Biarlah Yesus Makin Dikenal dan Aku Makin Tak Dikenal

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.(Mat 11:11)

Itulah perkataan Yesus tentang Yohanes. tapi siapakah Yohanes? Begitu hebatkah dia? Yohanes, ia lahir sebagai buah penantian Zakharia dan Elizabeth. Walau Zakharia sempat meragukan janji itu, namun Allah tak pernah main-main dengan perkataanNya. Kehadiran Yohanes bukan hanya untuk mejadi anak yang dinantikan bagi keluarga Zakharia dan Elizabeth tapi juga menjadi pendahulu bagi kedatangan Mesias Yang Hidup.

Tentang Yohanes, malaikat berkata,”ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.

Dalam kitab Yohanes pasal 1 dikatakan ; Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Itulah gambaran yang diberikan alkitab tentang siapa Yohanes, pribadi yang menyiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Dalam hidupnya, Yohanes mendatangi daerah Yordan dan menyerukan “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”

Dan itulah yang dilakukan Yohanes. Membaptis orang dengan air. Baptisan yang dilakukan Yohanes ini memang menjadi perlambang penyucian diri. Dan akan datang Ia yang lebih besar dari Yohanes yang akan membaptis dengan Roh, sebagai tanda pertobatan. Yohanes juga diutus untuk membaptis Yesus dengan air. Baptisan yang sama dengan baptisan yang ia lakukan pada orang-orang yang datang padanya. Namun apakah itu membuat ia menjadi sombong? Tidak.

Dalam Yohanes 1 : 35 -41, diceritakan, saat Yesus telah selesai dibaptis dan kembali bertemu Yohanes keesokan harinya. Saat itu Yohanes sedang bersama dua orang muridnya, dan ketika ia melihat Yesus lewat ia berkata, “Lihatlah Anak domba Allah!”. Yang terjadi kemudian adalah kedua murid itu pergi mengikut Yesus. Ini menarik. Mari kita lihat reaksi Yohanes. apakah dia marah dan melarang murid-muridnya pergi? Nggak tuh. Dia justru membiarkan mereka pergi. Kok bisa? Apakah Yohanes tidak merasa iri atau kecewa karena ia ditinggalkan?

Dari sikap Yohanes kita bisa melihat bagaimana karakternya yang begitu indah. Baginya yang penting Yesus semakin ditinggikan dan dia semakin kecil. Bisakah kita seperti itu? Itu pertanyaannya. Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali kita temukan yang namanya ambisi. Ambisi untuk dikenal dan diakui oleh dunia. Contoh paling gampang, ketika jemaat pindah dari suatu gereja karena ia merasa bisa bertumbuh di gereja yang lain. Reaksi gereja yang ditinggalkan kadang bukannya mendukung jemaat supaya makin bertumbuh di dalam Tuhan, melainkan menjatuhkan gereja lainnya itu. Kenapa? Ini sih bukan masalah doktrin tapi masalah ego dan ambisi. Kita lupa kalau seharusnya yang semakin besar itu Allah bukannya nama pendeta A or B atau nama gereja.

Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Wuah ini lebih banyak lagi. Orang yang bergaya bak pahlawan dan guru yang baik, tapi sebenernya punya banyak maksut tersembunyi. Bahkan sampai menjelek-jelekan yang lain agar muridnya ga pergi meninggalkan dia dan mengikuti yang lain. Gontok-gontokan seperti ini sering terjadi. Bahkan tujuan yang harusnya untuk membangun masyarakat bisa dikesampingkan demi uang dan popularitas.

Akibatnya? Masyarakat yang dikorbankan. Masyarakat hanya menjadi boneka perahan untuk mendapatkan uang, menjadi alat yang diming-imingi tujuan mulia dan prestise demi kebanggaan semu. Semu karena dibalik semua itu ada tujuan-tujuan pribadi yang dikejar, demi memenuhi ambisi pribadi. Mereka tak lagi mau bekerjasama demi sebuah tujuan mulia.. kenapa? karena mereka ingin menjadi besar dan dikenal dunia. diakui dunia.

Itulah manusia. Tapi bagaimna seharusnya anak-anak Allah? Seperti Yohanes, demikianlah seharusnya kita bertindak dan bersikap. Biarlah Allah yang semakin dikenal.. bukan diri kita. Tidak mudah memang karena itu berarti kita harus menundukan ego pribadi kita dibawah kehendak Allah. Ketaatan pada Allah tak pernah menjadi sesuatu yang mudah untuk dijalani. Namun semakin engkau mengenal Allah, maka keinginan untuk dikenal dan diakui dunia itu akan pupus tergantikan dengan kerinuan agar Allah menajdi dikenal lebih dari apapun lewat hidup kita.

Sudahkah kamu seperti Yohanes? Pendahulu yang mempersiapkan jalan bagi Yesus. Demikianlah hidup kita seharusnya.. menjadi jalan agar Kristus semakin dikenal dan dinyatakan. Kita adalah contoh nyata dari kehidupan yang diubahkan. Tanpa itu.. Yesus tak lebih dari cerita di dalam alkitab. Bagaimana ornag lain bisa tertarik mengenal Dia yang diceritakan? tentu lewat kita, lewat cerminan hidup kita. So hiduplah seperti Yohanes yang senantiasa menginginkan Allah lebih besar dibanding dirinya.

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

2 Comments

  • wah… Icha pengen hidup seperti Yohanes, tapi banyak gagalnya. Tapi setelah baca ini, jadi semangat lagi untuk patuh ama Tuhan dan menjalankan fungsi Icha sebagai bejana. nice posting.

  • nice article..
    Memang kerendahan hati adalah sikap hidup yang terbaik

Leave a Reply

%d bloggers like this: