talangBulan April 2005, gunung Talang di Sumatera yang telah tidur selama berabad-abad tiba-tiba menampakkan geliat kehidupannya kembali. Gumpalan asap mengangkasa pada ketinggian 1000 meter dan perkampungan disekitarnya diselubungi asap. Khawatir akan ledakan yang lebih besar, pemerintah lokal kemudian mengevakuasi 40000 penduduk. Sementara itu, petugas PBB melancarkan permintaan bantuan agar para ahli mulai memonitor gunung Talang.

Jauh di atas Bumi, tanpa banyak yang tahu, sebuah satelit kecil telah memulai aksinya mengamati gunung berapi. Tidak ada yang memberi perintah padanya sebelumnya, namun EO-1 (Earth Observing 1) melihat adanya tanda peringatan dan mulai melakukan monitoring terhadap Talang atas keputusannya sendiri. Saat para ahli sedang membaca email dari PBB, EO-1 telah memiliki data.

EO-1 merupakan satelit baru yang bisa berpikir untuk dirinya sendiri. Ia diprogram untuk memperhatikan tanda-tanda perubahan (seperti munculnya asap di gunung berapi) dan kemudian mengambil langkah yang sesuai. EO-1 dapat mengorganisasi ulang prioritas kerjanya untuk mempelajari letusan gunung berapi, ledakan banjir, kebakaran hutan, penghancuran lautan es, dan segala sesuatu yang tidak diharapkan.

Sistem di EO-1 membawa kita pada sebuah tingkat kecerdasan baru, dimana EO-1 saat ini diajarkan juga untuk dapat menggunakan sensor pada satelit lainnya, seperti pada Terra dan Aqua. Dua satelit NASA yang terbang lintas di setiap bagian Bumi 2 kali sehari ini memiliki sensor bernama MODIS, yang merupakan spectometer inframerah yang dapat mengenali panas dari hutan yang terbakar dan dari gunung berapi. Karena itu, data yang dimiliki MODIS dibuat agar bisa tersedia untuk EO-1, sehingga saat Terra atau Aqua melihat sesuatu yang menarik, EO-1 akan bisa meresponnya.

EO-1 juga bisa menyadap sensor di permukaan Bumi seperti USGS volcano observatories di Hawai, Washington dan Antartika. Bersama-sama stasiun landas bumi dan satelit membentuk jaringan sensor – sensorweb – dengan EO-1 sebagai pusat pengumpulan data dan pengambil tindakan. Sebuah cara baru untuk mempelajari Bumi.

Menurut Steve Chien, pimpinan grup Artificial Intelligence di JPL, sensorweb ini akan dibuat juga untuk mempelajari planet lain. Seperti diketahui, saat ini NASA memiliki 4 satelit yang mengorbit MARS, dan 2 rover di dataran MARS. Seharusnya mereka bisa menjalin kerja sama. Misalnya, ada satu satelit yang mengenali adanya badai debu, maka ia akan dapat memberi tahu yang lainnya untuk memonitor badai tersebut saat satelit lainnya terbang lintas di area tersebut dan juga memberi peringatan pada rover atau astronot kalau ada badai yang datang.

Di Bulan, jika ada rover yang menemukan tambang logam, yang lain bisa dipanggil untuk membantu, membawa peralatan penggali dan alat lainnya ke area tersebut.

Contoh lain, di Matahari ada lebih dari setengah lusin pesawat angkasa yang memonitor aktivitas matahari seperti SOHO, ACE, GOES-12 dan 13, Solar-B, TRACE, STEREO dll. Nah jika pesawat-pesawat ruang angkasa ini dapat membangun sebuah sensor jaringan maka mereka dapat mengkoordinasikan kegiatan mereka untuk mempelajari badai matahari dan memberi peringatan yang lebih baik pada para astronot di Bulan dan Mars.

Saat ini kecerdasan tersebut hanya didedikasikan untuk Bumi, sementara untuk yang lain di Tata Surya masih harus menunggu.

Notes: NASA merencanakan untuk kembali ke Bulan sebelum melangkah lebih jauh dalam hal pengiriman misi berawak ke Mars di masa mendatang.

sumber : science@NASA

Tagged in:

About the Author

ivie

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

View All Articles