Journal

-- the pilgrim journey --

Home / traveling / Menikmati Sejarah Masa Lalu di Museum Louvre
Aug 30 2008

Menikmati Sejarah Masa Lalu di Museum Louvre

Hari ketiga di paris (26 Juli 2008), saya memutuskan untuk berkunjung ke museum Louvre (Musée du Louvre), salah satu museum terkenal di Paris yang sekaligus juga menjadi simbol nasional kota tersebut. Sebelum menyambangi museum Louvre, saya dan Cherrie menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah pasar antik. Setelah berputar-putar sesaat, akhirnya kami menemukan jajaran toko yang menjual barang-barang tua yang menarik.  Toko mainan di area tersebut pun sangat menarik. Ah seandainya saya sanggup membawa banyak barang tentu sudah saya borong semuanya, karena harga yang ditawarkan pun sangat wajar.

Setelah berkeliling sejenak, kami pun ke Louvre museum. Di area depan Louvre, tampak sekelompok penyanyi jalanan yang sedang mempertontonkan permainan musiknya, sambil berjualan beberapa cd berisi lagu-lagu mereka. Ini satu hal yang sangat kusukai dari eropa. Menikmati musik pengamen jalanan yang terdengar indah tidak asal-asalan seperti di jalanan Bandung.

Masuk pelataran museum Louvre yang luas, membuatku serasa masuk dalam zaman yang berbeda. Gedung – gedungnya yang bergaya klasik benar-benar khas mencerminkan kisah-kisah jaya kerajaan tua di Eropa. Konstruksi palais du Louvresendiri dimulai pada tahun 1190 pada zaman Philip II dan terus mengalami renovasi dari waktu ke waktu. Piramida di tengah museum Louvre yang jadi pintu masuk utama museum baru dibangun pada tahun 1983 saat pemerintahan Presiden François Mitterand dan selesai dibangun pada tahun 1993.

Dari Napoleon hall, kami memutuskan untuk memulai perjalanan menikmati koleksi di Louvre dari bagian Sully yang berisi sejarah Louvre, Medieval Louvre, Peninggalan Mesir, Mesopotamia, Roma, Iran, Arabia, serta lukisan Perancis. Tak terasa setelah berputar-putar kami ternyata sudah memasuki bagian Richelieu Wing yang diisi dengan koleksi abad pertengahan, patung-patung Perancis maupun Roma, Apartemen Napoleon III dan koleksi dari raja Louis  XIII. Di area yang kami kunjungi, koleksi yang kami temui sebagian besar merupakan perkakas yang dibuat untuk menunjang kehidupan masyarakat saat mulai membentuk kebudayaannya sendiri. Juga diperlihatkan bagaimana pada masa itu, wanita-wanita di masa-masa awal tersebut sudah mulai membuat berbagai perhiasan dari batu. Tampaknya kecantikan dan keindahan tak pernah lekang dimakan usia. Perempuan selalu ingin tampil menarik dari masa ke masa.

Koleksi patung-patung yang dipamerkan di taman juga sangat menarik, memberi penggambaran keinginan manusia dan hubungan antar manusia maupun bagaimana pengaruh kepercayaan pada para dewa mempengaruhi karya seni mereka. Sisi lain yang menarik adalah apartemen Napoleon III atau yang dikenal sebagai Napoleon Bonaparte, Presiden I Republik Perancis. Apartemennya tertata apik dengan koleksi furnitur yang indah disertai padu padan lampu dan lukisan abad pertengahan. Sangat indah namun tampak sederhana dan menawan serta mencerminkan keanggunan seorang bangsawan. Dari apartemen Napoleon III, kami pun masuk ke ruang koleksi barang-barang Louis XIII (mudah-mudahan saya ga salah inget).

Tak terasa waktu bergulir dan museum tak lama lagi akan ditutup. Kami pun beranjak pulang dan menikmati kesibkan masyarakat Paris di pinggiran sungai Seine. Jangan bayangkan sungai di Indonesia. Seine mengalirkan air yang jernih dengan pemandangan gedung-gedung kastil tua yang sangat khas. DI tepi sungai tampak masyarakat menikmati sore itu dengan berjemur dan menari atau sekedar duduk-duduk di tepi sungai sambil bercengkrama. Anak-anak kecil tampak berlarian menikmati suasana sambil bermain air di shower yang disediakan.  Sementara di tengah sungai Seine tampak kapal-kapal yang mengantarkan turis berkeliling. Setelah bersantai sejenak menikmati suasana sore di tepi Seine, kami pun kembali ke hotel.

Malamnya kami menikmati makan malam dengan hidangan french onion soup (bener ga yah namanya?). Keesokan harinya, dengan Thalys kami pun menuju Belanda, dan berpisah karena Cherrie kembali ke Amsterdan dan saya menuju Schippol untuk kembali ke Indonesia.

Di Schippol saya bertemu Vion dan Tri. Setelah berkeliling di Plaza Schippol dan bercengkrama, pukul 7 malam saya pun masuk ke area ruang tunggu dan terbang dengan pesawat KLM menuju Indonesia.

Kredit foto : dokumentasi pribadi

Share this entry

Leave a Reply

What shall we say, then? Shall we go on sinning so that grace may increase? By no means! We are those who have died to sin; how can we live in it any longer?
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: