pernah menyangka bahwa hari itu dirinya akan dipanggil menjadi penjala manusia. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa hidupnya bisa berubah dalam satu menit, padahal ia memulai hari itu sama seperti hari kemarin.

Demikian juga Ester, ia bangun pagi itu sebagai seorang gadis yatim piatu dibawah asuhan Mordekhai yang akan menjalani harinya dengan membereskan pekerjaan rumah tangga atau apapun yang biasa ia lakukan.

Ester hanyalah seorang gadis israel yang sedang berada dalam pembuangan bersama bangsanya ditengah bangsa yang tidak mengenal Allah. Namun kemudian tangan Tuhan membawanya masuk dalam suatu kerajaan yang bahkan sangat asing baginya. Ia dibawa masuk untuk dipersiapkan menghadap raja. Pemilihan putri Persia? sama seperti pemilihan putri Indonesia, para peserta putri Persia ini pun harus masuk masa karantina, tidak tanggung-tanggung setahun penuh dipersiapkan untuk sehari menghadap raja. Unik bukan? persiapan panjang untuk satu hari? Pernah nonton Penghuni Terakhir atau Survivor? Mungkin suasana disana seperti itu, setiap gadis berlomba-lomba untuk mempersiapkan trik menarik hati sang Raja…. penampilan yang menawan.. segala bentuk cara akan dipakai untuk menjatuhkan lawannya.

Satu hal yang menarik, Ester tak pernah menyebutkan kebangsaannya, bahkan saat ia telah diperkenan raja dan diangkat menjadi ratu. Ia taat pada ajaran Mordekhai. Suatu ketaatan yang luar biasa. Dari sini kita bisa melihat pribadi seperti apa Ester itu. Ketaatan dan kerendahan hati yang menawan….ia menjadi pribadi yang mampu untuk memegang janji, sesuatu yang tidak mudah kita temukan di zaman ini.

Tapi hidup ini adalah pilihan bukan? Bahkan meskipun Tuhan yang membawa kita masuk dalam suatu kejadian, kita bisa memilih untuk tidak berjalan dalam kehendaknya. Masih ingat Hawa dan pilihannya?? Sebuah pilihan yang mendatangkan maut bagi seluruh umat manusia. Demikian juga Ester, ia diperhadapkan pada pilihan yang sulit saat Mordekhai mengirim pesan tentang pemberangusan bangsanya yang akan direncanakan Haman dan telah disetujui Raja.
Jangan kira karena kita membaca di alkitab tentang pilihan ester yang luar biasa itu lantas kita pikir.. ia hebat bener ngambil keputusan. Penulis yakin kejadiannya tidak semudah yang kita baca.

Mari kita bermain-main dengan imajinasi kita….cobalah kilas balik kebelakang.. masuk dalam sejarah.. saat itu Ester, sang ratu mendapat kabar ada kedukaan dan perkabungan yang melanda israel… kabar yang mengejutkan!! Dan pesan yang ia dapat dari Mordekhai, ia diminta menghadap Raja dan meminta belas kasihan. Wuahh.. menghadap raja?? tanpa dipanggil?? upahnya MATI!!!

tapi kita tau jawab Mordekhai…. “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” Inilah sebuah jawaban iman seseorang yang mengenal Allah. Ia mungkin tidak datang dalam puting beliung atau api yang menyala-nyala.. namun Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan umatNya.

Ingat jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego saat akan dimasukkan dalam api?? “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Inilah iman orang-orang yang bukan hanya datang menyembah Allah dalam rutinitas atau kewajiban, tapi mereka sungguh mengenal siapa Allah yang mereka sembah. Cinta yang membawa pada ketaatan untuk setia dan tunduk pada kehendak Allah walau taruhannya nyawa…

Kembali pada Ester… Saat Ester menerima pesan ini…..apa yang ia pikirkan??? “wah.. mordekhai ini apa gak mikir kalo aku bisa mati?” atau mungkin ia berpikir “ah.. biarin ajah….mereka di luar istana ini.. aku khan ratu. Tak mungkin raja membunuhku selama aku tidak menentang dia”. Ester pasti mengalami kebimbangan itu…ia adalah ratu dalam segala kemewahannya… dalam segala kemudahan… untuk apa ia pusing memikirkan orang lain kalau dia bisa hidup tentram. Inilah yang sering terjadi di zaman kita. Orang-orang yang menyebut dirinya wakil rakyat, yang pernah berjanji untuk ingat pada rakyat… setelah merasakan kursi empuk di gedung wakil rakyat.. mereka lupa pada rakyat. Bahkan segala undang-indang bisa diplintir untuk membebaskan diri.. bahkan mereka pun makan uang rakyat. Ester diperhadapkan pada dilema ini. Ia memiliki lebih dari yg dimiliki para wakil rakyat itu. Persia itu kerajaan yang luar biasa besar…..dan kaya. Pesta ajah 6 bulan….tapi bagaimana kalau ia memang menjadi ratu untuk ini?? “ah masa bodoh.. toh udah jadi ratu ini”.

Tapi dalam waktunya yang singkat itu.. ia mengambil suatu keputusan diantara kegelisahan hatinya… “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Keputusan yang tidak mudah… namun itulah Ester, ia memilih untuk taat kepada Allah yang ia sembah… ia punya keyakinan bahwa Allah akan menolong dirinya. bahkan kalau tidak ditolong dan ia harus mati.. maka terjadilah.

Saat ia mengambil keputusan ini, saat itulah ia menundukkan kehendak pribadinya dibawah kehendak Allah. Simpelnya ester mengatakan,” oke.. ini aku… aku bersedia melakukan kehendakMu .. kuserahkan diriku sepenuhnya dalam tangan kekuasaanMu”. Itulah Ester…pribadi yang taat dan percaya. Ia bisa saja seperti Hawa memilih untuk tidak mengindahkan perintah Allah, namun ia memilih untuk tunduk. Seperti saat ia percaya apa yang dikatakan Mordekhai adalah yang terbaik baginya, ketika ia tidak boleh mengatakan identitas dirinya. Ia percaya dan taat untuk melakukan sesuatu yang bahkan harus ia bayar dengan nyawanya. Ia percaya kepada Allahnya meskipun ia mungkin tak pernah melihat Allah hadir seperti saat Musa membawa bangsanya keluar dari tanah perbudakan.

Bahkan ia sabar menantikan kehendak Allah. tidak percaya? Ia berpuasa 3 hari… puasa itu bukan buat diet biar tambah cantik di mata raja, melainkan mencari kehendak Allah. Bahkan saat menghadap raja, ia bukannya meminta kelepasan bagi bangsanya malah mengundang raja buat perjamuan dengan Haman. Padahal, raja sendiri menanyakan , “Apa maksudmu, hai ratu Ester, dan apa keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu.”

Hal yang sama terulang keesokan harinya.. ia menunda satu hari lagi untuk meminta. apakah ia takut?? ataukah ia peka akan kehendak Allah.. bahwa ini belum saatnya?? Inilah kepekaan orang-orang yang mengenal Allah. Lihatlah, malam itu dalam segala kejadiannya (Haman membuat tiang untuk mordekhai, raja tak bisa tidur dan mengetahui bahwa Mordekhai telah menolongnya, sampai Mordekhai dihormati keesokan harinya)….Tuhan bekerja dalam setiap kejadian seakan merajutnya sampai saat Ester menyatakan kebenaran dan permintaannya.. (duarrr inilah puncak semua itu….). Semuanya seperti telah diatur dalam sebuah symphoni untuk menggenapi rencana Allah. (baca deh ester 5-7)

Plihan Ester membawa kelepasan kepada bangsanya. Sebuah pilihan yang tepat namun mengandung resiko. Pilihan untuk memilih Allah masuk dalam kehidupannya. Bagaimana dengan diri kita… apakah saat kita mengambil sebuah keputusan, kita mau menundukkan kehendak kita dibawah kehendak Allah??

Sama seperti Ester… kita memulai hari kita biasa-biasa saja.. tapi yakinlah bahwa perjalanan kita tak pernah lepas dari rajutan jemari Allah…yang membentuk kita indah sesuai rencanaNya. Seringkali rencanaNya bukanlah rencana kita, namun dititik inilah kita akan belajar apa arti ketaatan. Dan ketaatan tidak akan lahir tanpa pengenalan yang benar akan Allah. Mungkin seluruh perjalanan kita dipersiapkan hanya untuk satu kejadian atau satu hari. Tapi seperti ester, ia tahu ia hanya satu orang didalam kerajaan itu bahkan ia tak punya kuasa untuk mengubah apapun… namun ia sadar bahwa ia tidak bisa berdiam diri.. karena ia bisa melakukan sesuatu.

Sekecil apapun itu.. lakukanlah sesuatu. Dan sesuatu itu, sekecil apapun kalau kita lakukan dalam kehendak Allah, maka ia tidak akan sia-sia.

“bahkan ditempat dan keadaan yang paling biasa.. di ruang pesta raja Ahasyweros yang penuh dengan kemabukan, keangkuhan, hawa nafsu… Allah ada disana merajut setiap kejadian untuk kesempurnaan rencanaNya.”

“kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati”. adakah kalimat ini akan kita perkatakan dalam hidup kita untuk menyatakan kebenaran??

_____________________________________________
*inspired by Esther : A Woman of Strength and Dignity, Charles R. Swindoll

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

Leave a Reply

%d bloggers like this: