Selintas Perjalanan dari Bosscha

Suasana pengamatan GAO-ITB RTS dari Jepang tampak di layar dan streaming rasi Crux dari Bosscha ke JepangSabtu 5 Juli 2008, jam 15.30 sore (lengkap kan?) saya berangkat menuju Observatorium Bosscha. Hari itu ada acara remote observation dari Jepang ke Indonesia menggunakan teleskop GAO-ITB RTS. Acaranya sendiri berupa kuliah umum dari Indonesia ke Jepang mengenai objek-objek langit di Indonesia yang diamati via internet oleh publik Jepang. Menarik? O jelas.. tapi sayang saya pusing ga ngerti Bahasa Jepangnya. Tapi kira-kira taulah kalo Pak Hakim lagi jelasin tentang Crux si Salib Selatan, dan rasi Centaurus yang terlihat indah malam itu. Semalam langit Bosscha memang cerah.. dan acara berjalan sangat lancar walau mungkin bandwith internetnya ga semulus yang diharapkan. Streaming ke Jepangnya patah-patah.. kumaha ITB teh?

Jam 8 acara selesai, dan para pengunjung dan tamu yang sebagian besar mahasiswa dan alumni Astronomi ITB, HAAJ dan juga tim IOAA dari indonesia pun pulang. Acara hari itu berakhir baik dan ternyata mendapat kesan baik dari Jepang. Acaranya sederhana sekali. Jangan bayangkan anda duduk di dalam ruangan. Pengunjung menikmati seluruh acara dari halaman teropong GAO-ITB RTS. Salut saya melihat tim tersebut yang walau kecil dan sederhana bisa menghasilkan sebuah acara yang berbobot dan sarat edukasi antar dua negara.

Pulangnya saya turun ke baruajak menanti teman-teman yang lain. Biasa males jalan jadi nebeng yang bawa motor. Waktu nunggu ada 2 mobil avanza yang mencoba masuk kawasan Teropong bintang dan langsung dicegah oleh masyarakat setempat dan beberapa tukag ojek. Mereka dengan sabar menjelaskan pada para pengendara mobil itu kalau Bosscha tak bisa dikunjungi karena ada pengamatan dan penelitian yang dilakukan, plus menjelaskan segala aturan tentang bagaimana mengunjungi Bosscha.

Menarik… yang jadi juru bicara bukannya petugas Bosscha melainkan masyarakat setempat. Sisi lain yang menarik perhatian saya adalah… para pengendara mobil itu yang sepertinya berisi satu keluarga itu merespon dengan nada yang agak tak enak.

“Penelitian? Loh kenapa gara-gara penelitian kita ga bisa mengunjungi? Padahal sudah jauh-jauh dateng,” kata bapak pengemudi. Kembali dengan sabar pemuda yang dari tadi menerangkan tentang kunjungan itu meladeni si Bapak. Sampai akhirnya saya dan dino pun memilih untuk nimbrung dan menjelaskan tentang kunjungan dan Bosscha sebagai observatorium yang harus mengutamakan penelitian. Dan memberitahukan aturan-aturan kunjungan dan membagi nomer telpon Bosscha supaya mereka bisa mendaftar.

Menarik buat dikaji, karena bagi masyarakat Observatorium Bosscha adalah tempat wisata yang harusnya bisa dikunjungi setiap saat dan aneh jika ternyata demi penelitian tidak bisa dikunjungi. Kok bisa begitu? Usut punya usut tentunya karena Observatorium bosscha ini juga dinyatakan sebagai tempat wisata ilmiah astronomi. Di sisi lain, Bosscha merupakan observatorium yang seharusnya mengutamakan penelitian dan sudah seharusnya masyarakat juga diberikan informasi bahwa layanan publik bukan segalanya tapi penelitianlah yang jadi landasan utama observatorium tersebut.

Atau mungkin kondisinya sudah bergeser? Well pertanyaan itu cuma nongol sekilas namun terus terpikir sampai saat ini.

Sesaat setelah avanza itu melaju menuju Bandung, teman-teman lain pun datang dan kami pun memutuskan makan malam di Coto Makassar yang ada di setiabudi.. Jadi pengen ke makassar dan ambon lagi…..

Buat tim GAO-ITB RTS.. saya ucapkan selamat atas acaranya. Menarik sekali…

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

Leave a Reply

%d bloggers like this: