Keberadaan Hilal awal Ramadhan 1427 H menjadi penentu awal shaum Ramadhan 1427 H umat Islam. Waktu kelahiran hilal Ramadhan, sabit Bulan yang sangat tipis dan bisa disaksikan dengan mata bugil manusia, selalu didahului dengan fenomena Ijtimak (atau konjungsi Bulan) akhir Syaban. Fenomena ijtimak atau konjungsi akhir Syaban 1427 H akan berlangsung pada hari Jumat, tanggal 22 September 2006 jam 18:46 wib (11:46 UT) yang bertepatan dengan tanggal 29 Syaban 1427 H menurut taqwim standart di Indonesia. Jumlah hari minimal dalam satu bulan Islam 29 hari dan paling banyak 30 hari.
Indonesia menganut sitem Hisab Rukyat dalam penetapan awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, oleh karena itu beralasan bila rukyat Dep Ag akan dilaksanakan pada hari Jumat, 22 September 2006 untuk memastikan apakah bulan Syaban 1427 H terdiri 29 hari atau 30 hari.
Pelaksanaan rukyat itu di tempat-tempat yang umum seperti Pos Pengamatan Bulan di pelabuhan Ratu atau tempat-tempat lain yang bisa menyaksikan Matahari terbenam di horizon Barat dan bila wajah kita menghadap ke arah titik Barat, horizon Barat mempunyai kelapangan pemandangan sekitar 30 derajat ke arah kiri dan kanan dari titik Barat. Kelapangan horizon itu untuk mengakomodasi posisi ekstrim Bulan yang bisa mencapai deklinasi +28.5 derajat maupun 28.5 derajat. Hilal pada umumnya akan muncul diantara awal waktu Maghrib dan awal waktu Isya dengan tinggi kurang dari 20 derajat.
Posisi Bulan Bila pada tanggal 22 September 2006 ada pengamat hilal yang berhasil melihat hilal maka Syaban 1427 H hanya terdiri 29 hari dan bila tidak berhasil melihat hilal maka Syaban 1427 H akan terdiri dari 30 hari. Sidang itsbat DepAg RI untuk menetapkan 1 Ramadhan 1427 H juga akan berlangsung pada hari Jumat 22 September 2006.
Hilal Awal Ramadhan 1427H
Untuk melihat kemungkinan apakah hilal awal Ramadhan 1427 H akan bisa disaksikan pada tanggal 22 September 2006 dapat dipergunakan informasi kedudukan atau posisi Bulan pada waktu terbenam Matahari. Di seluruh wilayah Indonesia posisi Bulan pada saat Matahari terbenam pada tanggal 22 September 2006, Bulan telah di bawah horizon. Pada tanggal 22 September 2006 Bulan terbenam lebih dulu, kemudian baru disusul terbenam Matahari. Sebagai contoh di Pelabuhan Ratu tinggi Bulan saat Matahari terbenam adalah 02°09′[ baca 2 derajat 9 menit busur di bawah horizon]. Matahari terbenam pada jam 17:50 wib dan Bulan terbenam 6 menit sebelumnya yaitu pada jam 17:44 wib. Begitupula di Banda Aceh yang berkedudukan di bagian “ujung†Barat wilayah hukum Indonesia kedudukan Bulan saat Matahari terbenam mempunyai kedudukan 1° 6′ atau Bulan telah terbenam 5 lebih dulu sebelum Matahari terbenam pada jam 18:35 wib.
Jadi menurut analisa posisi astronomi Bulan dan Matahari pada tanggal 22 September 2006 adalah tidak mungkin menyaksikan hilal dari wilayah seluruh Indonesia. Pertama adalah waktu Bulan terbenam, fenomena ijtimak belum berlangsung dan oleh karena itu tidak mungkin melihat hilal sebelum konjungsi berlangsung. Alasan kedua mustahil menyaksikan hilal pada tanggal 22 September 2006 dari wilayah Indonesia adalah waktu Matahari terbenam, Bulan sudah terbenam terlebih dulu. Salah satu sarat agar bisa melihat hilal dengan mata bugil bila langit senja sudah mulai meredup sekitar 10 15 menit setelah waktu maghrib dan pada saat itu Bulan masih berada di atas ufuq atau belum terbenam.
Jadi menurut analisis posisi Matahari dan Bulan pada tanggal 22 September 2006, fisik hilal awal Ramadhan 1427 H dengan luas sabit Bulan sekitar 1% baru dapat disaksikan di horizon barat pada tanggal 23 September 2006 antara awal maghrib dan awal Isya. Awal Bulan Ramadhan 1427 H dimulai pada hari Sabtu tanggal 23 September 2006 setelah maghrib. Shalat Tarawih dimulai tanggal 23 September 2006 dan awal Shaum Ramadhan 1427 H dimulai hari Ahad tanggal 24 September 2006. Berdasarkan fakta posisi Bulan dan Matahari pada ijtimak akhir Syaban 1427 kemungkinan besar bulan Syaban 1427 H diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari.
Hilal Awal Syawal 1427 H
Untuk menjawab pertanyaan berapa lama shaum Ramadhan 1427 H akan berlangsung, 29 hari ataukah 30 hari, dapat dipergunakan analisis posisi Bulan dan Matahari? Ijtimak (atau konjungsi Bulan) akhir Ramadhan 1427 H akan berlangsung pada hari Ahad, 22 Oktober 2006 jam 12:15 wib (05:15 UT) bertepatan dengan hari ke 29 bulan Ramadhan 1427 H. Merukyat hilal oleh DepAg RI kemungkinan akan dilaksanakan 22 Oktober 2006 untuk memastikan apakah hilal penutup Ramadhan 1427 H telah hadir disaksikan oleh mata bugil manusia? Sidang itsbat DepAg RI kemungkinan besar juga akan diselenggarakan pada tanggal 22 Oktober 2006.
Posisi Bulan pada saat Matahari terbenam pada hari Ahad tanggal 22 Oktober 2006, di sebagian wilayah Indonesia Bulan masih berada di bawah ufuq dan sebagian lainnya di atas ufuq. Secara umum posisi Bulan saat Matahari terbenam mempunyai ketinggian antara 00° 30′ hingga kurang dari 1 derajat.
Sebagai contoh di Pelabuhan Ratu tinggi Bulan saat Matahari terbenam adalah +00° 12′ atau Matahari terbenam pada jam 17:47 wib dan Bulan terbenam 4 menit kemudian yaitu pada jam 17:51 wib. Di Banda Aceh tinggi Bulan pada waktu Matahari terbenam + 0° 21′ atau Bulan terbenam 1 menit setelah Matahari terbenam pada jam 18:22 wib.
Walaupun pada tanggal 22 Oktober 2006 posisi Bulan saat Matahari terbenam masih di atas ufuq kurang dari 2 derajat. Menurut pengalaman empiris dan analisa astronomi kondisi cahaya senja terlalu terang untuk bisa melihat sabit Bulan, sehingga sabit Bulan yang sangat tipis tidak bisa dilihat oleh mata bugil manusia sebagai hilal. Dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin menyaksikan hilal awal Syawal 1427 H dari wilayah seluruh Indonesia pada tanggal 22 Oktober 2006. Fisik hilal awal Syawal 1427 H dengan luas sabit Bulan sekitar 2% baru dapat disaksikan di horizon barat pada tanggal 23 Oktober 2006 antara awal maghrib dan awal Isya. Berdasarkan fakta posisi Bulan dan Matahari pada ijtimak akhir Ramadhan 1427 kemungkinan besar bulan Ramadhan 1427 H diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari.
Penetapan awal Bulan Islam di Indonesia yang juga mengadop kriteria bila tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam di atas atau sama dengan 2 derajat maka bisa ditentukan telah memasuki awal bulan Baru. Oleh karena itu Ramadhan 1427 H di Indonesia kemungkinan besar akan berakhir pada tanggal 23 Oktober 2006 setelah maghrib dan Shalat Ied 1 Syawal 1427 H dilaksanakan 24 Oktober 2006. Jadi menurut analisis posisi Bulan dan Matahari shaum Ramadhan 1427 H berjumlah 30 hari.
Sebagian umat Islam di Indonesia dalam menetapkan awal Bulan Islam di Indonesia ada yang mengadop kriteria bila Bulan pada saat Matahari terbenam masih di atas ufuq [ walaupun kurang dari 2 derajat ] bisa dipergunakan sebagai acuan penetapan telah memasuki awal bulan Baru. Bagi yang menggunakan kriteria tersebut kemungkinan akan mengawali shaum Ramadhan 1427 H secara bersamaan dan mengakhiri shaum Ramadhan 1427 H sehari lebih cepat.
Ramadhan 1427 H telah tiba, Ibadah Ramadhan bagi umat Islam bertujuan mencapai prestasi spiritualitas yang lebih tinggi meningkatkan ke taqwaan manusia, membersihkan jiwa & harta, mendekatkan diri sebagai ungkapan cinta seorang hamba kehadirat Allah swt melalui shaum Ramadhan yang ihlas dan paripurna. Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan 1427 H semoga sukses di dunia dan di akherat.
Dr. Moedji Raharto
Anggota Kelompok Keahlian Astronomi FMIPA ITB
Dan Staf Pengajar Prodi Astronomi FMIPA ITB
Lembang, 18 September 2006





kepada seluruh ummat manusia indonesia saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa dan banyak2 lah beramal sholeh……..wassalam….
kepada seluruh warga Astronomi ITB, selamat menyambut idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin
Kepada seluruh warga Pendem,kelTrukan,Praci dan alumnus SMEA Pancasila 90 Praci - Wonogiri Selamat Menyambut hari Raya Idul Fitri Mohon di Maafkan Segala Kesalahan dan Kekilafan.
selamat berpuasa, utk rekan2 alumni bio 84 Universitas Andalas
Met lebaran 1 Syawal 1427 H !! Taqoballahu mina wa minkum…tuk alumni FP Unsri Ilmu Tanah 1994!
“Taqoballahu mina wa minkum, shiyamana wa shiyamakum” semoga di lebaran ini, hari idul fitrinya tidak terjadi perbedaan.
kendal kaline wungu, ajar kenal karo aku… boja nyaine dapu
syawalan….syawalan…. puasa ramadhan lanjutkan puasa syawal selayak puasa setahun… amin maaf lahir batin kami juga memaafkan.
sesungguhnya wujudul hilal pada tanggal 22 oktober sudah berwujud. sehingga 1 syawal adalah tanggal 23 oktober 2006
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi seulruh lulusan LPKIJ BANDUNG 1995, Tak lupa untuk seluruh teman sma 3 sukabumi SOS 3.4 TAHUN 1994…
wilujeng saum ka sadayana….
Tuk Sipil ITENAS Bdg dan sobat-sobat semua:
Sedih jeung bungah ngacik na rasa, mapag bulan kabagjaan. Bagea…, ya Allah Jantenkeun puasa ieu keur tiasa hampura.. jeung lawang Sorga abdi sadaya..Amin Ya Robbal Alamiin..
Selamat Hari Idul Fitri 1427 H untuk seluruh ummat muslim di seluruh dunia. Khususan untuk alumni Fakultas Kedokteran Unlam angkatan 92. Maaf Lahir dan Bathin.
Islam mestinya agama yang berkembang dan tidak menafikkan teknologi. kalau jaman rosulullah tidak bisa melihat hilal yang kurang dari 2 derajat karena dengan mata telanjang, sekarang sudah ada teropong yang mampu melihat hilal kurang dari 2 derajat, lalu kenapa kita tidak pakai teropong, toh kita sama-sama melihat. Kalau penglihatan kita hanya berdasarkan mata telanjang saja, maka islam tidak akan maju-maju.
Saya yakin, kalau sudah ada teropong pada jaman rosul, niscaya beliau akan gunakan alat tersebut utk melihat hilal.
apapun lebarannya, usahakannya rayainnya bareng-bareng
minal aidin wal faidzin untuk semuanya khususnya yang di banua etam (samarinda)
Selamat Hari Raya Aidil Fitri 1427 H
Mohon Maaf Lahir & Bathin.
ASSALAMU’ALAIKUM…Selamat Iedul Fitri 1427 H
Mari kita mulai melangkah pada persatuan umat, qiblat kita sudah pasti di kota Mekkah Ummul Quro, Induknya kota kota.
Penentuan waktu telah kita sepakati bersama antar negara OKI.
penentuan waktu berdasar GMT ada selesih, begitu pula WIB.
Taqoballah minna wa minkum..:-)
Taqobalallahu mina wa minkum.
23 atau 24 Oktober, sama-sama ada dasarnya.
Taqoballahu mina wa minkum, Minal Aidin wal Faizin…
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin
kepada :
Keluarga besar Universitas Muhammadiyah Ponorogo
selamat lebaran ya….maaf lahir bathin ya…
Sebagai hamba Allah yang Dhoif, setelah adanya usaha secara maksimal untuk meyakini 1 Syawal, hendaknya lebih bijaksana mensikapinya. Dan kepada pemerintah diharapkan jangan terlalu cepat menentukan kapan jatuhnya 1syawal. untuk mengambil posisi amannya lebih baik dikalender Nasional di tetapkan 2 hari kemungkinan. Karena penetuan mutlak jatuhnya 1 ramadhan maupun 1 Syawal adalah hilal bukan hisab.
Semoga amal ibadah dibulan Ramadhan yang kita jalani diterima Allah SWT. amiin.
Taqoballaahu minna wa minkum.Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh umat Islam saudaraku dimana saja berada.Janganlah perbedaan ini menjadi alasan kita untuk menyatakan kitalah yang benar,kitalah yang lebih baik.Semua kita ambil hikmahnya.Semoga Allah mengampuni kita sehingga dengan puasa 1 bulan kita dapat meningkatkan kualitas hidup yang berstandar pada Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
artikelnya sangat bagus. ada beberapa pertanyaan: apakah penentuan kalender bulan bisa disamakan di seluruh negara? jika menggunakan metode hisab saja, apakah 1 syawal di indonesia bisa disamakan waktunya dengan 1 syawal di amerika serikat misalnya? atau dengan kata lain, apakah metode hisab memungkinkan menetapkan awal ramadan dan awal syawal pada hari yang sama di seluruh negara? apakah penentuan hisab bergantung pula pada keadaan geografis atau iklim suatu negara?
trims.
>>> Taqabalallahu minnaa wa minkum, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin
Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal ‘Aidin wal Faizin, Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh umat Islam dimana saja berada. Adanya perbedaan ini adalah biasa, selagi kita masih dalam kerangka “makhluk”, bukan “khalik”. Justru, mungkin karena perbedaan inilah, maka ada satu kebenaran dibaliknya yg mana kita manusia diberi Allah kemampuan berbeda2 untuk memahaminya.
Seorang Ali Manikfan dari India (Bernama, 21/10/2006) berkata, “Islam is the most advanced and scientific religion. It is impossible to believe that prophet Muhammad would instruct his followers in this age of science and technology to search for the new moon with their naked eyes when lunar and solar dates can be determined in advance on the basis of scientific calculations”. Suatu pemahaman yg barangkali ada benarnya juga dari sudut pandang expert dari India itu.
Yang penting, selagi kita masih tetap berpedoman pada Qur’an dan Sunnah Rasul SAW, perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1427 H akan menambah khasanah dan wawasan ke-Islaman kita, Insya Allah…
minal aidin wal faidzin,mhon maaf lahir bathin.mari jadikan setiap perbedaan yang ada pada kita sebagai anugrah demi kesatuan umat.
Perbedaan menjadikan manusia memperoleh pilihan, dan untuk menentukan pilihan harus dengan pengetahuan. jangan hanya taqlid dan ikut2an.
ass,saya mau tanya kenapa ya menjelang mau lebarankok tidak sama hari raya nya kenapa ya?apakah ada ajaran yang lain ya
ok, goods