Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Selamat Jalan Kawan….
Nov 7 2008

Selamat Jalan Kawan….

In Memoriam of Faizal Riza (Makassar, 24 Mei 1979 – Makassar, 31 Oktober 2008)

”Semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya.”(Faizal Riza)

”Vi dimana lokasi fixed GMC2009? Gue mau ikut risetnya kalau ada”
”Kasih tau apa yang harus disiapin, gue mau bawa full gear.”

Itulah selintas kata-kata yang ia ungkapkan dalam salah satu chatting kami. Ical yang selalu semangat untuk kembali beraktifitas di astronomi. Sekali waktu dia bahkan berkata. ”Lo kudu ikut ke Lampunglah.. masa gue ikut gerhana disana sendiri?” ”Kalau langitselatan mau kesana diriku boleh nebeng nama nggak?”

Saat itu terbersit, ah cal… ”elo yang udah lama nggak di astro masih semangat buat ikut riset bukan buat sekedar having fun di gerhana. Lah yang lagi kuliah aja mungkin cuma ingin senang-senang”.

Tapi itulah Ical. Berulang kali dia menanyakan kesempatan untuk S2, mulai dari beasiswa yang bisa didapat sampai semua kuliahnya dan yang paling utama, Ical masih ingin meneruskan TA-nya dulu. Buat Ical yang dibutuhkan bukan banyak bicara, tapi perencanaan yang matang dan lakukanlah rencana itu. Itu pesannya yang selalu ia katakan setiap kami ngobrol tentang langitselatan. Semangat yang tak pernah pudar.. keyakinan yang selalu terjaga.. idealisme yang tak pernah terkikis. Itulah kawan seangkatanku di astronomi 97, Faizal Riza yang juga alumni SMANSA Makassar.

http://www.flickr.com/photos/simplyvie/913544960/in/set-72157601034011969/Kami bertemu pertama kali di SABUGA saat akan mengikuti acara untuk mahasiswa baru angkatan 1997 dalam balutan baju putih-putih. Sama seperti Umar, waktu itu saya merasa kok cowo-cowo astro nggak ok yah? Kok manis yah ga seperti bayangan saya. (bayangin apa coba?). Seiring waktu angkatan ini jadi kompak dengan caranya sendiri. Hobinya saja aneh.. suka ledek-ledekan.. tapi kita sama-sama tau kok kalau itu bentuk perhatian. Saat awal masuk, Ical-lah salah satu yang membuat saya merasa tak asing di tengah perantauan ini, mungkin karena kami sama-sama dari area Indonesia tengah dan timur dan sama-sama personel PMR. Selain itu kalau saya sakit atau pingsan (seperti saat interaksi 97), Ical akan selalu jadi penolong dan kawan yang mendampingi untuk memberi pertolongan pertama.

Semenjak awal masuk kuliah Ical sudah tertarik dengan segala sesuatu tentang lubang hitam dan perjalanan waktu ruang angkasa. Namun bukan Ical namanya kalau dia hanya diam dan kuliah. Tahun 1998, saat krisis moneter melanda negeri ini, tak segan ia turun langsung di lapangan melibatkan diri dalam arus pergolakan reformasi. Saat itu seluruh AS’97 selalu bolos kuliah demi demonstrasi. Buat Ical, perubahan bukan berarti harus berdiam, ia membawa dirinya masuk dalam arus pergolakan dan berada di front depan bersama rekan-rekan lainnya. Dari permintaan mengisi acara musik di musik sore, lahirlah sebuah band akustikan AS’97 yang terdiri dari IcalTiaUmarIyam. Dari merekalah lahir lagu reformasi dan lagu kampus yang menjadi Hymne KM-ITB dan terus membahana hingga hari ini.

http://www.flickr.com/photos/simplyvie/912691843/in/set-72157601034011969/Ical tak hanya pandai memetik gitar di depan banyak orang, tangannya tak pernah berhenti terulur untuk mereka yang membutuhkan. Untuk kawannya, untuk orang yang ia temui dan orang yang mendapat empatinya.

Dari pergerakan tahun 1998, Ical kembali ke HIMASTRON, membangun keluarga kecil terkasih yang senantiasa setia dengan alam semesta. Ia kemudian menjadi ketua HIMASTRON sambil terus berkiprah di PSIK dan juga berkiprah di tengah kuliah-kuliah yang harus dijalani di Fisika. Kalau semenjak di ITB saya tak lagi mengikuti kegiatan PMI, Ical justru menjadi salah satu yang aktif saat KSR hadir di ITB.

Bagi kami angkatan 97 yang dominan cewe-cewenya, para cowo selalu jadi tumbal keisengan kami. Imagenya di luaran yang gagah, macho, sangar, jantan harus terpatahkan karena berhadapan dengan kami. Ya iyalah.. Ical itu cowo yang cantik… manis, berambut lurus ala model sunsilk. Dan yang menyebalkan rambutnya lebih bagus dari rambut saya. Huh.

Ah… bagian kecantikannya ini masih jadi bahan godaan waktu chatting beberapa bulan lalu. Sampai dia meminta,” Vi lihat deh foto-foto gue di facebook. Di banding yang di flickr lo.. jauhhhhhhhhhhh.” terus enteng aja saya jawab..”iyah lo lebih manis dan culun di flickr gue ”.

Ical bahkan pernah dilecehkan oleh Neflia yang pura-pura mau mencolek dagunya sambil tersenyum manis ala Lia. Atau pernah dibisiki lirih “I love you “ oleh Ketut atas perintah kami. Yang langsung disambut oleh makian Ical di seberang sana. Atau Ical yang kami juluki betty di malam hari dan sering kami ledek sebagai pacarnya Erik (FI’97).

Setelah berjuang melalui pintu maut ITB alias hampir DO karena kasus di kuliah Matematika dan Ruang Vektor, serta melalui perjuangan bersama rekan tercinta Ina, Ical pun menjadi sarjana Astronomi.

Setelah lulus, Ical sempat menghilang dari peredaran dan kemudian bekerja di salah satu rumah produksi film, dan sering kami ledek sebagai perusak moral generasi muda. Mungkin karena memang bukan itu yang jadi idealismenya, Ical pun keluar. Dan saat terjadi Tsunami Aceh, Ical tidak hanya berdiam. Ia pergi menjadi sukarelawan dalam tim pertama yang diberangkatkan ke Aceh dari ITB. Di sana ia bahkan sempat membuat sebuah film dokumenter. Tak hanya Aceh. Saat gempa di bantul, Ical juga turun langsung mengulurkan tangannya membantu disana. Ia, sosok yang begitu dekat dengan rakyat yang ia sayangi dan ia bela. Ia tak pernah berhenti menghidupi idealisme di dalam dirinya, di saat orang-orang lain mungkin tengah sibuk mencari cara untuk mendapatkan uang dan kedudukan. Ical sosok yang memetik dawai gitar kehidupannya sendiri dalam lantunan yang indah dan penuh empati.

Ical kemudian bekerja di salah satu stasiun lokal yang kemudian menjadi satu grup dengan raksasa TV di Indonesia. Dan idealisme dan cita-citanya tak pernah pupus, ia masih terus bermimpi untuk memajukan bangsa lewat pendidikan dan astronomi lewat media tv. Sayang, waktu yang sering berbenturan dengan berbagai kegiatan membuat realisasi diskusi di dunia nyata tak pernah kami wujudkan. Di tengah kesibukannya, Ical masih mau mengajar kosmologi pada seorang anggota milis astronomi Indonesia.

Bulan puasa 2008, AS’97 seperti biasa kembali reuni. Ah kami selalu reuni kok tanpa bergantung waktu dan event. Hari itu kami berbagi cerita dan Ical menyatakan ketertarikannya untuk ikut dalam kegiatan International Year of Astronomy 2009. Ah.. kawan kamu memang tak pernah berhenti berkarya. Lebaran hari kedua, saya, Dino dan Ical berkumpul di rumah Umar.. ngobrol selama 7 jam dan ikut menikmati hidangan lebaran makan siang dan malam. Pulangnya sempat nyasar di Sarijadi dan menerobos jalan satu arah. Saat tiba di rumah saya, Ical meminta agar saya mengembalikan 2 dari 11 buku kosmologi yang pernah ia pinjamkan untuk saya saat meneruskan S2. Katanya, ”gue mo baca dan belajar lagi terus mau nulis tentang kaitan relativitas umum dengan GMC.”

Ah.. kawan…. andai ada banyak mahasiswa astronomi seperti dirimu….

http://www.flickr.com/photos/simplyvie/912700555/in/set-72157601032426546/17 Oktober 2008, atas ajakan saya dengan sedikit rayuan maut, walau agak malu (katanya sih begitu), Ical datang menghadiri pertemuan IA Astronomi ITB. Di pertemuan ini ia dilibatkan dalam rencana pengadaan kongres alumni tahun 2009. Katanya, “vi gue malu udah lama ga ketemu dosen-dosen. Wah ga nyangka tadi ada bu Nana, gue ga berani nyapa.. ”(katanya sih malu dan segan karena lama tak bertemu).

Pulang pertemuan, akhirnya kami bersantai sambil makan di warung Pasta. Ical masih tetap sama, sosok yang cukup bawel tentang kopinya.. juga tentang sambal yang akan saya makan. Hari itu ia bersemangat sekali merencanakan ekspedisi Gerhana Matahari Cincin 2009, bahkan ia ingin pergi menikmati Gerhana Matahari Total 2009. Baginya, ia adalah bagian dari langitselatan. Langitselatan itu adalah kami dan kita bukan kamu dan kalian.

Hari itu setelah sempat menggodanya bahwa pertemuan itu adalah kencan saat menelpon Umar, kami pun berpisah diiringi tatapan kekesalannya saat saya meneriakinya,” Cal besok gue gosipin di milis yah kalau kita kencan.”

Minggu malam, sms terakhirnya berkata ,”vi, seperti dugaan gue ada yang ngambil berita u kita di spaceweek.” (tgl 18 Okt, langitselatan ikut acara spaceweek LAPAN). Yang kemudian saya balas ,”hah? Ada org M** ngambil acara kencan kita??” dan dia jawab lagi, ”berita spaceweek oon.. hehehe”

Ah…. tak kusangka itulah ledekan dan keisengan terakhir padanya.

Hari jumat Umar mengirimkan sms. Ical sakit di RSHS … sabtu kita jenguk.

Sabtu siang ketemu Sawung di plurk dan YM, katanya Ical sudah dibawa ke Makassar. Kaget.. Makassar ngapain? Istirahat? Tak ada petunjuk apapun dari Sawung. Kalau istirahat baguslah. Tapi kalau pengobatan kenapa bukan Jakarta.

Kesibukan di ICMNS membuat saya lalai tidak mencari tahu, namun Jumat 31 Oktober jam 9.30 pagi berturut-turut sms dan telfon masuk mengabarkan Ical sudah meninggal dunia di Makassar. Kembali pulang dalam pelukan Sang Khalik.

Ah…. kawan dan saudara saya di AS’97 yang penuh idealisme itu telah kembali pada pertiwi.. membawa semua cita-cita dan idealismenya. Kawan yang sampai akhir tak pernah berubah jalan perjuangannya. Ia tetap Ical yang sama, saudara yang sama yang saya kenal saat masuk ITB, 11 tahun yang lalu. Ical yang dulu manis dan culun.. namun sekarang kaya oleh wawasan dan pengalaman, telah pergi dalam keheningan menuju keabadian. Tapi satu yang juga tak berubah..ketulusannya, suaranya yang tegas dan lantang, keyakinannya dan… rambutnya yang panjang, lurus bak model sunsilk.

Selamat jalan saudaraku.. selamat jalan kawanku…. perjuanganmu sudah selesai tapi idealisme dan cita-citamu akan terus hidup mengakar dan diwariskan pada generasi-generasi mendatang.

Untuk mengakhiri tulisan ini saya ingin mengutip kata-katanya, ”astronomi itu ilmu sepanjang hidup..dari langit kita bisa membayangkan masa lalu dan masa depan.”

***

Dari dunia blogosphere :
Si Ical, si Betty, Saudara Sepemuhriman
Lagu Untuk Ical: No One But You (Only The Good Die Young), By Queen
Remembering Ical…
Selamat jalan saudaraku
Sahabat… In Memoriam… Rest In Peace Bro…
Faisal Riza – Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum
Selamat Jalan Ical
In-Memoriam Faisal Riza (Ical)
Friend
Selamat Jalan Septerra
Selamat Jalan Pejuang – In Memoriam Ical
In Memoriam Seorang Pejuang
In Memoriam Faisal Riza – Ical
Sumpah Pemuda, Mati Muda
Faisal Riza (1979 – 2008)

Share this entry
1 Comments
  1. Pingback:Sayap Timur » Blog Archive » Selamat jalan saudaraku

Leave a Reply

A gift opens the way and ushers the giver into the presence of the great.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: