Pagi ini gue nerima email dari NASA, karena emang gue ikut ngedaftar di newsletter-nya. Yang menarik email itu bukan sekedar berita tapi berisi e-card bergambar seperti ular. Upss baru ingat, it’s a halloween card. Kalau valentine tahun lalu dikirimin ring and a flower, maka Halloween tahun ini NASA JPL mengirimkan kartu bergambar ular pada semua yang mendaftar di newsletter-nya sebagai kartu ucapan Halloween. Tapi, apa hubungannya gambar ular dan NASA? Apa NASA sudah berubah fungsi untuk mengurusi ular?
Foto yang dikirim NASA merupakan citra objek yang diambil oleh Teleskop Spitzer. Pada citra tersebut, tampak seperti ada sesuatu yang menakutkan dan tampak licin melintasi bidang galaksi Bimasakti. Objek seperti ular tersebut ternyata merupakan inti awan tebal yang tertutup jelaga yang ukurannya cukup besar untuk menelan lusinan tata surya. Tapi menurut para astronom perut ular itu menyimpan bintang-bintang yang sedang berada dalam proses pembentukan.
Menurut Dr. Sean Carey yang juga dikenal dengan nama Dr. Scarey dari Spitzer Science Center mengatakan, ular itu merupakan tempat ideal untuk mencari bintang masif yang sedang terbentuk karena mereka tak punya waktu untuk mengalami pemanasan dan menghancurkan awan dimana mereka lahir.
Dalam menangkap citra awan yang berbelit-belit bak ular, Spitzer menggunakan penglihatan inframerahnya. Objek yang dipotret ini tersembunyi dibalik debu bidang galaksi Bimasakti, dan tidak terlihat jika dilihat dengan teleskop optik. Awan ular ini tampak sangat tebal berisi debu, bahkan jika kita coba masuk didalamnya, maka kita tidak akan terlihat apapun selain dari kegelapan. Bahkan jangan berharap bisa melihat bintang di angkasa. Ini dia hantunya!
Apa yang dilihat Spitzer dengan mata inframerahnya, memberi informasi terbaik mengenai apa yang ada di ular tersebut. Bintik kuning dan oranye terletak di ular dan disekitar ular tersebut merupakan bintang masif yang baru mulai membentuk diri. Sementara bintik merah yang terdapat di perut ular embrio bintang raksasa, dengan massa 20 sampai 50 massa Matahari. Bagi para astronom, pengamatan ini membantu mereka untuk memahami dengan lebih baik lagi bagaimana bintang masif terbentuk. Nah dengan mempelajari kumpulan embrio bintang dengan massa yang berbeda diharapkan akan bisa menunjukkan apakah bintang-bintang lahir dengan cara yang sama dengan pembentukan Matahari yang bermassa rendah dari keruntuhan awan gas dan debu ataukah mereka terbentuk dari mekanisme yang berbeda dimana lingkungan memainkan peran terbesarnya.
Citra ular yang diambil ini berada 11,000 tahun cahaya di rasi Sagitarius, dengan komposisi data warna biru merupakan cahaya 3.6 mikron, hijau menunjukkan cahaya 8 mikron dan merah 24 mikron.
Kartu yang sangat layak untuk dikoleksi.
sumber : NASA JPL




Salam, senang mengetahui ada pencinta alam semesta juga di sini…
Salam knal bwt pecinta galaksi……………
Fabiayyi `alairobbikuma tukadzdzibaan..