Journal

-- the pilgrim journey --

Home / kontemplasi / Belajar dari Nebukadnezar, Sadrakh, Mesakh dan Abednego
May 29 2007

Belajar dari Nebukadnezar, Sadrakh, Mesakh dan Abednego

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Itulah sebuah jawaban iman Sadrakh, Mesakh dan Abednego kepada Nebukadnezar saat mereka diperintahkan untuk menyembah patung yang ia buat. Pernyataan iman dari orang-orang yang mengenal Allah yang disembahnya. Tapi ada hal-hal lain yang sebenarnya merupakan pelajaran penting dalam kisah ini. BUkan hanya sikap Sadrakh, Mesakh dan Abednego tapi kita bisa juga belajar dari Nebukadnezar. Hah? Gak salah tuh? Kok bisa? Ngapain belajar dari Nebukadnezar? Dia khan nyembah dewa-dewa….

Yang harus dipelajari bukan tentang siapa yang disembah Nebukadnezar, tapi sikap Nebukadnezar dalam memandang Allah bangsa Israel. Kadang tanpa kita sadari, kita juga bersikap seperti dia. so.. mari kita kilas balik bersama.

Daniel 3 dimulai dengan kisah Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang sangat megah di dataran Dura di wilayah Babel. Dan setelah patung itu selesai ia mengundang para wakil raja, penguasa, bupati, penasehat negara, bendahara, hakim, ahli hukum dan kepala daerah untuk acara pentahbisan patung. Semua yang diundang dan semua suku bangsa dan bahasa diperintahkan untuk menyembah patung tersebut. Disini digambarkan betapa Nebukadnezar ingin meninggikan dirinya dan menjadi seperti Allah… pribadi yang disanjung dan diagungkan. Padahal di pasal 2 : 47, Nebukadnezar baru saja membuat pernyataan bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang mengatasi segala allah. n now he wanna be god too.

Sama seperti kita… mungkin kita tidak membuat sebuah patung megah dan minta disembah, tapi seberapa banyak dari kita yang sekali waktu memuji Tuhan dan menyatakan syukur betapa besar Allah… tapi disaat lain kita seperti lupa akan kebesaran Allah dan mulai bersikap seperti allah kecil yang butuh dihormati. Apalagi ketika kita punya kedudukan dan kekuasaan, dunia seakan sudah ada di genggaman.

Dan ketika ada yang terlihat bersikap tidak menghormat maka ia layak untuk dihukum, bahkan mungkin dipecat? well itu khan yang dilakukan seorang penguasa seperti Nebukadnezar, ketika ia mengetahui ada orang-orang yang tidak bersedia menyembah patung emas itu. Ketidaktaatan ini membuatnya jadi terhina… bagaimana mungkin seorang bawahan berani bersikap seperti ini pada atasan? Mau mati? dan statement lain yang ia kemukakan dalam kesombongannya adalah, “Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari tanganku?”.

Sebuah tantangan kepada Allah, yang kemudian dijawab oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego dengan sebuah penyataan iman, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Sadar atau tidak kita manusia seringkali punya sikap seperti itu. ketika kita bersebrangan pendapat, atau tidak dituruti, maka yang muncul adalah perasaan terhina yang membuat kita seakan melupakan kemegahan Allah dan mulai bersikap menantang. Mungkin tidak seekstrim itu sampai menantang Allah tapi bukankah sering tanpa sadar sikap seperti itu diperlihatkan pada orang-orang yang ada dibawah kita?

Dan kemarahan itu jugalah yang membuat Nebukadnezar menjerumuskan ketiganya dalam perapian supaya mereka mati. Tapi pertolongan Tuhan selalu ada bagi orang-orang yang mengenal Dia, yang bersandar padaNya. ketiganya tetap hidup dan berjalan-kalan didalam perapian yang menyala itu bahkan ada seorang yang tampak seperti anak Dewa berjalan bersama mereka. Ketiganya selamat…. dan Allah sekali lagi menunjukkan kebesaranNya pada sang raja…

Pada akhir pasal kembali Nebukadnezar mengakui kebesaran Tuhan, “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”

Dan sepertinya ia menganggap dengan memberikan jabatan tinggi saja semuanya sudah cukup. Penyataan itu hanya sekedar kata-kata yang diungkapkan namun kemudian kembali ia lupakan. well apakah itulah sifat manusia yang gampang lupa? Mungkin ada yang bilang.. I’m not like him.. tapi bukankah kadang kita berlaku seperti itu? bukankah sering kita gampang melupakan kebaikan Tuhan? ahhh terlalu jauh.. bukankah sering kita gampang lupa dengan kebaikan seseorang.. dan mulai bertingkah sok berkuasa lagi?

dan apakah ucapan syukur dan pengakuan kita pada kebesaran Tuhan hanya sekedar lip service? ataukah itu sudah menjadi penyataan iman yang akan membawa kita pada pengenalan akan Allah secara pribadi? Pernyataan yang diberikan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego lahir dan muncul dari hikmat yang Tuhan taruhkan dalam diri mereka.. dan juga lahir karena mereka mengenal siapa Allah yang mereka sembah.

.. so.. bagaimana dengan kita? apakah kita sudah mengenal Allah yang kita sembah? maukah kita belajar untuk senantiasa mengintropeksi diri kita?

Share this entry
5 Comments
  1. Oh ya saya pernah baca di koran kompas 2 bulan terakhir ini, tentang pemanasan global, barangkali bisa dimuat.

    Salam
    Konsorsium.org

    Reply
    • ibhe

      nebukadnezar adalah sebuah figur yang kokoh dan tangguh yang harus kita akui. namun beliau berada dalam hamba tuhan yang jahat. sama dengan penguasa dunia pada abad ini

      Reply
  2. mengenai pemanasan global beritanya saya tuliskan di http://www.langitselatan.com

    Reply
  3. agung

    Apa yang dinyatakan Sadrakh Mesakh Abednego, merupakan takaran Iman yang benar

    “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

    Saya menerima nasihat Firman ini sekitar 3 tahun yang lalu dari Gembala Greja saya, dan hingga sekarang menjadi rhem yang menguatkan saya

    Reply
  4. Terkadang kita selalu melihat kesalahan orang lain tanpa melihat dan bahkan tidak mau melihat apa yang baik dari sisi orang tersebut padahal ada bahkan banyak dari sisi mereka yg patut kita contoh, seperti Nebukatnesar. 1 pengakuan dosa ( itu sulit).

    Reply

Leave a Reply

Verse of the Day

Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewal of your mind, that by testing you may discern what is the will of God, what is good and acceptable and perfect. (Romans 12:2, ESV)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Coretan lama