“Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:5-6)

Henokh tidak pernah mengalami kematian, dan tulisan mengenai dirinya pun tak banyak, hanya beberapa ayat bagian dari silsilah keturunan Adam. Tapi walaupun singkat, sebenarnya kisah hidup Henokh dibuat dalam satu kesimpulan singkat yang sangat menarik. Ia hidup bergaul dengan Allah lalu ia tidak ada lagi sebab ia telah diangkat oleh Allah (kej 5: 24). Jika ia diangkat oleh Allah, berarti ia tidak mengalami kematian. Ada yang aneh??

Saat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, manusia pun mengalami kematian. Maut adalah buah dari dosa, nah kalau Henokh tidak pernah mati, berati ia tentunya sangat sempurna?? Tidak juga.. ia hanya manusia biasa yang merupakan keturunan Adam… dan merupakan manusia berdosa. Lantas bagaimana mungkin ia tidal mati? Nah disitulah letak keunikannya. Henokh hidup bergaul dengan Allah, dan sebelum ia diangkat ia memperoleh kesaksian kalau ia berkenan kepada Allah. Wow.. hebat khan… seperti apa sih berkenan dihadapan Allah?? Bagaimana seseorang bisa hidup berkenan dihadapan Allah?

Dalam Ibrani 11:6 dikatakan tanpa iman tak mungkin seseorang berkenan kepada Allah. Lantas apa itu iman? sekedar percaya?? Nope! Iman tidak sesimple itu. Iman punya komponen-komponen vital yang akan membawa kita dalam kehidupan yang layak dihadapan Allah. Iman itu mengandung ketaatan, penundukkan diri dan juga penyerahan hidup secara total kepada Tuhan. Nah. inilah yang seringkali menjadi pergumulan hidup kita, karena percaya bukan sekedar tau dan yakin tapi juga berani menyerahlan segala sesuatu yg ada dalam diri dan hidup kita ke tangan Tuhan. Bisa nggak? Inilah yang menjadi gaya hidup Henokh. Dua kali dalam kitab kejadian disebutkan Henokh hidup bergaul dengan Allah (Kej 5:22,24), selama hidupnya .. yang 365 tahun itu.

kebayang khan.. 365 tahun masa hidupnya dan ia bergaul dengan Allah. Bukan sekedar sehari dua hari. Berarti Henokh benar-benar mengenal siapa Allah yang ia sembah. Mungkin bisa dikatakan seperti seorang sahabat mengenal sahabatnya… atau kekasih yang mengenal diri kekasihnya luar dalam.. atau sebagai anak yg benar-benar mengnal keinginan Bapanya. Itulah yang ada dalam hubungan Henokh dengan Allah.. dan dimata Tuhan.. Ia berkenan atas Henokh. Dan akhirnya ia diangkat….

Pengangkatan.. sangat indah kalau kita mengalami semua itu,, dan tak perlu melewati kematian. Hampir semua manusia takut menghadapi kematian. Sesuatu yang alami ketika dalam masa-masa akhir hidupnya, seorang manusia mulai mencari Allah…kesadaran di titik akhir hidup manusia. Karena pada dasarnya disaat-saat seperti itulah manusia mulai menyadari bahwa ia tak mampu mengendalikan kehidupannya sendiri… dan ia tak tau kemana ia akan melangkah.

Kematian.. akhir kehidupan.. ataulah awal sebuah kehidupan? kematian… Kristus pun pernah mengalaminya.. kematian di salib selama 3 jam. Bukan kematian tubuh.. tappi kegelapan yang sangat kelam ketika Bapa berpaling dariNya. Itulah kematian yang akan dijelang manusia jika ia tidak mengenal Allah. Kematian.. tempat dimana segala kejahatan dan dosa berkumpul jadi satu… membayangkannya saja, penulis tak mampu. Ketika kita berada dalam suasana yang penuh kejahatan atau mungkin mistik.. rasanya sangat tak nyaman. Nah bagaimana kalau kejahatan seluruh dunia tertumpah jadi satu, disuatu tempat dan tanpa ada batas akhirnya???

Kita semua pasti menghadapi kematian… namun kemanakah kita sesudah kematian? atau apa yang akan kita hadapi dalam kematian itu? Sinetron-sinetron sekarang selalu menampilkan kehidupan seseorang yang jahat dan akibat yang harus a tanggung dalam kematian, seperti gak bisa dikubur.. kuburannya penuh ular, atau tiba2 dijemput malaikat maut yang jahat dan tidak ada kedamaian saat meninggal. Intinya banyaklah ketakutan yang digambarkan untuk kematian seseorang yang jahat. Sementara yang baik akan meninggal dalam damai.. dijemput malaikat yang baik dll. Lantas bagaimana sebenarnya?

Dalam kisah Lazarus, digambarkan saat ia meninggal ia berada dalam pangkuan Abraham dan si orang kaya kikir itu menderita sengsara di alam maut. neraka juga digambarkan sebagai lautan api. Namun ada satu hal yang pasti… kematian bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah keterpisahan kekal dari Allah. Nah kematian yang pernah dialami Kristus Yesus inilah yang harus Ia lalui untuk kita. Tebusan atas apa yang seharusnya kita lalui.

Betapa menyenangkan hidup seperti Henokh yang mengalami pengangkatan dan tak perlu mengalami kematian? tanpa iman orang tak mungkin berkenan kepada Allah… dan dalam ayat ini juga dikatakan “sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”.

Kita bisa mengenal Allah dan hidup didalamnya jika kita mau menerima panggilanNya, kalau kita mau datang mendekat kepadaNya dan percaya padaNya. Percaya dalam artian benar-benar mempercayakan seluruh kehidupan kita dalam pemeliharaanNya. Percaya berarti kita tidak ragu kepada Allah. tidak ragu pada rencanaNya… walau dihadapan kita harus ada badai yang dilalui.. walau saat itu kita harus terhempas berulang kali. percaya… berarti tidak ragu untuk menyerahkan seluruh keputusan kita kedalam tanganNya.. percaya berarti tidak ragu dan tegar tengkuk untuk tunduk pada pimpinan dan kehedakNya. Dan Ia memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Itulah reward / hadiah yang didapat Henokh dari kehidupannya yang bergaul dengan Tuhan…

Yang dikehendaki Tuhan hanyalah respon kita akan panggilanNya, akan sapaanNya… kita tak akan pernah mengenal Allah kalau kita sendiri tak pernah membangun hubungan pribadi denganNya.Tanpa adanya keterikatan pribadi dengan Bapa… kita tak akan pernah mengenal dan peka akan kehendakNya….

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepadaNya selama Ia dekat. (Yes 55:6)