Dulu saya senang menulis dan bercerita tentang prestasi adik-adik kita yang ikut olimpiade. Bangga donk anak-anak Indonesia pinter-pinter. Tapi belakangan ini rasanya semua jadi semu. Di tv kita sering dengar tentang prestasi adik-adik kita itu. Prestasi yang memberikan prestise bagi si anak, sekolah, tim pelatih dan negara.
Semua sekolah berlomba untuk ikut olimpiade sains.. dan pelatihan pun mulai dilakukan dimana-mana. Menarik karena akhirnya ini jadi lapangan pekerjaan buat mahasiswa. Pelatihan ini bukan hanya untuk astronomi namun juga untuk bidang lainnya.
Siswa yang dimajukan ke pertandingan tingkat kabupaten, kotamadya, propinsi, nasional bahkan internasional adalah siswa-siswa yang sudah terlatih. Terlatih.. karena mereka diajarkan dengan materi yang biasanya diujikan dan diberi persoalan yang berasal dari soal-soal sebelumnya atau yang setipe.
Pelatihan olimpiade dicari oleh tiap daerah. Berlomba-lomba daerah memberi pelatihan terbaik pada siswa-siswanya dan tentunya dengan menggunakan tenaga profesional bidang tersebut. Wajar karena tiap daerah ingin mendapatkan medali. Sudah mirip bimbel sih.
Imbas dari pelatihan itu.. tentunya kita tak bisa menutup mata.. pelatihan tidak diadakan secara gratis. ada duit ada pelatihan. Pada akhirnya daerah-daerah yang mampu akan memberikan bayaran yang juga “menarik”. Bagaimana dengan daerah yang tak mampu? Well mungkin terserah pemdanya.. I don’t know.
Tapi ada fakta lapangan yang menarik. Tahun lalu saat sedang mempersiapkan gathering astronomi, saya menerima sebuah telpon. Yang menelpon seorang guru dari daerah yang sedang membawa siswanya untuk ikut lomba olimpiade sains nasional. Dia mengatakan siswanya butuh pelatihan. Saya pun menganjurkan dia ke kampus untuk bertemu dengan orang-orang yang terbiasa menangani hal tersebut. Tapi jawabannya membuat saya miris.
Katanya, “mbak, saya alumni kampus A dan saya tau disana ada fasilitasnya. Kami sudah kesana tapi ditolak karena katanya kudu bayar x rupiah. Kami ga berani ke kampus mbak (say it kampus B), disitu khan banyak ahlinya.. kami cuma punya duit y rupiah.. kampus A aja ga mau apalagi kampus yang mbak sarankan. Pasti mintanya lebih mahal. Kami ga ada uang….Inipun duit yang kami sisihkan dari biaya perjalanan kami dari daerah. Bisa gak mbak dan teman-teman membantu kami…? Yah setidaknya kalau ada perbaikan ranking, tahun depan mungkin dikasih biaya buat pelatihan.”
Yeah right… pendidikan sudah jadi komoditas…. yang dikejar adalah ranking.. prestise buat pemda… buat sekolah dan entah buat siapa lagi. Bahkan menurut kabar, untuk olimpiade semuanya ditenderkan. Hmm… kalau bicara tender.. kita pasti taulah sejarah tender di negara ini.. it’s all about money.
Jadi untuk apakah olimpiade sains? untuk prestasi ? ataukah prestise bagi sekelompok orang? Olimpiade yang dikatakan sebagai ajang populerisasi sains pun semakin diragukan.. populerisasi untuk siapa? siswa berprestasi ? Sekolah berduit? Pemda berduit? It’s all about money…. lantas bagaimana dengan siswa-siswa yang tidak berprestasi? Tidakkah mereka pun layak mengenal sains?
Oya saya lupa… ketika pelatihan olimpiade.. apakah bisa disebut populerisasi kalau yang diajarkan adalah materi untuk olimpiade? Padahal yang diperlukan adalah materi-materi dasar pada seluruh siswa dari semua lapisan untuk memahami sains.. sehingga bisa mereka aplikasikan. Wong, memahami heliosentris saja masih berantakan kok. Untuk memahami prinsip benda yang berada dalam objek yang bergerak saja masih tidak mampu. Kita harus berani mengakui kalau pemahaman dasar dari siswa di negara ini masih sangat minim.
Sebelum menutup tulisan ini, di langitselatan, ada komentar seorang guru dari sekolah di daerah. Katanya, “kok langitselatan tidak menyediakan soal dan jawaban olimpiade? Kami membutuhkan itu untuk mengikuti olimpiade. Dan itu cara buat populerisasi astronomi…”. Harus seperti itukah mengkomunikasikan sains? I don’t think so.
Pada akhirnya olimpiade sains hanya jadi ajang mengeksplotasi siswa untuk berbagai kepentingan. Tapi buat para siswanya…. saya tau dibalik semua pelatihan itu, anda-anda adalah orang-orang berprestasi yang layak dapat penghargaan.
Trackbacks & Pingbacks
- Pingback by anugrahkusuma.com » Olimpiade Sains sebagai Sarana Menutupi Kebusukan Sekolah on June 23, 2008 @ 9:42 am



Bisnis… selama masih ada orang bodoh (dan mau dibodohi), bisnis tetap jalan. See : http://anugrahkusuma.com/blog/?p=59
Pembahasan lain, masih terkait artikel ini : http://anugrahkusuma.com/blog/?p=75
yaa vie…pendidikan di sini masih selalu berdasarkan itu..ini ladang baru untuk para “pengajar” so tidak mengherankan kl ladangnya basah banget!!
cuma berharap anak-anak itu tidak berhenti bergerak!!
ga semua kq mba. saya maupun pihak sekolah tidak mengeluarkan uang sepeser pun. anak saya bisa lolospun belajar sendiri. percaya atau tidak, anak saya juga tiba2 ditunjuk oleh sekolah untuk ikut olimpiade 2 hari sebelum seleksi, tanpa bimbingan sama sekali dari guru (hanya 1 kali bahas soal seleksi untuk ke kodya). Bahkan yang lebih jahat, untuk seleksi propinsi awal juni kemarin sama sekali tidak ada bimbingan. Ga tau juga kalo’ sebenernya ada dana untuk itu. yang jelas anakku cuma modal nekad aja ikut, sama sekali ga ada persiapan, ga ada yg bertanggung jawab. sementara dari kota lain ada, bahkan banyak ortu2 yg bawa guru privat segala ke lokasi di lembang.
malah pemenang kodya/ kabupaten dapet hadiah. gimana dengan kota lain? ada yang bernasib sama ga dengan anak saya?
mba caecil setau saya di daerah banyak yang ga kayak gitu. seperti fakta lapangan yang saya temui itu. Tapi di tingkat propinsi pelatihan daerah sudah dilakukan oleh tenaga2 profesional yang di”sewa’. Banyak bimbel olimpiade juga saat ini.
Soal dana.. hmm tergantung daerahnya juga. Untuk daerah2 tertentu ada dana yang disiapkan khusus untuk pelatihan atau ada perusahaan2 yang siap memberikan dukungan dana untuk pelatihan bagi daerah dimana perusahaan itu bernaung.
Soal pemenang dapet hadiah apa nggak saya kurang tau. Tapi pengalaman saya ikut lomba saat smp sma.. kalau menang ga dapet apa2 kok mbak.
Fenomena lainnya di daerah adalah, murid-murid ingin diajarin oleh orang yang “pinter”, tetapi orang yang pinter untuk level olimpiadenya ngga ada. Orang semuanya pada migrasi sekolah dan kerja ke Jawa. Dulu itu fenomena yang saya alami sendiri. Tapi itu dulu, lima belas tahun yang lalu. Mungkin fenomena yang sekarang ya model berbayar seperti yang Ivie bilang.
Di milis evolusi yang saya ikuti ada artikel menarik yang ditulis salah satu orang Indonesia yang pernah menjdi anggota program SDI “star wars”nya Ronald Reagan.
Beliau berpendapat sangat kasar terhadap trend olimpiade2 sains di Indoesia. Dia mengatakan bahwa semua olimpiade itu hanyalah (maaf cuma mengutip) “Onani saintifik”, hanya kepuasan sendiri di tengah majunya sains di dunia. Setelah saya pikir baik2 benar adanya pendapat beliau. Olimpiade nyatanya “hanya” diikuti oleh negara2 berkembang atau negara bekas Uni sovyet dan sedikit dari adik2 kita yang meneruskan karir sebagai ilmuwan yang menghasilkan karya sekelas nobel. Berbeda dengan India dan Pakistan yang sama2 negara berkembang tapi jarang berpartisipasi dalam event olimpiade tapi sudah menghasilkan Nobel laurate.
Dengan tidak merendahkan daya dan upaya adik2 kita di ajang olimpiade, seharusnya kita berefleksi pada kenyataan bahwa pelatihan olimpiade sudah menjadi bisnis. Tidak ada lagi pemahaman sains secara metodologis, yang tersisa hanyalah hafalan fakta2 dan drilling soal2 yang tak berkesudahan.
Satu lagi mba ivie, saya mau minta ijin memuat tulisan mba ivie ini di milis Almumni MIPA UI dan evolusi. Karena topiknya relavan dengan masalah di MIPA UI mengenai rebutan lahan untuk melatih Olimpiade. Tentunya saya akan cantumkan nama Authornya.
Terimakasih.
mas pras silahkan dipakai tulisannya. n ini yg mungkin jadi perhatian banyak org ttg olimpiade. Mungkin memang benar saat ini kita tengah melakukan onani saintifik tersebut.
Aku pernah nanya ke calon peserta IOAA yang lagi pelatihan: kenapa ikut olimpiade Astronomi?
Jawabannya bikin aku heran: TERJEBAK.
Kupikir cuma kuliah aja yang bisa terjebak salah jurusan.
biasanya diperintah sekolah Ed. gue dulu juga gitu h -1 tau2 disamperin guru disuruh ikut olimpiade fisika & matematika. Untungnya jaman dulu belon tren pelatihan.