Journal

-- the pilgrim journey --

Home / astro / Sistem Kalender dan Penentuan Tanggal Minggu Paskah Secara Astronomi
Apr 1 2007

Sistem Kalender dan Penentuan Tanggal Minggu Paskah Secara Astronomi

Kalender adalah sistem penentu waktu yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana pada masyarakat petani, kalender diperlukan sebagai penentu waktu bercocok tanam, berdasarkan tanda-tanda alam, seperti posisi bintang di langit; masyarakat modern memerlukan kalender sebagai alat bantu yang penting dalam kehidupannya, seperti tanggal perayaan ulang tahun, jadwal libur dan bekerja, atau waktu membayar tagihan-tagihan.

Kalender modern yang kita gunakan saat ini disebut sebagai kalender masehi, dan deret waktu tahunannya, (tahun 1), diasumsikan dari tahun kelahiran Yesus Kristus.

Berdasarkan pembagian tersebut, sebelum tahun 1 disebut sebagai SM (Sebelum Masehi), BC (Before Christ), atau BCE (Before Common Era), dan sesudahnya sebagai M (Masehi), AD (Anno Dominii), atau CE (Common Era). Setiap tahun terbagi menjadi bagian-bagian yang disebut sebagai bulan, sejumlah dua belas bulan dalam satu tahun, dan tiap bulan terbagi antara 28-31 hari.

Berdasarkan ilmu astronomi, sistem kalender masehi ditetapkan dari peredaran Bumi mengelilingi Matahari, (sistem kalender solar). Jika matahari berada dari ufuk terbit, sampai terbenamnya disebut sebagai satu siang hari, dan kebalikannya dari terbenam sampai terbitnya lagi disebut sebagai satu malam hari. Tetapi tidak semua sistem kalender menerapkan sistem solar, sebagaimana kalender Islam, menerapkan sistem perederan Bulan mengelilingi Bumi (sistem lunar), atau sistem kalender Yahudi dan Babilonia menerapkan sistem kombinasi Bulan Matahari. Sistem-sistem ini sampai sekarang juga masih sering dipergunakan sebagai keperluan keagamaan.

Sistem kalender solar berjumlah 365 hari dalam satu tahun dan 366 hari untuk tahun kabisat. Dalam satu tahun terbagi menjadi 12 bulan, yang dinamai dari Januari, sampai Desember, dan tiap bulannya berjumlah antara 30-31 hari, kecuali Februari berjumlah 28 hari dan 29 hari untuk tahun kabisat. Penentuan tahun kabisat ini muncul karena pada kenyataannya Bumi mengelilingi Matahari dalam satu kali revolusinya (satu putaran penuh), selama 365,242199 hari (365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik), sehingga untuk mengatasi permasalahan kelebihan hari tersebut, ditetapkan adanya tahun kabisat setiap empat tahun, yaitu pada tanggal 29 Februari, untuk tahun kelipatan empat (pada tahun biasa, seperti 1992, 1996, 2000), dan harus kelipatan 400 untuk tahun abad (contohnya tahun 2000, tetapi 1900 dan 2100 bukan, karena bukan kelipatan 400).

Kalender masehi telah digunakan semenjak jaman Romawi, dan mulai menerapkan sistem yang hampir serupa dengan sistem masehi, yang juga berdasarkan astronomi, semenjak Julius Caesar. Pada saat itu berdasarkan pengamatan astronomi, jarak satu tahun diterapkan sebesar 365,25 hari, lalu dibagi menjadi 12 bulan, dan sistem ini disebut sebagai kalender Julian, berdasarkan nama Julius Caesar. Tetapi karena perhitungan yang belum terlalu teliti, efek kumulatif kesalahan perhitungan menyebabkan sampai sekitar tahun 1500-an, kalender telah mengalami pergeseran sampai 10 hari. Untuk mengatasi permasalahn tersebut, pada tahun 1582 AD Paus Gregorius XIII, mengatur lagi penanggalan dengan mengubah dari tanggal 4 Oktober 1582 AD, keesokan harinya menjadi 15 Oktober 1582 AD, serta melengkapi perhitungan dengan menyatakan adanya sistem kabisat, untuk tahun kelipatan empat, dan harus kelipatan 400 untuk tahun abad. Meskipun sistem ini pada awalnya diterapkan pada negara-negara yang menganut agama Katholik, dan sistem kalendernya disebut sebagai kalender Gregorian, tetapi karena sistem ini cukup bagus dalam penentuan waktu, seiring perkembangan dunia, mulai menyebarkan dan diterapkan di seluruh dunia.

Bagi umat Kristiani, penentuan jatuhnya hari Paskah masih ditentukan berdasarkan sistem lunar. Penanggalan Paskah ditujukan untuk memelihara dan mengenang saat yang diharapkan sama, baik saat bulan purnama yang terjadi, musim yang sama, pada tiap tahunnya, dengan saat kebangkitan Yesus Kristus.

Secara ilmiah, jatuhnya hari minggu Paskah diperoleh berdasarkan perhitungan astronomi, yang telah dirumuskan dari Konsili Gereja (Katholik) di Nicaea tahun 325 AD. Kebangkitan Yesus Kristus ditetapkan terjadi di sekitar bulan purnama, sehingga hal tersebut diterapkan sebagai patokan. Alih-alih memanfaatkan bulan purnama penuh, yang membutuhkan pengetahuan tentang orbit bulan secara akurat, maka diperkenalkan suatu bulan imajiner, yang disebut sebagai bulan purnama ecclesiastic, yang tanggalnya telah diperhitungkan secara matematis. Kesulitan perhitungan bulan purnama adalah: pertama, penentuan terjadinya bulan purnama secara global, sebagai contoh, jika bulan purnama jatuh pada hari minggu di Sidney, tetapi masih hari Sabtu di London, bisa menyebabkan jatuhnya Paskah akan berbeda hari, dan yang kedua adalah kenyataan di alam menunjukkan bahwa orbit Bulan tidaklah selalu stabil, sebagaimana perhitungan matematis, karena ada faktor gangguan orbit, baik oleh Matahari, maupun planet-planet besar, sehingga sulit menentukan orbit Bulan secara tepat. Oleh karena itu bulan purnama eccelsiastic merupakan juga tanggal terjadinya bulan purnama, tetapi bukan berdasarkan pengamatan, tetapi didasarkan pada perhitungan matematis adanya bulan purnama, dan terjadi dalam paling tidak dalam selang tiga hari, sebelum atau sesudah bulan purnama yang sebenarnya. Berdasarkan Konsili tersebut, dan dari hasil perumusan astronomis-nya, maka Minggu Paskah dinyatakan sebagai:

“Hari Minggu Pertama setelah adanya Bulan Purnama Ecclesiastic, dan bulan purnama tersebut terjadi pada atau sesudah titik balik musim semi (Vernal Equinox), secara astronomi ditetapkan tanggal 21 Maret.”

Dengan demikian maka keterkaitan antara penentuan Minggu Paskah dan ilmu astronomi dapat dipahami sebagai berikut: pertama, bulan purnama ecclesiastic, merupakan pendekatan bulan purnama yang sebenarnya (bulan purnama astronomi), sehingga Minggu Paskah terjadi di sekitar bulan purnama astronomi, tetapi tidak ada keterkaitan dengan bulan purnama astronomi. Kedua, titik balik musim semi secara astronomi adalah satu hari ketika Matahari tepat berada sejajar dengan ekuator Bumi, sehingga panjang siang dan malam adalah sama, dan pada kenyataan di alam terjadi di antara tanggal 18-22 Maret, tetapi karena untuk penanggalan Minggu Paskah ditetapkan pada tanggal 21 Maret, maka penanggalan Paskah tidak lagi terkait dengan titik balik musim semi astronomi, dan dengan demikian maka penanggalan Minggu Paskah akan selalu sama untuk berbagai tempat di Bumi, bergantung pada zona waktu dunia.

Berikut ini ditampilkan tanggal hari MingguPaskah sampai dengan tahun 2010:

March 31, 2002 April 20, 2003 April 11, 2004
March 27, 2005 April 16, 2006 April 08, 2007
March 23, 2008 April 12, 2009 April 04, 2010

 

 

oleh : nggiengÂ

 

Share this entry

Leave a Reply

To do what is right and just is more acceptable to the Lord than sacrifice.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: