Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Fenomena Aji Mumpung
Sep 29 2008

Fenomena Aji Mumpung

Mungkin sudah tak asing bagi kita jika melihat artis yang aktingnya pas-pasan tau-tau jadi penyanyi. Atau model yang terjun ke dunia akting dan tarik suara. Itu mungkin fenomena biasa di kalangan artis kita. Katanya sih mumpung masih dikenal, mumpung ditawarin .. mumpung dibilang suaranya bagus jadi yah sekalian. Tapi bukan cuma artis loh…

Wakil rakyat kita di gedung MPR/DPR juga sama… rapat difasilitasi, study tour juga sekalian jalan-jalan. Bawa keluarga nggak yah?.. kan mumpung dibayari. Dapet mobil gratis..ah mumpung lagi jadi anggota DPR… dan masih banyak fenomena lainnya dari pejabat negeri ini.

Kadang kita mencibir dan mencak-mencak melihat tingkah polah para anggota dewan dan artis tersebut. Tapi ternyata aji mumpung ini bukan cuma dianut para petinggi dan orang-orang tenar. Ternyata masyarakat kita pun mengadopsi budaya yang sama. Gak percaya?

Coba tanya ke diri kita masing-masing ketika kita dapat fasilitas gratis pernah tidak kita menggunakannya untuk keperluan pribadi juga? Mumpung gratis.. yah sekalian.

Atau saat dibayari untuk suatu perjalanan dan kita sekalian ingin liburan setelah bekerja, tapi ujung-ujungnya biaya perjalanan liburan pun dimasukan sebagai biaya yang dibebankan pada yang membayari…alias gak mau ngeluarin duit sepeser pun. Mumpung gratis …. sekalian aja….

Atau kasus lain… diundang ke sebuah acara, nginep di hotel berbintang dan diundang berdua alias suami istri. Karena anak-anak masih kecil sekalianlah dibawa… dan bawa juga donk yang jaga, ups sekalian ibu juga diajak. Eh waktu pergantian tiket dll… disodorinlah tiket serombongan. Mumpung saya dan suami dibayarin, anak dan ibu juga donk dibayari sekalian.

Masih dari contoh kejadian yang sama, para peserta juga mengajak keluarganya buat nginep.. padahal mereka tinggal di kota yang sama. Mumpung lagi di hotel berbintang sekalian donk istri ama anak diajakin nyicipin nginep dan makan di hotel. Bahkan ada loh yang walau belum nikah memngajak pacarnya juga untuk menikmati fasilitas tersebut… ah dunia….

Yang bayar? Bebankan saja pada panitia… eh atau negara kalau itu acaranya dibayarin negara.

Dan yang menarik kadang orang-orang tersebut juga orang yang sama yang mencela pemerintah dengan kebobrokannya. Apakah dia tak sadar kalau dia pun sudah menanam benih yang sama dalam dirinya semenjak dia belum menjadi pejabat?

Yang mengusik saya, tidakah ketika mereka melakukannya mereka sadar bahwa itu bukan hak mereka? Misalnya kasus yang terakhir ketika meminta pergantian biaya perjalanan untuk semua rombongan. Kalau ingin mengajak keluarga maka tanggunglah sendiri biaya buat mereka. Ketika kita mengkritik pejabat dll, tapi pada kenyataannya kita pun tak berbeda dengan yang dikritik, lantas apa gunanya?

Aji mumpung sepertinya sudah mendarah daging dalam mental masyarakat di negeri ini. Kadang saya bertanya apakah nurani kita tidak menegur ketika kita menggunakan apa yang bukan hak kita? Ah entahlah…. mungkin mereka yang melakukannya punya pembenaran tersendiri bagi diri mereka.

Tapi di balik semua itu saya juga menyadari ada orang-orang yang tetap berpegang pada prinsipnya dan tidak menggunakan aji mumpung. Seandainya semua orang menyadari dan mendisiplinkan dirinya sendiri dari hal-hal kecil termasuk yang namanya aji mumpung ini, niscaya negara ini akan punya manusia-manusia yang berintegritas. Dan bisa jadi yang namanya korupsi itu ga akan ada kasusnya di negeri ini. Ah mungkin saya cuma mimpi….

Share this entry

Leave a Reply

Whoever believes and is baptized will be saved, but whoever does not believe will be condemned.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: