Bila langit cerah umat Islam di Indonesia baru bisa melihat fisik Hilal awal Ramadhan 1427 H pada hari Sabtu tanggal 23 September 2006 antara waktu Maghrib dan Isya. Malam pertama mengawali shalat tarawih Ramadhan 1427 H, dan puasa Ramadhan 1427 H (dari terbit fajar subuh hingga terbenam Matahari) baru dimulai pada tanggal 24 September 2006. Pelaksanaan pengamatan hilal atau merukyat hilal 22 September 2006 untuk memastikan apakah bulan Syaban 1427 H terdiri dari 29 hari atau 30 hari, dapat dipastikan tidak menemukan obyek langit Hilal.
Ada dua alasan penting tidak adanya hilal pada saat Matahari terbenam 22 September 2006, karena pada waktu Bulan terbenam proses ijtimak belum terjadi dan Bulan terbenam sebelum Matahari terbenam. Kalau ada yang mengaku melihat hilal, maka sudah dipastikan salah, obyek yang dilihatnya bukan hilal.
Hilal Ramadhan 1427 H akan nampak pada momen Matahari â€di ekuinokâ€, dinamakan Hilal Ekuinok. Penyebutan ini untuk membedakan dengan penampakan hilal lainnya. Hilal Ekuinok merupakan fenomena yang langka, kehadiran hilal di saat Matahari berada di arah ekuinok. Penampakan Hilal yang berlangsung pada tanggal 21 Maret (titik musim semi) atau 23 September (titik musim gugur) merupakan hilal ekuinok. Momen Matahari di ekuinok, berarti Matahari akan berada di atas horizon selama 12 jam dan di bawah horizon selama 12 jam, siang dan malam hampir sama panjangnya. Karena Hilal-Ekuinok maka kedudukan Bulan Purnama [7 Oktober 2006] pada pertengahan Ramadhan 1427 H diharapkan berperan seperti Matahari. Bulan akan menjadi penerang malam, berada di atas horizon permukaan Bumi selama hampir 12 jam.
Hilal awal Ramadhan 1427 H di wilayah Indonesia paling cepat akan disaksikan pada tanggal 23 September 2006. Pada tanggal 23 September 2006 pada jam 11: 05 wib, kedudukan Matahari tepat di titik ekuinok musim gugur. Pada tanggal 23 September Matahari membagi penyinaran merata pada seluruh belahan Bumi Utara dan belahan Bumi Selatan. Di ekuator dan di kawasan subtropis Matahari berada di atas horizon selama 12 jam.
Ijtimak Akhir Syaban 1427 H di Musim Gerhana
Kelahiran hilal sebagai pergantian Bulan Islam diawali dengan fenomena ijtimak atau konjungsi. Konjungsi atau ijtimak merupakan kedudukan Bulan dan Matahari dalam satu bujur ekliptika yang sama. Keistimewaan Hilal Ramadhan 1427 H lainnya adalah ijtimak Akhir Sya’ban 1427 H dalam musim gerhana. Momen ijtimak berlangsung pada saat berlangsung Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 22 September 2006. Menurut perhitungan astronomi momen ijtimak itu akan berlangsung pada hari Jum’at tanggal 22 September 2006, jam 18:46 wib (11:46 UT). Momen ijtimak akhir Sya’ban 1427 H berada pada musim gerhana kedua tahun 2006. Ijtimak akhir Sya’ban 1427 berlangsung pada momen di sekitar pertengahan Gerhana Matahari Cincin 22 September 2006 (GMC September 2006) yang akan berlangsung pada jam 18:40 wib. Bagi penduduk yang berdiam di wilayah Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena GMC tersebut. Sebagian besar jalur GMC 22 September 2006 berada di lautan Atlantik, pantai barat Afrika dan pantai timur Amerika Selatan akan menyaksikan momen gerhana Matahari Sebagian.
Fase Bulan yang menghilang di langit
Bulan menjelajah lebih jauh ke belahan langit Utara dan Selatan. Musim gerhana dan kedudukan Matahari di titik musim gugur, berakibat bahwa kedudukan Bulan di langit bisa mencapai ekstrim paling selatan dan paling Utara. Bagi penduduk di Indonesia akan menyaksikan Bulan pada fase kuartir pertama 30 September 2006 di langit selatan 28.5 derajat. Pada momen kuartir terakhir 13 Oktober 2006 Bulan mempunyai deklinasi + 26° 40′ . Tidak semua pengamat pada belahan langit Utara mengamati momen Bulan separuh atau kuartir pertama, misalnya bagi yang mengamati Bulan di lintang Utara 70 derajat. Akibat posisi ekstrim Bulan, pengamat di belahan langit selatan maupun utara tidak menyaksikan secara lengkap fase-fase Bulan, seolah Bulan hilang dari peredarannya. Beruntung bagi yang berdiam di Indonesia semua fase penting Bulan bisa disaksikan dengan baik termasuk bila terjadi momen hilal Ekuinok. Pada fase purnama bulan terbit sekitar 10 derajat Utara titik Timur [tempat matahari terbit di titik ekuinok musim gugur, 23 September 2006] dan terbenam 10 derajat Utara dari titik Barat [tempat Matahari terbenam di titik ekuinok musim gugur, 23 September 2006]. Pengamat Bulan Purnama tak banyak yang merasa kehilangan Bulan di langit , karena kedudukan Bulan relatif dekat dengan ekuator, tidak seperti fase kuartir pertama Bulan mempunyai posisi yang menjauh dari ekuator langit dan membuat kesan fase Bulan kuartir pertama menghilang di langit.
Semarak Planit di sekitar Hilal
Hilal lahir setelah musim gerhana berarti kedudukan Bulan masih di sekitar ekliptika. Sementara itu planet juga berkedudukan dekat dengan ekliptika dan kebetulan beberapa planet terang akan nampak di sekitar hilal Ramadhan 1427 H, yang paling dekat adalah planit Mars, planet yang berwarna kemerahan. Bagi pengamat di Banda Aceh misalnya posisi Hilal, dengan luas sabit Bulan sekitar 1% dan jarak bulan 405983 km, mempunyai tinggi : + 7° 56′ dan Azimuth : 263° 27′, sedang planet Mars [ skala terang V = 1.7] pada ketinggian : + 8° 00′ dan Azimuth: 265° 49′ kemudian Merkurius [ skala terang V = 0.3 ] pada ketinggian : + 13° 50′ dan Azimuth: 261° 16′. Hilal, Mars dan Merkurius di arah rasi Virgo dekat dengan bintang paling terang alfa Virginis atau Spica. Sedangkan yang lebih atas lagi (dari horizon) adalah Jupiter obyek yang paling terang di ufuq barat [ skala terang V = 1.8 ] pada ketinggian : + 39° 27′ dan Azimuth: 243° 45′ di arah rasi Libra. Di seluruh wilayah Indonesia jajaran planet setelah Matahari terbenam pada tanggal 23 September 2006 di dekat ekliptika akan memandu arah melihat fisik hilal yang cukup rendah di arah horizon barat.
Sedang bagian timur langit sebenarnya terdapat planet yang lemah Uranus [ V = 5.7] [ tinggi : + 16° 13' dan Azimuth: 99° 49' ] di rasi Aquarius, dan Neptunus [V = 7.9] [ tinggi : + 37° 5' dan Azimuth: 114° 41' ] di rasi Capricornus. Begitu pula planit kerdil Pluto [ V = 13.9] pada ketinggian : + 67° 11′ dan Azimuth: 198° 14′ di arah perbatasan rasi Ophiuchus dan rasi Sagittarius. Awal Ramadhan 1427 H masih di musim kemarau panjang, langit mudah-mudahan cerah. Selamat menikmati pemandangan langit Barat yang bermakna. Kesempatan melihat sosok hilal awal Ramadhan 1427 H hanya sekitar 30 menit setelah Matahari terbenam. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1427 H semoga mendapat limpahan berkah Ramadhan.
Dr. Moedji Raharto
Anggota Kelompok Keahlian Astronomi FMIPA ITB
Dan Staf Pengajar Prodi Astronomi FMIPA ITB
Lembang, 19 September 2006





Trackbacks & Pingbacks