Just Let it Go

Seperti sungai yang dibendung, kasih Allah bisa saja berhenti mengalir. Berhenti sesaat atau mungkin bertahun-tahun atau juga selamanya. Padahal sebenarnya kasih Allah rindu untuk mengalir, tumpah ruah masuk dalam kehidupan manusia dan mengiring setiap anak-anak Tuhan masuk dalam rencana ilahi Allah. Tapi kasih itu terhenti.. Tuhan seakan pergi meninggalkan manusia, berpaling dan tak lagi memberikan senyumnya. Akhirnya muncul pertanyaan.., mengapa Tuhan? mengapa aku tak lagi Kau berkati? tapi seringkali manusia lupa bertanya pada dirinya sendiri mengapa kasih Allah tak lagi ia rasakan? mengapa hubungan dengan Tuhan seperti suatu rutinitas palsu yang dijalani hari demi hari. Siapa sesungguhnya yang merintangi kasihNya? Jawaban itu ada dalam diri kita masing-masing. Kebiasaan-kebiasaan yang mengakibatkan hidup ini terbatas pada kekecewaan serta harapan yang tak terpenuhi itulah yang menghalangi kasihNya.

Egoisme manusialah yang membuat dirinya tak lagi peka dengan kehadiran Allah. Kadang kita memperlakukan Allah seperti seorang pembantu yang harus menyediakan setiap permintaan kita. Bagi manusia, berkat dan kasih Allah hanyalah untuk dirinya sendiri. Padahal apa yang Allah berikan bukan hanya untuk satu pribadi, melainkan lewat satu pribadi kasih itu dinyatakan untuk membawa orang-orang yang ada disekeliilingnya juga mengenal kebesaran Allah.

Saat keinginan manusia tidak tercapai… yang ada hanya kekecewaan dan juga kekawatiran. Saat kekawatiran mengambil alih situasi hati manusia, saat itulah aliran kasih dan berkat Allah tak lagi bisa mengalir. Kekawatiran membuat manusia mencari jalannya sendiri. Dia lupa bahwa Allah menyediakan segala sesuatu. Kekawatiran, kekecewaan, kebiasaan-kebiasaan, pengharapan yang salah, kesalahan masa lalu… semua ini yang membawa manusia berpusat pada dirinya. Walaupun kita tahu bahwa Allah menyediakan segala sesuatu namun ada satu sisi yang selalu membuat kita mencoba menyelesaikan semuanya sendiri. Kita takut untuk menyerahkan masalah-masalah kita, ketakutan kita, kegagalan kita dan bahkan keberhasilan kita pada Allah. Kita hanya berkata untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan tapi dalam kehidupan kita, seringkali kita masih mencoba memegang satu bagian kecil entah apapun itu bentuknya. Tuhan menghendaki kita menyerahkan segala beban kita kepadaNya.

Di salib itu Ia telah membayar lunas dosa manusia.
Di salib itu Ia telah membangun sebuah jembatan dimana kita sebagai manusia bisa memiliki hubungan yang indah denganNya.
Di salib itu Ia ingin kita melibatkan diriNya sepenuhnya dalam kehidupan kita.
Di salib itu Ia ingin kita sepenuhnya percaya padaNya.

Lepaskanlah semua masalah, lepaskanlah semua kekecewaan, pengharapan yang slaah, ketakutan, kekawatiran dan juga dosa.. lepaskanlah dan serahkan pada Yesus. Pusatkanlah hidup ini hanya kepada kuasa dan kasih Allah bukan pada ketidakmampuan sebagai manusia. Ketika itu terjadi, kasih Allah akan mendobrak masuk dalam kehidupan dan memberi keyakinan pada kehiduan yang sepenuhnya berserah kepada Tuhan. Biarkanlah aliran kasih Allah membawamu dalam pertemuan yang indah dengan Allah, yang memperbaharui setiap sisi hidupmu. Karena pertemuan pribadi dengan Tuhan akan membawa manusia untuk mengenal kelemahan-kelemahan dirinya dan juga memperlihatkan kalau dalam kelemahanlah kasih Karunia Allah bekerja sempurna. Didalam pertemuan pribadi yang dekat dan hangat disanalah jiwa yang paling kering sekalipun akan disegarkan kembali… dan sukacita akan terpancar dalam seluruh kehidupan manusia. Bahkan didalam lorong paling gelap sekalipun, sukacita itu takkan pernah hilang.

just let it go.. and find yourself in His presence with His glorious love and mercy.

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

Leave a Reply

%d bloggers like this: