Journal

-- the pilgrim journey --

Home / traveling / Menjelajah Hutan Batu
Sep 4 2008

Menjelajah Hutan Batu

Hari terakhir setelah the 10th APRIM berakhir, peserta diajak untuk jalan-jalan ke dua tempat. Yang satu adalah sebuah desa budaya, yang satu lagi ke Stone Forest (Shilin). Saya bersama teman-teman dari Indonesia memilih untuk pergi ke Stone Forest yang sudah dikenal semenjak jaman Dinasti Ming (1366 – 1644) sebagai ‘First Wonder of the World.’ Luas hutan batu ini sekitar 400 km persegi. Dipercaya batu-batu tersebut berasal dari era Paleozoic.

Setelah melalui 3 lorong gelap di jalan, akhirnya kami pun tiba di Stone Forest. Di depan stone forest tampak banyak sekali para penjaja souvenir, yang bisa dikatakan hampir mirip pasar. Gak beda kayak di Indonesia.  Ada kejadian menarik, karena seorang teman cowo yang masuk toilet keluar dengan shock.. karena di salah satu cubicle-nya yang berisi toilet jongkok semua itu ada seorang bapak yang lagi boker sambil ngerokok tanpa menutup pintu… hehehe…yaiks.

Masuk ke Stone forest, kita dipertemukan dengan pemandangan indah dari danau dengan latar batu-batu raksasa. Batu-batu yang berdiri kokoh selama berabad-abad ini merupakan salah satu kawasan yang dilindungi dunia.  Ketika kita masuk lebih dalam lagi, menjelajah lebih jauh lagi, batu-batu raksasa yang kokoh berdiri dengan berbagai bentuk akibat erosi yang terjadi berabad-abad lampau. Diyakini pada era Paleozoic area tersebut merupakan lautan luas. Namun akibat pergerakan litosfer secara gradual terjadi penurunan air dan munculnya batu-batu raksasa tersebut ke permukaan. Erosi yang konstan terjadi di masa lalu membuat batu-batu tersebut ada sebagaimana sekarang. Nah yang menarik, ada berbagai bentuk batu yang terlihat. ada bentuk kerbau, anjing, kucing, berlian, gajah, burung yang sedang berciuman, kue ultah dll.

Selain bentuk yang menakjubkan, banyak sekali kepercayaan yang muncul di beberapa lokasi di Stone Forest. Ada kepercayaan tentang orang baik dan jahat (lupa deh harus ngapain di bawah batunya untuk membuktikan baik dan jahat), ada kepercayaan kalau duduk di suatu tempat dalam selang waktu tertentu akan menjauhkan kesusahan seumur hidup dll. Ada juga celah yang harus dilewati … dan terlihat deh yang tidak bisa melewatinya harus segera diet…. hehehehehe.

Di tengah hutan batu itu, kami naik ke sebuah paviliun dan menikmati pemandangan menakjubkan Stone Forest dari ketinggian. terpampang di depan mata lautan batu raksasa yang menjulang tinggi.

Setelah turun dari pavilion dalam perjalanan menuju Minor Stone Forest, kami bertemu dengan sekelompok penari yang sedang menari tarian setempat. Dan di sepanjang area tersebut banyak juga penjual souvenir.

Setelah berbelanja souvenir, ternyata saya, esti dan mas widya tertinggal jauh dari rombongan. Karena itu kami memutuskan berfoto-foto di area depan yang ternyata ada pementasan tari dan lagu.

Tepat pukul 1 siang, kami pun kembali ke bus, dan melanjutkan perjalanan untuk makan siang di sebuah restaurant lokal, dan kemudian berkunjung ke Observatorium Yunan, makan malam dengan sajian tarian dll di sebuah restauran Crossing Bridge Rice Noodle. Sayangnya karena sakit dan mabok juga (hehehe) saya tak bisa mengikuti dan menikmati beberapa acara terakhir karena langsung kembali ke hotel.

Foto-foto : dokumen pribadi

Share this entry

Leave a Reply

And walk in the way of love, just as Christ loved us and gave himself up for us as a fragrant offering and sacrifice to God.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: