47 Ursa Mayoris dan Tata Surya

Posted by : ivie   26 Sep, 2006

Seringkali kita bertanya-tanya apakah tata surya merupakan satu-satunya sistem di alam semesta yang memiliki fenomena kehidupan. Luasnya kosmos, memberikan ruang baru bagi para astronom untuk terus mencari. Sebuah laboratorium besar, yang bahkan para penelitinya pun tak mampu untuk memegang benda yang diamati. Penemuan planet extrasolar menjadi fenomena menarik yang terus dikembangkan untuk memenuhi keingintahuan manusia tentang alam semesta. Tak ada org yang tak tertarik untuk mencari tau keberadaan kehidupan lain yang menemani kita dalam samudera angkasa yang luas.

Tahun 1995 menjadi awal bagi sejarah panjang pencarian, setelah Mayor & Queloz mengumumkan penemuan planet yang mengorbit bintang yang serupa Matahari, Pegasi 51. Penemuan terus berlanjut diikuti dengan ditemukannya sistem majemuk yang memiliki lebih dari 1 planet. Salah satunya ditemukan pada bintang 47 Ursa Mayoris yang berada pada rasi Biduk Besar, dengan 2 planet penggiringnya. Bintang 47 Ursa Mayoris dapat terlihat bila kita tinggal di belahan bumi utara.

Karakteristik 47 Ursa Mayoris
Menurut sejarah amerika, rasi biduk besar atau yang juga disebut rasi beruang besar merupakan penunjuk arah utara bagi para budak afro-amerika yang melarikan diri dari perbudakan didaerah selatan sebelum pecah perang saudara. Pada saat itu, ribuan budak kulit hitam melarikan diri menuju utara, tempat yang telah terlebih dulu membebaskan para budak. Mereka melakukan perjalanan pada malam hari dan istirahat disiang hari agar tidak tertangkap kembali. Untuk menuju utara, mereka menggunakan bintang Biduk sebagai penunjuk arah, dengan memberi pesan berantai untuk “mengikuti labu yang sedang minum” sebuah pola perbintangan yang menunjuk ke Bintang Utara. Pesan ini disampaikan dalam bentuk lagu patriotik Follow The Drinking Gourd, yang menjadi semangat untuk menuju tanah pembebasan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kebanyakan orang Amerika kini menyebut pola itu sebagai pola Gayung Besar.

Bintang 47 Ursa Mayoris terbentuk kira-kira 7 miliar tahun yang lalu dan berjarak 46 thn cahaya dari bumi. Karakteristik bintang 47 Ursa Mayoris mirip dengan matahari, karena masih mengalami pembakaran hidrogen ditandai dengan keberadaannya pada kelas spektrum G0V (matahari berada pada kelas G2V). Selain itu Ursa Mayoris juga memiliki komponen logam dan suhu permukaan yang sama dengan matahari. 47UMa memerlukan waktu 24 hari untuk berotasi mengelilingi dirinya sendiri, tidak jauh berbeda dengan periode rotasi matahari.

Planet Penggiring 47 Ursa Mayoris
Pencarian untuk menemukan planet yang mengiringi 47UMa dimulai pada tahun 1987, dengan menggunakan teknik kecepatan radial yang memanfaatkan efek Doppler. Metode ini digunakan karena jarak bintang 47UMa yang jauh dari bumi, sehingga bila bintang ini memiliki planet, para pengamat tidak dapat melihatnya secara visual.

Dengan teknik kecepatan radial, para pengamat meneliti variasi yang terjadi akibat gerak bintang yang mendekat dan menjauh saat mengitari titik pusat massa (tpm) bersama komponen lainnya. Jika ada benda lain disekitar bintang yang saling memberikan pengaruh gravitasi satu sama lain, maka gerak bintang terlihat bergelombang terhadap gerak tpm sistem yang bergerak segaris.

Tahun 1996, planet pertama 47UMa yakni 47UMa (b) ditemukan oleh Marcy & Butler, disusul planet kedua [47UMa (c)] pada tahun 2001. Lintasan orbit ke-2 planet hampir membentuk lingkaran, namun planet dalamnya memiliki lintasan yang lebih lonjong dibanding planet terluar. Waktu yang diperlukan keduanya untuk mengitari bintang, jauh lebih lama dari bumi yaitu sekitar 2.9 dan 7 thn, sementara bumi hanya membutuhkan waktu setahun. Selain itu perbandingan massa dan periode orbit kedua planet juga hampir sama dengan Jupiter-Saturnus. Hal inilah yang menjadi pertimbangan kalau sistem 47UMa merupakan saudara kembar tata surya.

Kembar atau Sekedar Mirip ?
Untuk mengetahui sampai sejauh mana kemiripan sistem 47UMa dengan Tata Surya, para astronom melakukan penelitian terhadap dinamika sistem 47UMa. Hasil yang diperoleh Debra Fischer dkk memperlihatkan adanya ketidakstabilan dalam waktu yang cukup singkat, dengan ditandai kehancuran sistem. Simulasi yang dilakukan dengan beberapa pendekatan yang berbeda memberikan hasil yang sama dengan rentang waktu kehancuran yang berbeda antara 700 ribu - 10 juta tahun. Salah satu simulasi dilakukan dengan penggabungan efek gangguan yang timbul dalam gerak antar planet dan gaya pasang surut, memperlihatkan planet dalam [47UMa (b)] menabrak bintang sedangkan planet luarnya [47UMa (c)] terlontar dari sistem dengan orbit yang sangat lonjong. Hal ini berbeda jauh dengan tata surya yang tetap stabil untuk rentang waktu yang lama.

Walau demikian, alam semesta masih tetap menyimpan misterinya, karena pada saat ditemukan sistem 47UMa sudah berumur 7 milyar tahun, jauh lebih tua dibanding tata surya. Tentu ada hal lain yang menyebabkan sistem ini tetap stabil. Diperkirakan, salah satu penyebabnya adalah kemungkinan adanya planet-planet kecil seukuran bumi pada daerah hunian sistem.

Jika benar sistem ini merupakan kembaran tata surya, pencarian berikutnya tentu berkaitan dengan ada tidaknya kehidupan di sistem ini. Karena bagaimanapun juga, manusia tidak pernah puas sebelum menemukan jawaban atas tiap pertanyaan yang timbul, terutama mengenai kehidupan di luar bumi.



astronomy


Trackbacks & Pingbacks

Comments
Leave a comment

(required)

(required)