Journal

-- the pilgrim journey --

Home / kontemplasi / Trip to Athens, a trip to know The Lord

Trip to Athens, a trip to know The Lord

When it starts…..
Beberapa bulan lalu, saya masih tak pernah membayangkan akan melakukan perjalanan jauh tahun ini. Masih segar di ingatan saat akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk membatalkan formulir pendaftaran mengikuti ISYA, dengan alasan sederhana, saya ingin santai dan menata kembali hubungan dengan Tuhan yang naik turun laksana ombak. Demikian juga ketika nana menawarkan summer school di Italia. Semua kutanggapi hanya dengan keinginan untuk ikut namun tak pernah merasa benar-benar tertarik dan berusaha memaksakan diri untuk mendaftar dan lainnya. Semuanya karena saya ingin menjauh sesaat dari astronomi. Menjauh dari penelitian, menjauh dari belajar astronomi, menjauh dari banyak hal, hanya untuk menata kembali keping-keping perjalanan yang sudah retak selama beberapa tahun terakhir ini.

Saya bersyukur ada orang-orang yang terus mendukung dalam doa dan menjaga dalam roh sehingga saya bisa melangkah terus dan berada pada titik ini. Tanpa itu saya tak pernah tahu sudah ada di titik mana sekarang.

Well, that’s an intro…. harapan, mimpi ternyata tak semulus apa yang saya harapkan. Keping-keping itu masih terus terserak dalam tanya… kemanakah saya akan melangkah? Mengapa ini masih saja berulang? Sampai akhirnya di suatu minggu pagi, sebuah pertemuan membawa saya dalam perjalanan panjang menuju pengenalan akan Allah. Pagi itu saya bangun dengan rutinitas yang sama, check email dan bersiap ke gereja. Tak ada yang spesial. Sambil menunggu email yang didownload, saya bergoogling ria sambil memasukan random keyword. Well hal yang biasa. Namun kemudian ada sebuah url yang menarik perhatian. Communicating Astronomy with the Public di Yunani.

Saya coba browsing dan akhirnya mengetahui kalau itu sebuah conference. Topik mengenai web 2.0 yang menjadi kajiannya menarik perhatian saya, karena saat ini saya banyak bekerja dengan web 2.0 sebagai sarana berbagi informasi astronomi. Tapi ya seperti biasa, saya tidak terlalu menaruh perhatian. Just left it.

Tapi akhirnya setelah banyak berpikir dan sekedar ingin mencoba, saya lantas mendaftarkan diri dan mengirimkan abstrak dengan sedikit nekat memilih untuk membawa oral paper. Waktu itu saya mendaftarkan diri bersama beberapa orang lainnya. Saya juga mendaftar untuk mendapat support dana dari panitia, walau saya cukup yakin kalau saya tak akan mendapatkannya. Saya sadar untuk urusan seperti ini nama lembaga cukup berpengaruh. Dan seperti yang sudah diduga, saya tidak mendapatkannya. Well… akhirnya saya putuskan untuk mengirimkan surat pembatalan. Tapi karena kesibukan menjelang SSAG, saya tidak mengirimkan email tersebut ke panitia.

Penantian Visa
Waktu berjalan, dan ternyata paper saya diterima untuk oral speech. Hm so apakah saya harus pergi? Banyak pertimbangan yang akhirnya membawa saya pada keputusan untuk tetap berpartisipasi, tapi ada satu hal yang selalu kuingat yakni doa Ibu Dorothy supaya apa yang kulakukan hanya karena kehendak Tuhan dan hanya untuk Tuhan. Going somewhere bukan sekedar jalan-jalan namun untuk menyatakan kehendak Allah.

Walau sudah melakukan konfirmasi, saya masih belum terlalu intens untuk mengurus dokumen keberangkatan karena masih harus fokus dengan SSAG, starparty ultah dan starparty at-taqwa. Apalagi ternyata mengurus visa ke Athena tak segampang yang diperkirakan. Awalnya sih, ingin menyerahkan pada travel agent. Namun mereka menolak kalau harus mengurus visa ke Yunani. Alasannya?? RIBET kudu ada legalisir DEPLU. Apalagi saat itu surat undangan dari panitia belum datang, walau sudah diemail lebih dari 4 kali. Almost give up namun akhirnya saya hanya bisa berserah ma Tuhan. Jadilah seperti kehendakMu. If I have to go than I go… If not I can spent 2 weeks vacation with my friends.

So akhirnya setelah tertunda cukup lama karena menunggu kedatangan surat undangan dari panitia, tanggal 17 September saya pun ke kedutaan Yunani untuk mengurus visa. Setelah sedikit berdebat dan agak marah dengan sekuriti sekaligus front office yang bersikap sangat tidak simpatik. Akhirnya saya mendapat jawaban kalau surat undangan yang saya miliki harus diganti dengan surat yang disertai cap kepolisian Yunani. Namun sama seperti surat undangan yang pertama, surat ini pun lamanya bukan main. Akhirnya saya kembali ke kedutaan tanpa undangan, dan berhasil bertemu konsular. Walau sedikit berdebat saya cuma bisa bilang, saya sudah berusaha meminta undangannya. Dan panitia berjanji akan mengirimkannya. That’s all. He can’t promise anything for me. So another week of waiting. Padahal tanggal keberangkatan tinggal seminggu lagi.

Dalam perjalanan pulang dari kedutaan saya benar-benar merasa down dan panik. Namun akhirnya saya memilih untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan. Jadilah seperti kehendakMu. Sebuah doa pendek namun semua beban terangkat. Tapi saya tetap memberitahu Manolis, panitia lokal di Yunani tentang masalah visa yang saya hadapi dan bertanya apakah mungkin jika ia mengontak mereka masalah undangan? Sebuah jawaban pendek saya dapat. Will do it today and let you know.

Jawaban itu tak terlalu berpengaruh karena saya sudah tak lagi khawatir dan panik akan pergi atau tidak. Saya hanya belajar untuk percaya semua yang terjadi itu berdasarkan kehendak Allah. Simple but it is not indeed. Tapi sedikit panik sih karena baru menyadari saya belum sempat membuat presentasi. What a habit.

Rabu, tanggal 4 Oktober, konsentrasi saya curahkan penuh untuk acara star party di TK at-taqwa. Dan tanggal 5 pagi, atau tepat hari kamis, jawaban didapat, visa saya sudah keluar. Jumat pagi, saya dan peserta lainnya dari Indonesia pun berangkat ke Jakarta, namun visa baru bisa diambil jam 3 sore. Wow… jam 3 dan saya belum packing…padahal besoknya (sabtu, tgl 6 oktober) adalah jadwal keberangkatan saya. Akhirnya sore itu didapat jawaban yang berangkat dari Indonesia hanya saya sendiri.

Goes to Athens
Sabtu siang saya pun berangkat dari Bandung menggunakan transline (not recomended), dan penerbangan saya ke Athena pukul 22.00 menggunakan Emirates Airlines dengan rute Jakarta – Singapura (transit) – Dubai (connecting Flight) – Athena. Sepanjang perjalanan saya benar-benar tidak bisa tenang. Saya lalai dalam memesan kamar hotel. Saya hanya mengandalkan surat undangan yang menyatakan ada kamar yang sudah dibooking. Tapi kekawatiran itu terus mengusik. Sampai akhirnya saya tiba pada satu titik kesadaran, jika Tuhan yang membawaku ke Athena, Ia pasti punya rencana dan Dia sendirilah yang akan menjagaku. Seperti kata I Pi Sia… “kamu pergi sendiri, disana negeri yang asing, keluarga di eropa pun cukup jauh, dan sepupu yang seharusnya di Yunani ternyata sedang kembali ke Itali untuk beberapa hari, so tidak ada manusia yang bisa kamu andalkan Hanya Tuhan yang bisa kamu andalkan.” Yes, there is noone but God.

Jam 2 siang waktu setempat saya pun tiba di Athena. Setelah melalui imigrasi yang meragukanku… walau tidak seketat di Dubai dan Singapura, saya pun bisa masuk ke Athena. Well tiba di airport saya cukup kebingungan. Ga ada panitia yang menjemput seperti yang sudah saya duga. Walau di tangan ada peta perjalanan dari Manolis, tetap saja saya ragu masalah hotel.

img_0384.jpgAkhirnya instead of langsung naik taxi (kata Pak Hakim ga usah naik yang aneh-aneh), saya memilih ke bussiness centre untuk menelpon Manolis. Ternyata Manolis lagi di airport …. ah leganya…. setelah bertemu saya akhirnya tau there is no room for me. Somehow kamar yang sudah disediakan panitia dipake semua untuk tamu diluar conference, karena tau-tau banyak yang datang ke Yunani. But again The Lord is good.

Manolis mengatur supaya saya bisa mendapat kamar. He call the hotel, and he arrange a taxi for me… and says “ the hotel will be waiting for you under the name Yamani.” Dan dari Manolis akhirnya saya tahu kalau dia sendiri kesulitan untuk menghubungi kedutaan. Well… so it means they give me visa without any confirmation about the invitation letter. (Tau sih kalo menghubungi kedutaan Yunani itu susahnya ampun-ampunan atau bisa dibilang .. it’s your lucky day if someone hang up the phone).

Finaly saya tiba di hotel dan bisa beristirahat dan bersiap untuk conference. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain Terimakasih Tuhan sudah mengatur perjalanan saya… He provides everything and holds me in His hand. He never leaves me. Saya benar-benar diajar apa itu berserah sama Tuhan. Berserah bukan sekedar kata-kata namun berani mengambil tindakan untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Satu hal yang selalu saya ingat dari awal, kalau memang Tuhan yang menginginkan saya datang ke Athena, tentu Ia tidak sekedar membuatku datang tanpa tujuan.

So let Thy will, be done.

Share this entry
8 Comments
  1. Wah jadi ngeler nich … Tuhan yang menginginkan saya datang ke Athena, tentu Ia tidak sekedar membuatku datang tanpa tujuan… Amin

    Reply
  2. thank you ya

    Reply
  3. What a journey.. journey bukan sampainya… journey selesai-i semuanyaa, God is good really. nape nggak masukin aye ke koper hikz.. 😉
    yep God is good All the time

    Reply
  4. henny

    Viiii.. tahnk you.. this note bless me so much.. GBU sis

    Reply
  5. Pingback:Just Believe | SimplyVie

  6. It’s very touching.
    I love this.
    Actually, I currently am waiting for the Greek’s visa too. That’s one of my dreamland… ^=*
    Thanks for sharing this one.

    Reply
  7. Pingback:Road to IAU GA 2012 | simplyvie

  8. Pingback:Have Faith! | simplyvie

Leave a Reply

Accept the one whose faith is weak, without quarreling over disputable matters.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: