Hidup Dalam Terang

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: ( 1 Ptr 2 : 10)

Hmm apa yang kamu pikirkan ketika membaca ayat itu?

Rasanya bangga gak sih dibilang bangsa yang terpilih, imamat yang rajani dan umat kepunyaan Allah. Siapa sih kita ini? siapa sih saya? Sampai-sampai Allah sendiri menyatakan kita akan memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah. Bagaimana mungkin? wong sekarang aja rasanya semua berjalan tanpa kuketahui hendak kemana. Bahkan kadang ada tanya yang hadir, kemanakah saya akan melangkah? Masih banyak kesalahan yang dilakukan, masih sering gurat kecewa ditorehkan di hatiNya. Tapi Dia bilang kita ini orang-orang pilihan? Wonderful isn’t it?

Kadang untuk memikirkan itu semua rasanya seperti sebuah keajaiban. Yup.. tidak salah semua itu memang keajaiban yang ia berikan dalam hidup kita. Lepas dari kegagalan dan luka yang kita toreh dalam kertas kehidupan kita, Ia justru merangkai kehidupan kita jadi harmoni indah untuk mempermuliakan namaNya. Namun untuk mencapai harmonisasi itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Well.. buat kita yang menjalaninya…. mungkin seperti sedang menabrak tembok.. kadang seperti jatuh dalam jurang tapi kadang kita seperti ada di awan-awan dan menari. Dan semua itu adalah anugrah yang Ia berikan dalam hidup kita sebagai umat pilihanNya yang akan melakukan pekerjaanNya yang besar. Tapi untuk sampai ke ujung perjalanan ada hal-hal yang harus ditempuh. Tak percaya? mari kita lihat bersama….

Kitab 1 Petrus 2 diawali dengan pernyataan “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” Apa artinya ayat ini untukmu?

Hidup berintegritas… sebagai anak-anak Allah kita harus punya hidup yang berintegritas. Buang kejahatan. Mudah tidak? Mudah.. karena kita ga pernah membunuh, mencuri, memperkosa, hmm tak pernah korupsi… tapi benarkah? Nanti dulu….hmm pernah mengubah harga pembelian demi kepentingan “administrasi kantor”? atau supaya semua duit perjalanan tak usah dikembalikan nota perjalanan di mark up sana sini? atau pernah menyontek…. pernah ngibul.. dll.. apakah itu hidup yang berintegritas? Nope! Hidup yang berintegritas menuntut kita untuk benar-benar kudus dihadapan Allah. Wuah susah.. mana bisa….

Pada akhirnya ayat ini memang berbicara tentang kehidupan baru di dalam Kristus. Orang-orang yang dibawa dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib oleh Dia inilah yang bisa disebut bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah. Inilah kehidupan baru dari orang-orang yang dibawa keluar dari kegelapan kepada terang untuk menyatakan perbuatan besar dari Allah kepada dunia. Kehidupan dari gelap ke terang adalah sebuah kehidupan yang mengalami perubahan. Tapi bagaimana kita bisa berjalan dalam perubahan itu?

Tuntutan dunia tak bisa dipungkiri membawa kita pada hal-hal yang semu. Yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah bagaimana kita bisa melakukan kebenaran ditengah impitan ketamakan dunia ? Tak bisa dipungkiri himpitan ekonomi serng menjadi masalah dalam menjaga integritas manusia namun takhta pun membuat manusia buta dan menjual iman dan kebenaran demi mendapatkannya. Hanya itu? Oh tidak… cinta dan kepalsuan bisa membuat manusia menjual iman dan harga diri untuk mendapatkannya. Bahkan dengan mengatasnamakan kebaikan, manusia yang katanya mengenal Tuhan pun bisa mengeksploitasi orang lain. Jadi mungkinkah kita tetap hidup dengan berpegang pada kebenaran? Kenapa tidak?

Tidak ada yang tidak mungkin.. tapi itu semua bergantung pada pilihan kita… kemana kita hendak melangkah. Apakah kita tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran supaya kita bisa bercerita tentang perbuatanNYa yang besar ataukah kita memilih untuk larut dalam rengkuh kenikmatan dunia. Setiap pilihan pada akhirnya membawa kita pada konsekuensi.

Gampangnya kalo berpegang pada kebenaran bisa jadi kita akan hidup miskin… ga dapet pasangan yang bak pangeran … atau dipersulit dimana-mana. Sementara kalau kita melepas kebenaran kita bisa hidup sukses dalam gelimang harta dan pujian.

Bagi orang-orang yang pernah merasakan gelapnya kegelapan ia tau betapa tersiksanya hidup ditengah kegelapan itu. Kenikmatan yang ditawarkan di sana semu belaka. Ia akan menghargai dan mencintai terang itu sehingga perubahan yang terjadi bukan karena diwajibkan tapi karena kasih yang begitu besar yang mengalir setelah merasakan kasih karuniaNya. Tapi kadang gemerlap dunia ini memang bisa menarik siapa saja untuk kembali dalam rengkuhannya.

Karena itu perjalanan yang senantiasa diubahkan sangatlah penting dalam kehidupan orang-orang yang mengalami hidup baru tersebut sehingga setiap detik perjalanan hidupnya akan diisi oleh perbuatan-perbuatan Allah yang besar yang akan senantiasa diceritakan dalam sepanjang hidupnya.

Hidup dalam terang bukan berarti hidup yang senantiasa penuh keindahan. Kadang kita harus menghadapi tembok yang menghalangi, atau bahkan pisau guillotine. Well… bahkan di dalam terang pun, pekerjaan Allah sepertinya sangat samar ketika kita di tengah badai. Seringkali di penghujung badai kita baru akhirnya memahami dan melihat rangkaian indah nada yang telah Ia buat dalam hidup kita. Sehingga kita pun bisa melihat arti dari kita sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah. Dan yang paling penting kita bisa bercerita tentang perbuatanNya yang besar.

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

Leave a Reply

%d bloggers like this: