Dalam perjalanan pulang dari gereja, ada sepenggal pembicaraan yang menarik perhatianku. Pembicaraan yang kemudian dikaitkan dengan seorang tokoh di Alkitab ;

ibu : Iya aku baru tau dia ternyata marganya Petrus
cowo : oya? wah kukira itu namanya. Petrus orang yang nyangkal Tuhan Yesus. hahaha…

Tawa yang seakan melecehkan pribadi Petrus yang memang dikenal pernah menyangkali Yesus 3 kali. Semua orang pasti tahu kisah itu. Kisah yang menjadi pembicaraan dan jadi nasehat orang tua pada anak-anaknya. “Jangan seperti Petrus yang menyangkali Tuhannya.”

Tapi kita lupa.. apa yang dilakukan Petrus adalah sesuatu yang umum terjadi pada manusia. Kisah Petrus adalah perlambang kisah manusia yang harus memilih untuk tetap berada pada jalan yang benar, tetap membela yang benar atau berpaling dan berpura-pura tak tahu. Peristiwa penyangkalan bukan harus terjadi ketika disiksa oleh orang yang menyuruh kita menyangkal Kristus. Juga tidak harus pada saat kita disuruh meninggalkan keyakinan kita untuk sesuatu yang lain. Peristiwa yang dialami Petrus menunjukan salah satu sifat manusia yang takut untuk menyatakan keyakinannya jika apa yang ia percaya dan ia pahami berbeda dengan kalangan mayoritas. Takut untuk berbicara.. takut untuk menjadi berbeda sendiri.. takut tidak diakui oleh masyarakat dan kekhawatiran akan apa yang terjadi jika ia berdiri membela sesuatu yang ia percaya…

Ketakutan yang mungkin “wajar” namun juga “tak wajar”. Ketakutan dan kehawatiran yang bisa saja memimpin pada penyesalan seumur hidup atau kebahagiaan dunia karena diterima kelompok mayoritas.

Dalam hidupku… aku selalu bertemu dengan orang-orang yang selalu berkata “Jangan seperti Petrus. Dia itu orang yang menyangkal Tuhan.” Memang benar.. tapi seandainya kita berada pada posisi Petrus.. ketika kita harus memilih kebenaran yang kita yakini namun kita diperhadapkan bahwa pilihan itu akan membawa kita pada pengucilan, penjara, kemiskian atau bahkan kehilangan keluarga. Bisakah kita tetap memilih keyakinan kita? Ataukah kita akan bersikap tak peduli? Atau mungkin memilih berpaling dan menyangkali kebenaran?

Mungkin.. kita sering melihat pada kegagalan Petrus. Lupakah kita,… Petrus adalah pribadi yang pernah gagal dan menyangkal Tuhannya namun kemudian bangkit dan menerima kasih karunia pengampunan? Ia kemudian menjadi seorang rasul yang tak lagi takut untuk berkata Yesus adalah Tuhan. bagaimana dengan kita? siapkah kita diperhadapkan dengan pilihan? siapkah kita berdiri dalam keyakinan dan pilihan kita yang menentang masyarakat umum? Apakah ketika kita menuding “Jangan seperti Petrus” … hidup kita sudah lebih baik? sudahkah kita belajar dari Petrus ? Belajar dari kehidupan seorang rasul yang bangkit dan menjadi terang.

Petrus menyesali perbuatannya dan berbalik menjadi pribadi yang menyatakan kemuliaan Tuhan. Tapi bagaimana dengan kita? seringkali kita malah memilih jadi orang yang “ignorance” demi menyelamatkan diri dari tudingan masyarakat tanpa pernah menyesal. Seringkali dengan berbalut kepentingan Allah kita justru mencari keuntungan pribadi. Dan seringkali kasus-kasus untuk memilih bukan hanya berbicara akan keyakinan pada Tuhan namun juga pilihan untuk berdiri pada prinsip kebenaran ketika kita bekerja, bersekolah dan realitas sehari-hari lainnya.

Tagged in:

About the Author

ivie

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

View All Articles