Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Ode untuk alam
Apr 1 2009

Ode untuk alam

Entah apa yang ada di pikirannya.. ia memilih menjauh dan memisahkan diri dari keramaian. Ia memilih pergi dan bergelut dengan kecamuk di hatinya. Entah untuk apa dan kapan ia kembali. Rona senja tak mengapus semuanya begitu saja.. keceriaan fajar tak mampu lagi membuatnya tersenyum. Dia memilih untuk pergi… dan melintasi batas keraguan.. dan menghapus semua angan akan masa yang baru ia lewati.

Tak mampu rasanya ia mengingat lagi hari itu. Hari ketika hempasan badai menghancurkan segalanya. Ketika ia harus kehilangan segalanya.. terkubur di antara lumpur kesalahan manusia. Hari itu tak lagi ingin ia kenang.. namun dia tau.. sangat tahu ia tak kan mungkin melupakan segalanya. Karena semua kini telah berubah. Sama seperti impiannya yang juga telah porak poranda. Tak kan ada lagi senyum manis dan tawa ceria yang menyambutnya di depan pintu di kala senja.. atau kecup hangat yang menghantarkan kepergiannya di kala fajar menyingsing.

Tak ada lagi.. semua sudah musnah. Tapi akankah asa pun musnah? Mungkinkah ada asa yang kembali hadir? entahlah. hanya sang waktu yang bisa memberi jawab. Ataukah waktu pun akan berhenti dan tak ingin melaju?

Helaan nafas yang panjang sesekali ia hembuskan. Seakan resah tak tau harus bagaimana. Dia tau.. sangat tau.. badai itu peringatan akan kelalaiannya. Kelalaian kaumnya akan alam. Dia ingat bait demi bait kisah yang pernah diceritakan sang kakek setiap malamnya. Bait nasihat yang turun temurun diberikan…

alam itu ibumu…
ia menyediakan segala yang kau butuhkan. Ketenangan.. kedamaian…ia memenuhi kebutuhanmu. Ia tak pernah lupa kebutuhan anak-aaknya. Tak sekalipun ia mengeluh ketika sang anak mencabik tubuhnya untuk membangun rumah. Ia tak marah ketika jernih sungainya dikotori limbah beracun. Ia tetap diam ketika tak ada lagi lebatnya hutan pegunungan…
Alam itu seperti ibumu…kasihnya tak pernah berhenti…
Tapi ketika alam telah terkikis habis oleh keserakahan manusia. Ia seperti ibu yang kehilangan daya. Ia tak lagi bisa melihat dan melindungi. Tak kan ada kenyamanan, tak kan lagi ada dahaga yang dipuaskan, tak kan ada lagi papan untuk berteduh.
Dan ketika hari itu tiba.. alam tak lagi punya kekuatan untuk menghadang badai yang datang….
Hancur.. itulah saat kehancuran…
bukan karena alam jadi marah..
tapi karena ia tak lagi mampu menahan gelombang badai ..
ia kini lumpuh karena keserakahan manusia..
ia kini hanya bisa melihat anak-anaknya tenggelam dalam bencana yang mereka pupuk hari demi hari sejak masa muda..
kini… badai  dituai ketika alam telah dilumpuhkan

Sayup.. bait demi bait itu bergema di hatinya. mengingatkannya akan keserakahannya. Ia hanya bisa diam seribu bahasa .. dan bayang bayang hari kehancuran itu terus menghias hatinya. Hari ketika air bah itu menghantam semua yang ia miliki. Hari ketika badai itu merenggut semua kecintaannya…

Ia kini hanya bisa terus melangkah dalam pencarian untuk menemukan kembali asa yang terpendam untuk membangunkan alam dari kelumpuhannya.

Share this entry
1 Comments
  1. aku kok merasakan kepedihan yang luar biasa setelah membacanya yah 🙁

    Reply

Leave a Reply

The Almighty is beyond our reach and exalted in power; in his justice and great righteousness, he does not oppress.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: