Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Pejuang Yang Mengakhiri Pertandingan dengan Baik
Apr 5 2008

Pejuang Yang Mengakhiri Pertandingan dengan Baik

Mengenang Johan Imanuel Kirdjo
Bandung, 19 September 2005 – 01 Maret 2008

(Setyabudi, 5 Maret 2008)

jojo.jpg

Mungkin sebagian kita mengenal Johan, sebagian mengenal cukup dekat, sebagian lagi mungkin tidak mengenal dia.

Johan Imanuel Kirdjo lahir tanggal 19 September 2005 secara premateur di Bandung, dengan berat 1.45 kg. Sesaat setelah dilahirkan, puji Tuhan bisa diketahui dengan segera, kalau esofagus dari rongga mulut tidak tersambung dengan lambung, dan lambungnya sangat kecil ukurannya. Dengan beberapa upaya medis, lambungnya bisa diperbesar dan dipasang selang makanan menembus dari perut luar.

Operasi penyambungan esofagus dengan lambung bisa dilakukan setelah anak berusia satu tahun. Jadi sejak bayi, Johan makan dari selang ke lambung. Lidahnya (hampir) tidak pernah merasai susu. Esofagus yang tidak nyambung itu diarahkan ke leher (sehingga di leher harus selalu dipasang handuk kecil/tisu) untuk mengeluarkan air liur. Karena hal itu, Johan tumbuh besar sangat sehat dan cepat. Karena dia tidak pernah menolak makanan/susu.

Setelah konsul dengan dokter di Indonesia, diputuskan Johan dioperasi penyambungan di Singapura. Operasi (akhirnya menjadi operasi pertama) berlangsung bulan Mei 2007 dalam 3-4 tahap karena proses yang sulit… di ambang maut… dan akhirnya ‘gagal’. Kejadian ini adalah kejadian yang sangat menegangkan, dan sangat melelahkan. Hampir 1.5 bulan mereka berada di Singapura (mostly di NUH).

Setelah pulih dari operasi pertama, Johan kembali untuk operasi kedua, bulan Nopember 2007 (setelah perayaan ulangtahun ke-2 di Bandung). Operasi berlangsung relatif cepat dan aman. Sambungan berhasil.

Tapi karena kapasitas makan dari mulut (susu dan bubur, seperti bayi saja) yang belum mencukupi untuk anak seumur dia, maka tetap dipasang selang, tapi kali ini langsung ke usus halus. (Sampai saat wafatnya, selang ini masih terpasang….) Bulan Februari 2008 kontrol kembali ke Singapura. Dan semua dikatakan: baik. Nanti perlu pembesaran sambungan, tapi bisa dilakukan di Indonesia saja.

Demikianlah waktu berjalan, dan meski dalam keadaan yang tidak mudah untuk melatih makan lewat mulut, sambil tetap memberi makanan ke usus halus… tapi so far semua berjalan baik. Karena keadaan ini, Johan tampak makin kurus, asupan tidak sebanding dengan kebutuhan.

Jumat pagi, 29 Februari 2008, Johan masuk RS Borromeus di Bandung karena muntah-muntah. Perkiraan penyakit biasa akibat infeksi somewhere di dalam perut/usus. Rontgen menunjukkan paru-paru bersih.

Semoga bisa pulang setelah 2-3 hari. Sabtu keadaan memburuk, muntah terus, dan banyak cairan (‘kotoran’) masuk paru-paru, terjadi infeksi. Sabtu siang jam 1-an masuk ICU. Mamanya menangis terus. Keadaan makin buruk, tekanan darah labil, melemah dan detak jantung tinggi. Setelah upaya pertolongan yang panjang, akhirnya … Johan meninggal…. isak tangis dan ratapan duka mengiringi kepergiaannya. Tidak hanya ayah dan mamanya, tapi banyak air mata orang tua mengiringinya, Johan telah menjadi ‘anak kita semua’. Ini sungguh membuat shock banyak orang yang menyertai pergumulan Johan khususnya selama 1 tahun terakhir. Bagaimana mungkin jika yang terberat telah lewat (Mei 07), ini dalam waktu sangat cepat Johan ‘kalah’…???

Johan telah berjuang sejak lahirnya. Ketika Mei 07 di Singapura bergulat antara hidup dan mati, dokter menyebutnya: he really is a good fighter, a real fighter. Dan 2,5 tahun dia telah berjuang. Dia telah berjuang dengan baik. Bang Alex dalam kebaktian penghiburan 2 Maret sore mengatakan: Johan telah mengakhiri pertandingan dengan baik (2Tim. 4:7).

ps. tulisan ini diposting atas izin ibunda Johan.

Share this entry
6 Comments
  1. Baru jalan2 ke blog orang ….
    Turut berduka cita buat keluarga alm. Johan. Aku nggak terlalu kenal. Tapi baca artikelnya bikin aku mau nangis ( sial lu vie, gw kan dah lama ga nangis !)…

    Mungkin kalo aku baca artikel ini sebelum punya Rafa, mungkin tidak ada perasaan khusus. Tapi baca artikel ini bikin aku inget Rafa. Tambah sedih aja bacanya….

    Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan oleh Tuhan. Amin….

    Reply
  2. turut berduka cita buat keluarga alm ,mungkin Tuhan punya rencana lain dibalik ini semua

    Reply
  3. Hanzo

    Dear keluarga alm Johan,
    Anak kami Hanzo baru saja lahir bulan lalu dan hampir sama tanggalnya dgn Johan lho. 18 September 2014.
    Lebih sama lagi anak kami walaupun tidak prematur tapi juga Atresia Esofagus seperti Johan.
    Baru umur 4 hari anak kami sudah merasakan pisau bedah.
    Sama seperti Johan anak kami dibuatkan lubang di leher agar air liur keluar dan makan lewat selang kateter langsung ke lambung dan setahun lagi baru dilakukan operasi pembuatan dan penyambungan kerongkongan ke lambung menggunakan usus besar Hanzo sendiri.

    Mohon doanya. Semoga Hanzo bisa melewati ini semua.

    Salam dalam Nama Yesus Kristus,
    Papanya Hanzo
    Jakarta

    Reply
    • Dear Papanya Hanzo, nama saya vivi pengelola simplyvie.com. Saya turut mendoakan kiranya Hanzo bisa melalui semua ini dan disembuhkan. juga utk Bapak dan Ibunya agar tetap kuat dan senantiasa diberkati Tuhan. Saya percaya Allah kita adalah Allah yg menyembuhkan. Komentar Bapak juga saya teruskan ke keluarga alm. Johan.

      teriring salam

      Vivi

      Reply
  4. frasetya

    Dear Ivi,

    terima kasih sebelumnya atas postingannya di atas,
    cerita di atas hampir sama dengan anak saya,
    anak saya ketika lahir mengalami infeksi pada lambung dan usus, ketika umurnya 1 hari anak lambung anak saya harus diangkat total, hingga hari ini anak saya hanya dapat minum susu melalui selang langsung ke ususnya (jejunustomy, dan pada lehernya dilakukan esofagustomy untuk air liurnya)
    dari lahir anak saya sudah dilakukan operasi besar sebanyak 3 kali, yang pertama pengangkatan lambung, yang kedua penyambungan dari esofagus ke usus roux en y (gagal), yang ketiga pengembalian kembali ke keadaan semula sebelum operasi ke dua. begitu besar perjuangan kami sekeluarga terlagi kami hanya berasal dari keluarga yang sederhana.

    ada yang ingin saya tanyakan
    apakah saya bisa mendapatkan informasi mengenai pengobatan dari kedua orang tua johan?
    ataupun saran-saran cara merawat almarhum johan.

    Terima Kasih banyak sebelumnya.

    Reply

Leave a Reply

For the grace of God has appeared that offers salvation to all people. It teaches us to say “No” to ungodliness and worldly passions, and to live self-controlled, upright and godly lives in this present age.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: