Gereja, Kumpulan Hipokrit?

Kedatangan mamaku dari Ambon membawa banyak cerita. Cerita tentang gereja dan perilaku orang-orang di dalamnya. Menarik karena gereja seakan menjadi tempat dimana ada sekumpulan hipokrit yang sangat pintar menuding orang lain bagaimana harus bersikap namun ia sendiri hidup jauh dari kata-katanya. Ada banyak cerita yang rasanya tak etis untuk diungkapkan disini. Namun ada beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya perdebatan saat akan ke gereja bersama mamaku beberapa waktu lalu. Katanya , “Anak ini.. ke gereja kok pake pakaian kaya gitu? Orang di Ambon ga pake jeans dan kaos kayak kamu. Ga pantes.. ga sopan.. apa kata orang nantinya? …”.

Kalimat itu mengingatkanku akan masa-masa sekolah di Ambon, dan bagaimana masyarakat setempat melihat orang dari penampilan dan lain-lain. Orang mengenakan celana jeans ke gereja seperti menjadi aib yang layak digunjingkan atau layak dituding sebagai orang yang ga sopan dan nggak serius ke gereja.

Cerita lain juga bergulir tentang seseorang yang ditolak seorang pendeta dan juga gereja karena dia melakukan kesalahan dalam hidupnya. Hamil di luar nikah. Akhirnya sebuah pertanyaan yang muncul… untuk siapakah gereja seharusnya? Dan siapakah yang tengah berada di dalam gereja saat ini?

Memang tak semua seperti itu.. namun kita tak bisa menutup mata kalau dimana-mana kasus seperti ini memang ada.  Dan penolakan-penolakan seperti ini justru membuat manusia jadi menjauh dari Tuhan. Bagaimana tidak? Bukankah seharusnya gereja menjadi tempat orang-orang yang sakit? orang-orang berdosa yang membutuhkan pertolongan? Kalau seorang berdosa tak boleh datang menghadiri kebaktian di gereja, lantas siapa yang harus datang? Bukankah semua manusia itu berdosa? Kalau gereja hanya untuk orang-orang kudus, apakah ada yang bisa ke gereja? Nope! Semua manusia adalah pendosa yang dikuduskan oleh kasih karunia Allah. Dikuduskan bukan kudus oleh perbuatannya. Lantas layakkah kita menuding orang lain sebagai orang berdosa yang tidak layak buat memasuki rumah Tuhan?

Lah wong yang punya rumah aja menyambut hangat kepulangan anak yang hilang, kita-kita yang bukan pemilik rumah kok malah sibuk menolaknya?

Pernyataan tentang busana juga menjadi sebuah pertanyaan. Memang benar untuk menghadiri ibadah atau acara lainnya, kita harusnya tau dan menghargai acara tersebut dan tampil sopan dan setidaknya tidak salah kostum dan masih menjaga batas kesopanan. Namun jika “kategori tertentu” dianggap sebagai kategori tidak layak dengan penilaian itu akhirnya menjadi bahan gunjingan, pertanyaan yang muncul… apakah dengan berpakaian bak orang berpesta menjadikan hati seseorang itu “siap menghadap Tuhan”? Lantas jika penilaian ada pada hal-hal fisik .. apakah kita tidak sedang membudayakan kemunafikan? Akhirnya pertanyaan lain pun muncul, apakah gereja hanya berisi orang-orang hipokrit?

Kita, manusia membuat standar yang seakan-akan menjadi sebuah tolok ukur keimanan seseorang. Tak ada yang salah dengan membuat sebuah aturan dan standar tertentu. Namun ketika aturan dan standar itu menjadi tolok ukur keimanan, maka kita tak lebih dari manusia-manusia hipokrit yang berlindung di balik Firman Allah. Apakah itu kehendak Tuhan?

Wah.. di cerita anak hilang aja, si anak pulang ke rumah Bapa dalam keadaan compang camping dan diterima kok. Lah kok kita yang bukan pemilik rumah malah mengatur-ngatur harus berpakaian seperti apa.

Yang pasti Tuhan pun membenci orang-orang hipokrit. Ia sangat tidak menyukai manusia-manusia munafik yang hanya menampilkan sesuatu yang terlihat baik dan indah namun hati dan tujuannya berada di tempat yang berbeda jauh. Dalam Matius 15 : 8-9, jelas dikatakan sikap Allah akan kemunafikan tersebut. KataNya ;

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

Lalu Yesus berkata lagi kepada orang banyak,

“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Dan Yesus juga menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa,

“apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Nah, bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk golongan orang-orang munafik yang hanya memuliakan Allah dengan bibir dan bukan dengan hati? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh setiap kita.. karena kitalah yang memilih bagaimana kita beribadah kepada Dia Sang Pemilik Kasih Karunia itu. Apakah gereja hanya menjadi kumpulan hipokrit ataukah kumpulan orang-orang yang mencari Tuhan? Itu semua lahir dari hati manusia bukan dari tata aturan lahiriah…

Satu hal yang pasti, si tuan rumah… Bapa pemilik rumah itu menyambut pulang anak yang hilang dengan kehangatan dan bukan ditolak karena compang camping dan penuh lumpur dosa…..

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

9 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: