Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Keping Kehidupan Yang Terserak
Dec 19 2008

Keping Kehidupan Yang Terserak

Di sudut jalan anak itu berdiri, dalam balutan pakaian yang rapih sambil mendekap tasnya. Sesekali ia melirik ke jalan di depannya seperti sedang menantikan seseorang, atau mungkin takut terlihat? Entahlah. Wajah polosnya terus tertunduk sambil sesekali mencari di antara lalu lalang orang berpakaian bagus, menenteng tas tangan dalam dandanan mentereng menuju gereja. Alunan lagu-lagu natal terdengar sayup dari rumah-rumah disekelilingnya.

Tak lama menunggu, anak itu terlihat gembira dengan kedatangan gadis kecil lainnya dari sisi jalan yang berbeda. Celotehan gembira terdengar di antara keduanya sambil menuju sebuah sekolah untuk merayakan Natal. Natal malam itu begitu meriah dalam keceriaan yang indah….

Malam pun makin larut. Ragu si anak menghampiri pintu rumahnya. Dan benar saja sang bunda telah menanti disana. “Kemana saja kamu? Anak nakal! Tahu tidak kamu hanya membawa bara api dengan kepergianmu itu!” Terpaku… gadis mungil itu hanya bisa terdiam sambil beringsut masuk ke rumah diiringi tatapan kemarahan sang bunda. Di dalam ia masih harus berhadapan dengan tatapan tajam sang ayah. Ia tak pernah mengerti… Natal yang katanya penuh sukacita justru membuatnya dihempas dalam kemarahan sang bunda. Tapi dalam dirinya, cerita Natal itu jadi penghiburan yang memberi kekuatan..dalam tiap doa-doanya.

***

“Kamu tau siapa Yesus?” tanya pria itu pada gadis remaja di sampingnya.
Hening… gadis itu diam tak menjawab. Dia memang sudah belajar untuk diam dan menyimpan semua di dalam dirinya.
“Yesus itu katanya anak Allah. Allah kok bisa punya anak.” lanjut pria itu.
hening… gadis itu tetap diam dan mendengar.. tapi tak bersuara…

***

Hari ini pelajaran agama. Dan sang guru memberi tugas untuk memiliki tanda tangan dari pembina remaja di ibadah gereja. “ah….. bagaimana ini? aku tak pernah bisa ke gereja. tanda tangan siapa yang harus kububuhkan? Apa yang harus kukatakan pada guruku? Akankah ia memahaminya?” seribu tanya bergaung dalam benak gadis itu.
“Hmm.. biarlah.. itu urusan nanti” gumam gadis itu sambil meraba-raba mencari kitab kesayangannya di antara tumpukan barang. Wajah lega gadis itu tampak jelas saat ia menemukan apa yang ia cari. ……

***

“Apa? Kamu nggak ke gereja? Apa-apaan ini? Mana tugasmu! Mana tanda tangan pembina remajamu! Kamu berbohong pada ibu?” tanya sang guru dalam nada yang tinggi.
Diam…hanya itu yang bisa dilakukan sang murid. Tak ada ketakutan dan tangis. Baginya lebih baik diam dan membisu.

***
Hari ini ada ibadah OSIS  sepulang sekolah. “oh tidak.. bagaimana ini?” “aku tak boleh terlambat tiba di rumah” pikir sang murid.

Sayang ibadah hari itu tak boleh ia tinggalkan. Itu kewajiban dan kehadiran siswa diperhitungkan disana. Kebingungan di wajah mungil itu tak hilang sepanjang siang itu. Mungkin ia tengah berpikir, alasan apa yang harus ia berikan untuk kepulangannya yang terlambat.

***

“Ibu tau masalahmu. Kamu harus dijaga dan ditemani. Jangan sampai mereka mendekatimu.” kata sang guru. “Dia punya masalah yang mirip masalahnya denganmu, ia akan menjagamu.” lanjut sang guru.
Sejak hari itu kemanapun si gadis pergi ada seseorang di dekatnya. Tapi keadaan tak pernah berubah. Kebersamaan itu jadi rutinitas baru. Kehadiran para sahabat yang mengajaknya berbagi kasih pada mereka yang memerlukan lebih menyita pehatiannya.

Sampai suatu hari…semua pun berakhir.. tanpa kata …

Sejak saat itu… hanya kabar kabur yang ia dengar tentang sang kakak kelas. Ia menghilang dalam lautan antah berantah. Padahal katanya mereka satu kota bahkan setelah tahun-tahun berlalu….

***
“Kamu belum di baptis? Kamu mau dibaptis dan di sidi kapan? Kamu mau dibaptis bersama anakmu nanti?” kata sang guru. “apa kamu nggak malu? Saya akan bicara pada ibumu!” lanjut sang guru.

***

“Anak kurang ajar! untuk apa kamu cerita masalah keluarga pada orang lain?. Kamu tau Bapakmu, jangan minta yang aneh-aneh. Kamu hanya membuat rumah ini jadi neraka…” kata – kata sang bunda yang penuh kemarahan hanya disambut dalam diam oleh gadis itu.

“ah…. mengapa ia tak mendukungku sekalipun? mengapa ?” tanya yang menggantung dalam benak gadis itu bermunculan tanpa mendapat jawaban.

***
“Tuhan, kalau aku diterima kuliah di kota itu aku mau ke gereja, aku mau dibaptis…” lirih gadis itu berdoa.

***

Dering telpon pagi itu membangunkannya dalam dentang kegembiraan baginya dan seluruh keluarga. Ia diterima di kampus impiannya. Kehidupan di kota yang baru dalam status baru sebagai mahasiswa membawanya larut dalam berbagai kegiatan.

Kampus itu membawanya pada perkenalan dengan kaum yang terpinggirkan dan terjajah dalam kemiskinan. Kampus itu juga mengenalkannya pada cinta dan kehangatan masa muda. Gejolak yang membawanya pada kematangan berpikir dan bersikap.

Tahun yang berlalu… tak lagi membuatnya harus menyembunyikan barang-barang pribadinya. Ia tak lagi diam dalam keyakinannya. Seperti janji yang pernah terucap, Allah kemadian menyapanya dan megingatkannya untuk menghadiri setiap panggilan pelayanan dan persekutuan. Indahnya simfoni pujian membawanya larut dalam cinta  Sang Pemilik Kehidupan.

Kadang ia masih harus menyembunyikan diri hanya untuk menghindarkan keributan di tengah keluarganya. Kemarahan itu ada.. tanya yang bergema itu masih mengganggunya. Dulu ia sering bertanya, mengapa dan mengapa? Kemarahan pada orang tuanya pernah menghias kehidupannya, membawanya berlari dalam lembah yang curam dan penuh batuan tajam. Membuatnya terhempas dalam kekecewaan dan dosa.

***
“Mau sampai kapan kau biarkan kemarahan itu terus ada? Kamu bisa memaafkan mereka sekarang, besok, atau 2 tahun lagi… terserah kamu. Tapi apa gunanya? Yesus mau mengampunimu dan melupakan semuanya. Sekarang saatnya kamu memilih… kamu yang memutuskan kapan kamu mau memaafkan mereka.” lembut pria itu berkata pada sang gadis yang hanya bisa tercenung memandang kesibukan di balik jendela.

***

“Tuhan… cabutlah semua yang tak berkenan di hatiku. Koyakkan selubung hidupku. Bawaku dekatMu. Terimakasih atas pengampunanMu… aku juga mau mengampuni mereka Bapa. Terimakasih karena aku ada lewat hidup mereka sesuai kehendak dan rencanaMu….” gadis itu berbisik dalam doanya hari itu…

Hidup jadi terasa lebih ringan dan santai baginya sejak itu. Tak ada lagi beban mendera di relung hatinya. Yang ada hanya sukacita…

***

“Ah… tak masalah lagi beda. aku dan dia bisa saling toleransi… itu kan yang penting?” kata sahabatnya. Gadis itu hanya tersenyum dan berkata “pikirkan anak-anakmu kelak”.
“mereka bebas memilih … kami tak akan memaksa mereka.” kembali sang teman memberi argumentasinya.
Lirih dalam senyum… gadis itu berbisik pada sang teman, “been there once.. and it wasn’t easy at all.”

***

Jangan kamu kuatir akan masa depanmu. Karena Ia akan menyediakan segala kebutuhannya. itulah yang jadi topik renungan malam pujian dan doa natal malam itu. Sukacita natal yang senantiasa ia impikan kini telah ia rasakan bukan karena sebuah perayaan tapi karena Ia yang membawa damai telah lahir dan berdiam dalam dirinya.

Malam itu sang gadis terpekur dalam senyum sukacita atas kasih karunia Allah yang telah memberi anakNya sebagai penebus. Baginya kebebasan bukan lagi slogan… kini ia bisa berkata dengan bahagia “Aku telah bebas…karena Ia membebaskanku”

Kini gadis itu bisa bercerita dan berbagi tentang kisahnya.. tanpa harus menyembunyikan diri dalam kebisuan. Tak ada lagi kekhawatiran. Kini hidupnya tak lagi sama.  Yang ada hanya sukacita menyambut Natal… dalam alunan lembut puji-pujian dan ucapan syukur.

Silent night, holy night
All is calm, all is bright
‘Round yon virgin mother and Child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace

Share this entry
3 Comments
  1. Requiem

    nice story…
    sepertinya gadis itu lebih bisa merasakan arti natal setelah perjalanan panjang yg ia lalui

    Reply
  2. nice story. 🙂 thx uda share

    Reply
  3. makasih ya sis, udah share:D nice devotional:D

    Reply

Leave a Reply

Set your minds on things above, not on earthly things.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: