do I try to be god?

Sepanjang pengerjaan sistem pemodelan tata surya, pertanyaan ini sering kali hadir. Apa aku sedang bermain-main menjadi tuhan? Membangun model tata surya dan melakukan generate sistem dengan berbagai harga masukan, memang memberi hasil yang berbeda-beda. Terlebih lagi mencari sistem yang memiliki planet kebumian dengan atmosfer yang bisa digunakan untuk kehidupan ternyata seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami.

Dari 44 sistem yang digenerate ada sekitar 10 yang mampu memiliki planet kebumian, namun tak satupun planet tersebut memiliki atmosfer yang layak untuk jadi daerah hunian. Ternyata syarat daerah hunian soal jarak dari bintang dimana air bisa ditemukan dalam keadaan cair bukanlah satu-satunya parameter bahwa planet tersebut layak huni. Kondisi dan komposisi atmosfer yang terbentuk juga sangat mempengaruhi.

Hasil generate ke-44 sistem tersebut juga menunjukkan tidak semua sistem mampu untuk memiliki planet jovian (planet gas raksasa). Pengaruh massa dan luminositas bintang terhadap kemampuan inti planet berkembang cukup besar. Pada sistem dengan bintang bermassa kecil, seringkali ditemukan inti planet tidak mampu melewati harga massa kritisnya sehingga planet yang terbentuk rata-rata berupa planet tipe mars, venus, dan batuan.

Yang menarik, walau harga masukkan adalah parameter Matahari dalam tata surya, sistem yang terbetuk tidaklah persis sama dengan Tata Surya yang kita kenal saat ini. Kecuali memang untuk daerah di tepi tata surya, dihuni oleh planet-planet kecil dan serpihan sisa pembentukan sistem. lantas apakah dengan demikian bisa ditarik kesimpulan kalau Tata Surya hanyalah sistem kebetulan yang dihasilkan diantara kemungkinan lainnya? Apakah bumi hanyalah hasil dari seleksi acak dalam pembentukan sistem keplanetan di alam semesta? Ataukah memang Tata Surya sudah dirancang sedemikian rupa untuk ada seperti saat ini dan dibuat untuk suatu tujuan?

Again… pertanyaan itu muncul lagi.. apakah aku sedang bermain-main menjadi tuhan dalam riset ini? Pertanyaan tersebut memang membangkitkan keingintahuan yang lebih dalam lagi. Pendalaman materi dan percobaan akan terus dilakukan, tapi akankah didapat hasil yang benar-benar pasti? Perbandingan antara hasil simulasi dan data pengamatan mungkin menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pembenaran hasil.

Tapi pertanyaan itu juga menjadi bagian dari refleksi diri dan sinyal peringatan untukku. Setiap kali pertanyaan ini muncul, setiap kali juga aku disadarkan betapa kecilnya manusia.. dan betapa terbatasnya pemikiran manusia. Keterbatasan yang tak akan pernah melampaui ketidak terbatasan. Pertanyaan yang sama juga mengingatkanku kalau aku ini hidup hanya karena anugerahNya.

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

3 Comments

  • Playing god is the oldest profession, don’t worry about that.

  • quiet fun juga tri…. somehow gue masih penasaran what will happen to all the planet kalo bintang berevolusi ke tahap berikutnya.

  • Dulu ada gim namanya Sim Earth, sama gitu deh kayak program lu. Asik emang jadi tuhan hehehehe…

    Dalam kasus evolusi bintang, dan ada pembuangan massa yang cukup signifikan sehingga massa bintang sentral berubah, pastinya orbitnya akan berubah dong. Di Orbital Motion ada ngkali soal itu.

Leave a Reply

%d bloggers like this: