Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Olimpiade, Prestasi atau Prestise?
Jun 22 2008

Olimpiade, Prestasi atau Prestise?

Dulu saya senang menulis dan bercerita tentang prestasi adik-adik kita yang ikut olimpiade. Bangga donk anak-anak Indonesia pinter-pinter. Tapi belakangan ini rasanya semua jadi semu. Di tv kita sering dengar tentang prestasi adik-adik kita itu. Prestasi yang memberikan prestise bagi si anak, sekolah, tim pelatih dan negara.

Semua sekolah berlomba untuk ikut olimpiade sains.. dan pelatihan pun mulai dilakukan dimana-mana. Menarik karena akhirnya ini jadi lapangan pekerjaan buat mahasiswa. Pelatihan ini bukan hanya untuk astronomi namun juga untuk bidang lainnya.

Siswa yang dimajukan ke pertandingan tingkat kabupaten, kotamadya, propinsi, nasional bahkan internasional adalah siswa-siswa yang sudah terlatih. Terlatih.. karena mereka diajarkan dengan materi yang biasanya diujikan dan diberi persoalan yang berasal dari soal-soal sebelumnya atau yang setipe.

Pelatihan olimpiade dicari oleh tiap daerah. Berlomba-lomba daerah memberi pelatihan terbaik pada siswa-siswanya dan tentunya dengan menggunakan tenaga profesional bidang tersebut. Wajar karena tiap daerah ingin mendapatkan medali. Sudah mirip bimbel sih.

Imbas dari pelatihan itu.. tentunya kita tak bisa menutup mata.. pelatihan tidak diadakan secara gratis. ada duit ada pelatihan. Pada akhirnya daerah-daerah yang mampu akan memberikan bayaran yang juga “menarik”. Bagaimana dengan daerah yang tak mampu? Well mungkin terserah pemdanya.. I don’t know.

Tapi ada fakta lapangan yang menarik. Tahun lalu saat sedang mempersiapkan gathering astronomi, saya menerima sebuah telpon. Yang menelpon seorang guru dari daerah yang sedang membawa siswanya untuk ikut lomba olimpiade sains nasional. Dia mengatakan siswanya butuh pelatihan. Saya pun menganjurkan dia ke kampus untuk bertemu dengan orang-orang yang terbiasa menangani hal tersebut. Tapi jawabannya membuat saya miris.

Katanya, “mbak, saya alumni kampus A dan saya tau disana ada fasilitasnya. Kami sudah kesana tapi ditolak karena katanya kudu bayar x rupiah. Kami ga berani ke kampus mbak (say it kampus B), disitu khan banyak ahlinya.. kami cuma punya duit y rupiah.. kampus A aja ga mau apalagi kampus yang mbak sarankan. Pasti mintanya lebih mahal. Kami ga ada uang….Inipun duit yang kami sisihkan dari biaya perjalanan kami dari daerah. Bisa gak mbak dan teman-teman membantu kami…? Yah setidaknya kalau ada perbaikan ranking, tahun depan mungkin dikasih biaya buat pelatihan.”

Yeah right… pendidikan sudah jadi komoditas…. yang dikejar adalah ranking.. prestise buat pemda… buat sekolah dan entah buat siapa lagi. Bahkan menurut kabar, untuk olimpiade semuanya ditenderkan. Hmm… kalau bicara tender.. kita pasti taulah sejarah tender di negara ini.. it’s all about money.

Jadi untuk apakah olimpiade sains? untuk prestasi ? ataukah prestise bagi sekelompok orang? Olimpiade yang dikatakan sebagai ajang populerisasi sains pun semakin diragukan.. populerisasi untuk siapa? siswa berprestasi ? Sekolah berduit? Pemda berduit? It’s all about money…. lantas bagaimana dengan siswa-siswa yang tidak berprestasi? Tidakkah mereka pun layak mengenal sains?

Oya saya lupa… ketika pelatihan olimpiade.. apakah bisa disebut populerisasi kalau yang diajarkan adalah materi untuk olimpiade? Padahal yang diperlukan adalah materi-materi dasar pada seluruh siswa dari semua lapisan untuk memahami sains.. sehingga bisa mereka aplikasikan. Wong, memahami heliosentris saja masih berantakan kok. Untuk memahami prinsip benda yang berada dalam objek yang bergerak saja masih tidak mampu. Kita harus berani mengakui kalau pemahaman dasar dari siswa di negara ini masih sangat minim.

Sebelum menutup tulisan ini, di langitselatan, ada komentar seorang guru dari sekolah di daerah. Katanya, “kok langitselatan tidak menyediakan soal dan jawaban olimpiade? Kami membutuhkan itu untuk mengikuti olimpiade. Dan itu cara buat populerisasi astronomi…”. Harus seperti itukah mengkomunikasikan sains? I don’t think so.

Pada akhirnya olimpiade sains hanya jadi ajang mengeksplotasi siswa untuk berbagai kepentingan. Tapi buat para siswanya…. saya tau dibalik semua pelatihan itu, anda-anda adalah orang-orang berprestasi yang layak dapat penghargaan.

Share this entry

Leave a Reply

Plans fail for lack of counsel, but with many advisers they succeed.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: