Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / APRIM dalam Perspektif
Sep 1 2008

APRIM dalam Perspektif

Baru 3 hari tiba di Indonesia, saya sudah harus melakukan perjalanan kembali. Kali ini saya menuju Kunming, China untuk menghadiri the 10th Asian Pacific Regional IAU Meeting. Jumat pagi, atau tepatnya tanggal 1 Agustus saya pun berangkat menuju Kunming menggunakan Cathay Pacific sampai di Hong Kong, kemudian nginep semalam di Hong Kong sebelum melanjutkan perjalanan ke Kunming dengan Dragon Air.

Tepat pukul 2 siang, saya pun tiba di Kunming. Hal pertama yang cukup mengejutkan adalah introgasi pihak imigrasi yang intens dan terkesan paranoid. Bahkan meski saya sudah menunjukan notifikasi buat visa mereka masih juga tak memperkenankan saya lewat. Pertanyaan terus mengalir, dan beberapa menit kemudian baru saya diizinkan masuk. grr…. perasaan imigrasi di Dubai ama Eropa aja ga segitunya.  Apa mungkin karena olimpiade yang akan dilaksanakan di China atau memang mereka paranoid berlebihan?

Keluar dari bandara, ternyata ada sukarelawan dari pihak panitia sudah menjemput. Lega rasanya tak harus mencari transportasi sendiri menuju hotel. Bersama dengan beberapa peserta lain, kami pun dibawa menuju Yun An conference resort hotel dengan sebuah mini bus. Tiba di hotel, ternyata kami belum bisa check in. Ada serangkaian panjang registrasi  yang harus dilalui. Agak tak biasa, karena biasanya begitu tiba saya langsung masuk hotel, proses registrasi dll baru dilakukan pada pagi keesokan harinya saat acara akan dimulai.

Yang pertama harus dilakukan adalah registrasi ulang dan mengambil resi pembayaran registrasi APRIM. Setelah harus bersusah payah mencari nama sendiri yang entah  disusun berdasarkan negara atau apa, saya harus mendapatkan kenyataan kalau saya dituduh belum membayar uang registrasi. Setelah berdebat dan menunjukan resi transfer, sukarelawan yang menangani pun membuatkan bukti pembayaran di atas sebuah kertas fotokopi. Well.. okelah… I can accept that. Setelah registrasi saya diminta ke bagian akomodasi untuk urusan pembayaran hotel. Wow.. ini pertama kalinya saya bayar hotel sebelum nginep. Dan ternyata saya harus membooking ulang. Wow… sempat terpikir, trus ngapain saya booking tuh kamar jauh-jauh hari kalau ternyata sampai di tempat harus booking ulang? Pelayanan yang lambat membuat saya yang sudah kecapaian jadi kesal.

Puncak kekesalan terjadi saat membayar hotel dengan cc dan ditolak. Tuduhannya sepertinya cc anda tidak bisa dipakai di luar Indonesia. Grrrr… bener-bener deh.  Saya cuma bisa bilang.. kalau memang ga bisa dipake, kok saya bisa bayar hotel di Hong Kong hari ini dengan cc yang sama?  Wah lumayan lama juga berdebat dengan pihak hotel yang ga bisa bahasa inggris dan harus diterjemahkan oleh sukarelawan. Setelah masalah akomodasi beres, saya masih harus ngantri untuk ngambil tas dan pernak pernik conference. Setelah itu, saya harus ngantri lagi untuk mengambil kunci kamar dan men-deposit 100 Yuan ke hotel. ckckck….

Akhirnya sekitar jam 5 sore saya pun bisa beristirahat. Agak shock juga melihat kamarnya yang luas dan diisi meja mahjong. Gile gue mau judi di kamar kali ya? Dan bathtub nya juga agak tidak biasa. Bisa dipakai untuk perosotan kalau kata teman-teman. Malamnya saya pun bertemu teman-teman dari Indonesia yang sudah tiba lebih dahulu di restaurant.

Konferensi di kunming berlangsung selama 3 hari tanpa pernah ditutup dan tanpa saya kenali yang mana saja LOC nya. Saya tak pernah tau orang-orang di balik email yang melakukan kontak dengan saya.  LOC yang ramah dan hangat tak pernah saya temui di Kunming. Acara talking party yang diselenggarakan oleh LOC pun tak menampakan keberadaan seluruh LOC. Hanya ada seorang Bapak yang kami perkirakan bagian dari LOC yang dengan ramah mengajak peserta untuk ngobrol. Yang menarik di sepanjang acara ini adalah pertemuan dengan rekan-rekan astronom dari Filipina dan Jepang. Obrolan dan relasi pun dibangun tak hanya dalam bentuk jalinan kerja namun juga dalam permainan kartu dan keakraban bersama.

APRIM ke-10 di Kunming ini agak aneh menurut saya, karena tidak ada acara penutupan konferensi yang biasanya disertai pemberitahuan dimana APRIM selanjutnya akan diadakan. Hal lainnya yang sangat saya sesalkan adalah kesan dianak tirikannya sesi poster. Jika biasanya poster mendapatkan tempat di ruang coffee break, di APRIM kali ini terjadi hal yang sangat berbeda.

Hari pertama, saat acara dibuka dan plenary session dimulai, tidak ada ruang buat poster. No poster session in the first day of the meeting. Hal lain yang cukup membuat terkejut adalah panitia dalam hal ini sukarelawan yang tampaknya tidak mau tahu dengan kesulitan peserta. Dalam presentasi di plenary session, tampak jelas kekecewaan Michael Dopita yang harus rela kehilangan seluruh gambarnya karena harus mentransfer seluruh presentasinya di mac ke dalam format ppt windows milik panitia yang entah versi berapa. Saat itu seluruh peserta hanya boleh menggunakan laptop panitia. Aneh, karena panitia sendiri tidak mengantisipasi perbedaan OS yang mungkin saja terjadi di antara para presenter.

Akhirnya saya pun harus bertanya ke sukarelawan mungkinkah saya menggunakan macbook saya saat presentasi? Ternyata sukarelawan tak bisa memberi ijin. Yang mereka tahu hanyalah.. “bring your ppt to our laptop”. Grrrrr…. I work on iwork, and I don’t wanna loose all the effect if I save it as ppt. Pada hari presentasi saya, untunglah beberapa dari kami memilih untuk menggunakan laptopnya sendiri, dan para sukarelawan tak bisa menentang itu.

Hari kedua, saat sesi paralel dimulai, peserta yang membawa poster paper diminta untuk mengambil sendiri papan untuk poster di panitia (papan sterofom), membawanya ke ruang sesi paralel yang terkait dengan si poster dan memasang posternya disana. Bener-bener membuat shock!

Tampak teman-teman yang membawa poster harus menelan kekecewaan karena posternya hanya bisa disandarkan pada tembok ruang kelas tempat sesi paralel berlangsung. Jangan bayangkan sebuah papan yang berdiri tegak untuk poster seperti pertemuan ICMNS di ITB, APRIM ke-9 di Bali, GHOU di Lisbon atau CAP di Yunani. Poster benar-benar digeletakkan di lantai di sisi ruang kelas.  Dengan posisi seperti itu tak banyak yang tertarik dan “ngeh” untuk mengunjungi dan membaca poster tersebut.  Sesi populerisasi dan edukasi astronomi mungkin lebih beruntung, karena ada sesi untuk berkenalan dan rekan-rekan yang membawa poster bisa bercerita tentang posternya.  Di sesi 8 ini komunikasi dan relasi yang terbangun cukup cair dan hangat, karena rekan-rekan yang hadir adalah mereka yang sudah sering berinteraksi dengan masyarakat.

Ruang coffee break yang cukup kecil tak membuat terjadinya interaksi di antara peserta. Setiap peserta mengelompok dengan kelompoknya masing-masing. Atau saat makan, tak ada sapaan may I join?  Sekali saya coba bergabung dengan pihak sukarelawan, namun ternyata walau saya sudah berusaha mengajak mereka ngobrol, mereka lebih tertarik untuk bercerita dengan sesamanya dalam bahasa mereka sendiri dan tak berminat membangun relasi dengan ornag asing. Berbeda dengan di Portugal. Di GHOU meeting, ada beberapa guru dari Portugal yang bahasa inggrisnya juga masih minim, namun mereka berusaha untuk membangun relasi dengan seluruh peserta. Saya jadi bertanya, apakah ini karena budaya?

Satu hal yang paling terasa justru datang dari rekan-rekan negara tetangga. Mereka seperti memiliki kelompok sendiri. Dari seluruh peserta yang datang dari negara tetangga, hanya satu orang yang menurut saya cukup ramah dan sangat kebapakan pada peserta-peserta muda lainnya. Selain beliau, sampai acara berakhir tak ada sedikitpun komunikasi yang terbentuk. Dari pantauanku sepertinya mereka hanya bergaul akrab dengan orang-orang yang sudah mereka kenal dan punya gelar. Hmm…apakah ini lagi-lagi karena budaya? Mungkinkah budaya di asia membuat kita memilah orang ketika bergaul? Entahlah….

Secara umum, pertemuan sesi 8 atau sesi populerisasi dan edukasi astronomi sangatlah menarik. Ada banyak hal yang saya dpatkan dan banyak kenalan baru yang juga saya temui. Diskusi yang dilakukan, justru mengeksplorasi perspektif dan pandangan setiap orang terkait topik edukasi astronomi pada masyarakat. Berbagai metode populerisasi dan edukasi juga diperkenalkan, salah satunya adalah grafik braille astronomi.  Jaringan di antara negara-negara asia pasifik maupun negara asia tenggara juga terjalin dengan harapan akan ada kerja sama untuk memajukan astronomi di masa mendatang.

Setelah pertemuan berakhir kami diajak untuk menikmati keindahan hutan batu (stone forrest) dan menikmati hidangan khas Yunan. Lagi-lagi tak ada LOC yang kami temui dalam perjalanan tersebut. Semua sudah diatur oleh travel dan yang kami temui adalah petugas travel. wow.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya mengutip perkataan seorang peserta dalam bincang-bincang, “this meeting is not just not well organized. This meeting is not organized at all.”

Share this entry
1 Comments
  1. Libert

    “this meeting is not just not well organized. This meeting is not organized at all.”…

    nice comment ;p

    Reply

Leave a Reply

Make every effort to keep the unity of the Spirit through the bond of peace.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: