Seringkali, terlontar pertanyaan apa arti sebuah persahabatan atau sudahkah aku memiliki seorang sahabat sejati dalam hidup ini?. Setiap orang punya definisi yang berbeda tentang sebuah persahabatan. Setiap orang bisa mengatakan “ah si a itu sahabat terbaikku” atau “si b itu sobat paling setia..” tapi sudahkah kita menjadi sahabat bagi orang lain? paling tidak bagi teman kita, orang yang terdekat dengan kita.

Sahabat tidak sekedar seseorang yang hadir disaat kita bersedih, namun seseorang yang selalu hadir bersama-sama dalam tawa maupun tangis. Seorang sahabat rela memberikan segalanya untuk sahabat yang ia kasihi. Menurut Andrew Murray, “bukti tertinggi dari persahabatan sejati adalah keakraban yang tidak menyembunyikan apa pun serta menerima sahabat untuk berbagi rahasia-rahasia kita yang terdalam”. Sudahkah kita seperti itu? seringkali sebagai manusia kita hanya ingin menerima seseorang bila ia terlihat indah, cantik dan menawan.

Semua orang menyukai apa yang tampak indah seperti orang yang menyukai bunga yang telah terawat indah di taman. Namun adakah yang menyukai dan menyayangi rumput liar? Kita semua punya sisi sebagai rumput liar dan kita selalu meminta orang lain untuk bisa mengenal mengerti dan menerima diri kita dalam seluruh kekurangan dan kelebihan kita. tapi bagaimana dengan kita? apakah kita sudah menerima sahabat kita dalam kelebihan dan kekurangannya? sudahkah kita memberi yg terbaik??

Ada satu pribadi yang selalu setia menjadi sahabat bagiku. Ia berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang Kudengar dari Bapa-Ku.”  Persahabatan yang Kristus tunjukkan bukan sekedar kata-kata atau sekedar menjadi teman dikala tangis dan tawa.  Ia memberikan segalanya bagi kita. Segalanya tanpa kecuali. Ia hadir dalam setiap detik hidup kita. Dalam suka dan duka, di saat kau tertawa maupun menangis, Ia hadir Ia ikut tertawa dan menangis bersama dengan kita. Saat kita marah Ia meneduhkan kemarahan kita dalam kelembutanNya. Ia ada dalam seluruh waktu dan keberadaan kita.

Bagaimana dengan kita?? Kalau kita mengatakan Yesus adalah sahabat, mengapa seringkali begitu sulit bagi kita untuk duduk berdua dan bercengkrama denganNya dalam doa?

Bahkan dalam seluruh kesibukan kita, seringkali tak ada lagi waktu yg tersisa untuk bersama denganNya walau hanya untuk mebaca sepotong ayat FirmanNya. Kita datang padaNya seperti sebuah keterpaksaan dalam satu rutinitas yang sama setiap minggu. Atau bahkan waktu untuk datang dan berdiam di rumahNya pun sudah tersita oleh kebersamaan sebuah tamasya?? Ia mengenal kita sampai pada hal yang paling tersembunyi namun apakah kita mengenal Dia??

Kalau kita menyebut diriNya sahabat, seharusnya kita pun mengenal diri sahabat kita. Persahabatan tidak datang dalam hubungan satu arah. Dalam sebuah persahabatan ada timbal balik yang indah dalam kasih. Persahabatan tak pernah didasari oleh sebuah tuntutan manun didasari oleh kasih yang tanpa syarat. Dan Ia membuktikannya kepada kita. Persahabatan yang Yesus berikan pada kita dibayar dengan darahNya.

Ia memberi diriNya untuk orang-orang yang Ia sebut sahabat, supaya kita bisa selalu bersama-sama denganNya tanpa selubung tirai dosa. Ia menyingkirkan tirai itu sebagai bukti persahabatanNya dengan kita.   Kalau benar kita menyebut Yesus adalah sahabat, seharusnya kita selalu rindu untuk bersama-sama menghabiskan waktu denganNya. Datang padaNya dalam gairah yang menggelora untuk bersama-sama melewati hari ini. Di saat paling gelap dalam hidup kita, Ia hadir dan menjadi tempat kita bersandar dan memberi keuatan pada kita.

Yang paling indah dalam persahabatan adalah kasih yang menggelora untuk memberi yang terbaik bagi Dia. Sudahkah hubungan kita denganNya dipenuhi gelora kerinduan?? ataukah hanya biasa2 saja?? Temuilah Dia karena Ia telah terlebih dahulu berkenan untuk kau temui.

Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku.(Yeremia 29:13-14)

Jika dia harus tahu musim surutmu,
biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Sebab, siapakah sahabat itu,
hingga kau hanya mendekatinya untuk bersama sekedar untuk membunuh waktu?

Carilah ia, untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Sebab dialah orangnya untuk mengisi kekuranganmu,
bukannya untuk mengisi keisenganmu.

Dan dalam kemanisan persahabatan,
biarkanlah ada tawa-ria kegirangan,
berbagi duka dan kesenangan.

Sebab dari titik-titik kecil embun pagi,
hati manusia menghirup fajar hari,
dan menemukan gairah segar kehidupan.
(Kahlil Gibran)