Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Dalam Balutan Senja
Oct 17 2008

Dalam Balutan Senja

Sore itu… sore yang sama.. di tepi pantai yang sama aku menatap keindahan horizon langit di kala senja dengan tatapan kosong. Sakit rasanya.. tapi aku masih terus bertanya kenapa bisa terjadi? Apa salahku? Rasanya aku hanya ingin menikmati cinta masa mudaku. Tapi mengapa harus berakhir seperti ini? Pertanyaan itu terus menggema, merasuk sukma tanpa kupahami….

Kami bertemu di sebuah konferensi bergengsi. Dia tidak tampan namun kehangatannya mampu memecah kebekuanku dan membawaku pada keceriaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sejak hari pertemuan itu ia tak hanya sering mengajaku keluar .. ia juga meghujaniku dengan kata-kata indah dan ah.. ribuan hadiah yang tak ternilai. Ia tau bagaimana membuatku tersanjung.. tak hanya itu.. dia selalu ada kala kubutuhkan.

Waktu yang berlalu semakin mengikatku padanya. Rasanya aku tak lagi mampu untuk hidup tanpa dia. Kami pun semakin jauh…. dan semakin jauh.. tenggelam dalam kerinduan dan kehangatan masa muda…

Masa muda.. ah iya masa mudaku…

Bak sejoli yang dimabuk asmara.. kemanapun kami selalu bersama. Mall demi mall kami jelajahi.. pantai demi pantai. Dia memang pandai menemukan tempat eksotis. Tak heran karena itulah dunianya… dunia yang penuh petualangan. Tak jarang kami harus berpacu dengan waktu untuk bisa menikmati kehangatan dan petualangan kami. Kadang diantara desiran ombak, kadang dalam balutan kemewahan hotel berbintang namun tak jarang pula diantara sekat dinding-dinding tua tak berpenghuni. Berpacu dalam desah kehidupan yang mencari pencapaiannya.

Tak lagi kuhiraukan kata orang. Ah.. tau apa mereka? Aku yang paling tau tentang hidupku. Dia mencintaiku.. dia memberikan semua yang kupinta.

Tapi hari itu tak pernah bisa kulupa… hari itu!
Ahh perempuan itu melihat kami.. dia dan seorang pemuda kecil tampan. Ketampanan pemuda itu mengingatkanku pada seseorang tapi siapa? Perempuan itu mendatangi kami… tapi kenapa dia menarikku untuk berlari? Teriakan pun mengundang perhatian seluruh pengunjung mall hari itu. Perempuan itu berteriak dalam kemarahan…. untuk siapa? ………. ah untukku? Tapi kenapa? Dia yang disampingku hanya bisa terdiam.. terpaku seperti seorang penjahat….

Perempuan itu menghampiri kami…. tersenyum manis dan menatapku tajam. Ah.. kenapa dia menatapku seperti itu? Ada pendar kekecewaan dan kesakitan disana.. tapi mengapa? Mengapa diriku?

Apakah dia… ah jangan-jangan? Belum lagi aku tersadar sebuah tamparan mendarat di wajahku.. sakit.. tapi bukan wajahku yang sakit.. mengapa aku menangis? Kata-kata itu..tak pernah bisa kulupakan. Pencuri. Apakah aku seorang pencuri? Mengapa ia mengatakan aku mencuri suaminya? Bukankah dia mencintai aku dan perempuan itu?

Perempuan itu dan anaknya pun berlalu.. diikutii oleh kejaran seseorang. Baru kusadari dia tak lagi di sisiku. Dia memilih untuk mengejar perempuan itu dan anaknya. Iyah tak salah lagi tentu mereka adalah keluarganya, yang sering ia ceritakan itu. Duniaku serasa terhempas ke dalam jurang… perempuan itu sangat cantik…tak sepeti yang dia gambarkan. Perempuan itu belum tua.. dan perempuan itu tak pernah menyukaiku….bukankah katanya………….

Ah entahlah terlalu banyak katanya yang berseliweran di kepalaku. Yang kutahu aku jadi pusat perhatian semua orang…

Sejak itu duniaku serasa runtuh … namun pada siapa aku bisa bercerita? Mengapa semua orang menyalahkanku? Salahkah aku mencintai laki-laki itu? Salahkah jika ternyata dia telah beristri? Mengapa perempuan itu marah? Bukankah dia tak pernah meninggalkan mereka? bukankah setiap malam ia selalu pulang?

Sakit itu kubawa dalam hidupku.. kupupuk dalam kemarahan dan kebencian. Kutinggalkan kota masa mudaku… mengembara tanpa arah dalam belantara dunia.

***

Teriakan anak kecil menyadarkanku. Ah sudah saatnya aku menghantar permata-permataku ke sekolah. Tak terasa sudah lima belas tahun berlalu sejak masa itu. Masa yang ingin kukubur jauh di dasar kehidupanku. Dalam perjalanan pengembaraannku, aku bertemu dengan pria yang kemudian jadi ayah anak-anakku. Kehidupan yang penuh kedamaian… tak ada gejolak petualangan seperti dulu.. namun aku menikmatinya….

Kehangatan yang berbeda… cinta yang mengalir lembut. Menghanyutkanku dalam sungai kasih yang berbeda. Walau jauh di dalam diriku.. masih tersimpan tanya mengapa?.

Tapi… sungai itu seperti berhenti ketika kulihat dia bersama seorang gadis lain. Gadis itu sekretarisnya yang menawan. Hatiku seperti terkoyak.. aku marah….keharmonisan kami dikoyakan oleh ketidaksetiaan. Pisau itu seperti jatuh menikamku tanpa ampun…

Dalam kekecewaan dan prahara… aku harus tetap berdiri tegak untuk permata-permata hatiku. Dia mengaku khilaf.. dia mengakui cintanya hanya untukku. Tapi kepercayaan itu telah terkoyak. Dia berusaha menggapaiku kembali namun aku sudah membuat tembok di antara kami…

***

Senja itu kupacu mobilku ke pantai. Lama sudah aku tak lagi berburu senja.. lama sejak kepahitan masa muda menimpaku. Senja sore itu masih sama dalam semburat yang indah dan menawan. Namun senja yang seharusnya indah itu seperti menyentakku. Pertanyaan yang bertahun-tahun tersimpan menyeruak hadir. Senja itu membuatku mengerti rasa sakit yang sama yang dialami perempuan itu dahulu. Senja ini membuatku mengerti kemarahannya…..

ah… aku sama seperti gadis muda yang kulihat dengan kekasih hatiku itu. Aku.. aku dulu juga seperti itu? Inikah karma? Ahh..tidak.. aku tak percaya karma. Mungkin ini pelajaran untukku. Pelajaran yang membuahkan kesadaran. Kenapa butuh bertahun-tahun? Mengapa dulu aku buta? Ah… masihkah ada harapan untukku? Untuk keluarga kecilku?

Dalam kelelahan aku melangkahkan kakiku.. berjalan gontai menyusuri pantai sampai sayup-sayup kudengar nyanyian indah dari sebuah gereja tua di antara deburan ombak yang memecah pantai.

Masih ada harapan
Selama matahari masih bersinar
Selama nafas hidup masih berhembus
Tuhan tahu, Dia ada di sisimu

Masihkah ada kesempatan untukku?

***

Mereka ada di sana. Permata-permataku dan kekasih hatiku, menantikanku di gerbang itu. Menatapku penuh kekawatiran dan kelegaan. Kehangatan yang dulu itu masih ada.
Mereka menantikanku pulang.
Dalam pelukannya, ia berbisik lirih.. maafkan aku….

***

Entah sudah berapa senja yang kunikmati. Aku tak lagi bisa mengingatnya. Senja itu tak pernah berubah. Ia masih sama, akulah yang berubah. Tak ada lagi gejolak petualang yang menggebu, tak ada lagi kemarahan, tak ada lagi tangis. Tak ada lagi penyesalan, inilah aku dan jalan yang telah kulalui.. yang membentukku menjadi seperti aku saat ini.

Kini kumenatap senja dengan senyum dan kehangatan masa tua… dalam pelukan kekasih hatiku. Nun disana permata-permataku tengah bernyanyi merdu di pelataran gereja tua yang kutemui sepuluh tahun lalu. Senandung merdu yang telah memanggilku pulang menyusuri jalanNya, tidak sendiri namun bersama mereka yang mengasihiku.

Senandung dari gereja tua itu seakan menghantarkan sang surya ke peraduannya, meninggalkan semburat senja yang indah.

In Christ alone my hope is found
He is my light, my strength, my song
This cornerstone, this solid ground
Firm through the fiercest drought and storm
What heights of love, what depths of peace
When fears are stilled, when strivings cease
My comforter, my all in all
Here in the love of Christ I stand

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”. Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:10-11)

song credit to Wawan Yap and Steve Green
Share this entry
2 Comments
  1. wendy

    hikzzz… gua sedih ngebaca kisahnya. apakah itu “true story”nya. simpati deh buatmu. salam kenal dariku….aku sagat mengagumi tulisanmu di “langitselatan.com”. salam kenal dariku…wendy !

    Reply
    • salam kenal wendy. ini bukan true story tp ntah juga kalau ada kejadian dengan seseorg. itu cuma cerita yg bermain di benak dan dituang dalam tulisan. sebuah cerita dan kisah yg bisa saja terjadi pada setiap org. dan ketika kita memandang seseorg berbuat salah.. kita seringkali hanya senang mengingat yg jelek dan menuding. padahal manusia punya kehidupan yg penuh dinamika..

      Reply

Leave a Reply

Seek good, not evil, that you may live. Then the Lord God Almighty will be with you, just as you say he is.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: