Allah Tak Pernah Salah Memilih

Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.  (Yer 1:5)

Simson dan Delilia dua sosok yang sering menjadi judul film. Tapi siapa dia sebenarnya? Simson adalah seorang nazir Allah yang telah ditetapkan Allah sebelum ia dilahirkan untuk menjadi penyelamat bangsa Israel dari tangan bangsa Filistin (hak 13:5). Dilahirkan dari seorang ibu yang mandul, ia ditentukan untuk menjadi nazir Allah dan menjadi hakim atas bangsanya (Dan) selama 20 tahun. Yang paling menonjol dalam diri Simson adalah kekuatannya, dan sepertinya figur kuat seperti inilah yang menjadi lambang seorang pahlawan bagi masyarakat zaman ini.

Simson cocok sekali dengan figur tersebut. Ia kuat. Itu pasti. Lihat saja Ia mampu mengalahkan singa dengan tangan kosong saat ia dan keluarganya sedang berada di kebun anggur di Timna saat akan meminang seorang gadis Filistin. Waktu itu, ada seekor singa muda menghampirinya dengan mengaum. Pada waktu itulah, Roh TUHAN berkuasa atas dirinya, sehingga ia mencabik singa muda itu dengan tangan kosong (Hak 14:5-6). Hebat khan? Itu belum seberapa. Simson juga mampu mengalahkan seribu orang Filistin Cuma pakai rahang keledai (Hak 15:5; 14-16).

Belum cukup? Waktu Simson sedang bermalam di rumah seorang perempuan pelacur, orang-ornag di Gaza berusaha membunuhnya, tapi tengah malam Simson bangun dan mencabut daun pintu gerbang kota plus palang, diletakkan di bahunya dan diangkatnya ke puncak gunung yang berhadapan dengan Hebron (Hak 16:3). Mana ada manusia yang bisa seperti itu?? Bahkan Ia juga mampu memutuskan ikatan yang membelenggunya, saat ia diikat Delilah dan raja-raja kota Filistin dating untuk menyerang dia. Tiga kali ia membohongi Delilah, tiga kali juga ia mampu melepaskan dirinya dari ikatan belenggu. Bahkan di masa akhir hidupnya saat ia menjadi buta, ia masih mampu untuk merobohkan tiang-tiang penyangga rumah (balairung) pertemuan….

Kebayang kan bagaimana hebatnya Simson? Tapi apa benar dia memang jago dan kuat? Dimana letak kekuatannya? Dalam alkitab dituliskan pisau cukur tak pernah mengenai kepalanya (Hak 13:5). Tapi pada setiap kejadian spektakuler dimana Simson menunjukkan kekuatannya, ada satu hal yang menarik yakni Roh Tuhan berkuasa atas dia (Hak 14:6, 15:4). Bahkan saat ia haus, Allah membuat mujizat baginya, dengan membelah liang batu di Lehi dan keluarlah air dari situ. Dan diakhir hidupnya pun, Allah menjawab doanya dan memberi dia kemampuan untuk merubuhkan rumah dimana para raja Filistin sedang berkumpul saat itu.

Dimata manusia, seseorang yang punya wibawa, kekuatan dan karisma yang hebat seperti ini sudah dianggap seorang yang sangat rohani atau hebat di mata Tuhan. Apakah Simson seperti itu?? Lihatlah apa yang ada dibalik seluruh kehidupan Simson. Simson memang perkasa… tapi karakternya malah seperti anak-anak yang harus selalu dituruti dan seperti kata pepatah, pria itu seringnya jatuh karena tiga hal, harta, tahta dan wanita.Nah.. Simson juga gak jauh-jauh dari situ. Ia bukan seseorang yang punya kendali diri yang baik. Baginya kepuasan ego pribadinya lebih penting ketimbang berpikir lebih jauh ke depan.

Saat Simson ke Timna dan melihat seorang gadis Filistin yang cantik, ia langsung jatuh cinta dan ingin menikahinya. Gak perlu loh ada pacaran.. saling kenal dulu baru nikah. Buat Simson.. begitu melihat.. pas di hati.. langsung aja disambar. Bahaya kalau keduluan ama yang lain. Bahkan walau orang tuanya melarang, ia tetap saja keras pada pendiriannya. Padahal gadis itu berasal dari bangsa Filistin, bangsa yang tidak bersunat , bangsa yang tidak mengenal Allah. Simson tidak lagi berpikir ke depan apakah gadis ini berkenan dihadapan Tuhan atau tidak…dan pada akhirnya karena kecewa si gadis membuka rahasia teka tekinya, diberikanlah istrinya itu kepada bekas penggiringnya (Hak 14:20). Kebayang kan bagaimana ia hanya mengikuti kata hatinya. Wataknya yang tidak sabaran membuat dirinya tak mau dihalangi oleh apapun juga. Akibatnya…. pernikahan kilat yang ia  jalani harus berakhir tragis. Padahal kesabaran adalah salah satu buah Roh… inilah yang menjadi cerminan orang yang bertindak hanya mengikuti kata hatinya. Seems familiar with this one?? Bukankah itu jugalah yang ada dalam hidup kita? Ego dan keinginan hati seringkali menguasai diri kita, dan membuat kita lupa untuk menundukkan diri dihadapan kehendak Allah.

Hidup berkenan dihadapan Tuhan bukan sekedar berbuat baik dalam hidup tapi bagaimana kita taat, tunduk dan menyerahkan diri kita total dalam kendali Allah. Inilah yang tidak ada dalam diri Simson… dia tetap seperti seorang anak yang senantiasa menuntut keinginan hatinya dipenuhi. Ini jelas terlihat saat ia menginginkan gadis Timna itu. Nasihat orang tuanya tentang gadis Timna itu hanya dijawab dengan, “Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai!”. (Hak 14:3). Simson memang nazir Allah, namun ia selalu ingin menentukkan dan mengendalikan jalannya sendiri.

Setelah masalah gadis Filistin, Simson juga menghampiri dan tidur dengan seorang wanita pelacur (Hak 16:1), karena saat melihat wanita pelacur ini birahinya segera timbul. Setelah tidur dengan pelacur itu, tak lama berselang, ia jatuh cinta pada seorang perempuan dari Lembah Sorek bernama Delila (Hak 16:4). Kejadian-kejadian seperti ini masih terus ada dan dialami oleh anak-anak Tuhan sampai saat ini. Kurangnya penguasaan diri akan emosi dan masalah seks seringkali menjadi penyebab kejatuhan seseorang. Kesalahan yang terus tersimpan dibalik rasa malu.. ketakutan.. atau harga diri.. justru membuat kita semakin jauh dari Tuhan.

Dosa yang tersimpan dan dimanjakan dalam hidup kita hanya akan membuat kepekaan pada suara dan kehendak Tuhan semakin lama semakin pudar dalam hidup kita. Simson memang dipakai Tuhan secara luar biasa, namun kehidupannya justru mengingatkan kita akan diri kita… mengenai kehidupan kita dihadapan Tuhan.. mengingatkan kita akan hudbungan pribadi kita dengan Allah.

Sepanjang kisah Simson, yang diceritakan hanyalah bagaimana ia hidup dari satu perempuan ke perempuan lain, namun dalam setiap kejadian, Tuhan tetap merajutnya untuk menjadikan nama Allah dipermuliakan diantara bangsa-bangsa. Namun pada akhirnya sebuah kesadaran baru hadir saat seseorang mengalami kehancuran. Kehancuran yang terjadi dalam hidup manusia seringkali menjadi media yang untuk membuat kita berpaling dan melihat apa sebenarnya keinginan Tuhan atas hidup kita. Kehancuran.. kejatuhan…. lemah.. tak berdaya.. justru membuat manusia berhenti sejenak diantara kepongahannya untuk berdiam dan melihat kehidupannya… yang akan membuat manusia belajar untuk menundukkan diri dan menyerahkan diri pada Allah. Tak percaya? Itulah yang terjadi pada Simson.. mengenal Delila yang cantik membuat Simson jadi mabuk kepayang, dan lupa daratan.

Saat diperdaya Delila supaya ia mengatakan letak kekuatannya, tiga kali ia membohongi Delila. Disini ada yang menarik, bagi penulis ia bukan sekedar mempermainkan Delila melainkan menunjukkan keangkuhan kalau ia kuat dan takkan ada yang bisa mengalahkan dirinya.  Tiga kali ia berbohong, tiga kali musuh mencoba menangkapnya, dan ketiga-tiganya gagal. Tapi terakhir kali saat ia berkata tentang rambutnya yang tak pernah kena pisau cukur, ia harus menghadapi suatu kenyataan tragis. Disaat ia bangun dan dikatakan orang Filistin akan menangkap dirinya, Simson berkata,  Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.” Sebuah contoh keangkuhan dan kesombongan yang mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk menghadapi masalah. Tapi sayangnya, satu hal yang tidak ia ketahui, Tuhan telah meninggalkan dia. Inilah yang menjadi kunci segalanya.. bukan rambut Simson yang menjadi sumber kekuatannya melainkan Tuhan.

Apa yang dianggap Simson sebuah kesenangan dan kenikmatan bersama perempuan yang ia cintai, bagi Tuhan semua itu adalah kenajisan… dan ia akhirnya harus terpuruk , jatuh.. dan mengalami semua yang tak pernah ia alami sebelumnya. Mata dicungkil.. tak ada lagi keindahan tubuh wanita yang bisa ia lihat dan nikmati. Dibelenggu dimana ia kehilangan seluruh kebebasannya, bekerja sebagai penggiling di penjara dan juga disuruh melawak buat pembesar-pembesar Filistin. Seiring dengan masa-masa gelapnya, rambut Simson pun mulai tumbuh.

Ketika disuruh melawak di hadapan para raja dan orang Filistin, dalam kesadarannya bahwa semua yang ia miliki memang berasal dari Allah, ia berdoa. Katanya,  “Ya Tuhan Allah, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah” (Hak 16:28). Dan Tuhan selalu menjawab doa orang yang memang sungguh-sungguh mencari Dia. Ia menjawab doa Simson dan akhirnya dengan kekuatan yang luar biasa dari Tuhan, dengan kedua belah tangannya dirobohkannya gedung itu. Dan pada saat kematiannya orang-orang yang dibunuhnya jauh lebih banyak dibanding yang dibunuhnya saat hidupnya. Sampai saat meninggalnya, Simson menjadi hakim atas Israel selama 20 tahun lamanya.

Simson memang punya banyak kecacatan karakter dalam hidupnya. Namun tidak berarti Allah telah salah memilih orang. Ia tidak salah.. Sama seperti setiap kejadian dalam hidup Ester yang Tuhan rajut untuk menyatakan kemulian namaNya demikian juga setiap kejadian dalam hidup Simson menjadi sebuah rajutan untuk menyatakan kemuliaan namaNya.

Satu hal yang senantiasa teringat setiap membaca kisah Simson adalah.. karisma yang tampak dalam hidup seseorang atau yang dimiliki seseorang tidak akan pernah menjadikan seseorang itu dewasa dalam karakter. Karisma adalah talenta dan anugerah dari Tuhan.. tapi karakter hanya bisa didapat dari proses pembentukan dan pengenalan serta penundukan diri dihadapan Tuhan dalam seluruh sisi hidup kita. Karakter itu bisa dikatakan buah dari kehidupan kita. Karisma tanpa karakter seperti sebuah barang yang indah bungkusnya tapi isinya tak berguna.

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: