Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi….

Hari itu mungkin hari paling mengejutkan buat perempuan itu. Hari-hari yang biasanya ia lalui dalam kehangatan dan kenikmatan tiba-tiba terenggut ..ketika orang-orang itu.. datang menangkapnya..menyeretnya di sepanjang jalanan kota…

Tangisan dan teriakannya seperti menguap.. orang-orang itu tetap saja menyeretnya.. penuh tatapan kemarahan. kejijikan dan entah apalagi. perempuan itu seperti noda yang harus segera ditanggalkan. Tapi kemana mereka membawanya?

perempuan dosaTakut…. sesal semua bercampur jadi satu…

Perempuan itu tak lagi mampu berkata-kata. lidahnya kelu … pikirannya terkoyak sama seperti kehidupannya yang tiba-tiba dikoyakkan dari taman impiannya. Kehidupan yang ia nikmati.. tapi juga ia sembunyikan.. yang hanya bisa ia tampilkan dari balik pekatnya malam. Kekelaman adalah kawan.. terang adalah musuh yang menghadang…

Dari pelukan hangat satu pria ke pria lainnya menjadi rutinitas penuh tawa… kegembiraan yang penuh kepalsuan.. ataukah kegembiraan itu yang dia inginkan. Ia pun tak tahu…. perempuan itu sudah tak lagi tau arti bahagia…

apa itu duka? apa itu bahagia.. apa itu cinta?

Dan kini.. di antara lalu lalang orang.. di pagi yang cerah.. ia ditangkap dan diseret …. menuju peghakimannya..

Ia tau apa artinya… tak ada kata lain selain rajam. Ia pun kini menantikan batas akhir kehidupannya.

****

Bawa Perempuan itu ke Bait Allah! Ia harus dirajam! Ia akan membuat kota ini dikutuk!

Teriakan – teriakan itu membahana.. saut menyaut mengiring perjalanan pagi itu….

Pagi yang hening… tiba-tiba ramai ….

***
Sayu.. kini ia tiba di Bait Allah.. di sana ada seorang guru yang tengah mengajar pagi itu. Suaranya lembut penuh wibawa. Tapi ketakutan dalam diri perempuan itu tak lagi bisa membuatnya berpikir. Yang terlintas hanyalah.. batas akhir kehidupan sudah dekat…. yang terlintas hanyalah sesal…

Begitu tiba di Bait Allah, orang yang menangkapnya itu menghampiri sang guru…

Katanya, ‘Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

Perempuan itu hanya bisa diam terpekur… tak ada kata apapun .. ia hanya bisa menatap sang guru. Guru itu pun hanya membungkuk dan menulis sesuatu di tanah dengan jarinya. Entah apa yang ditulisnya. Tak ada yang tau…

Tapi orang-orang yang membawa perempuan itu sepertinya tak sabar. Mereka terus mengulang pertanyaan yang sama. “Perempuan ini harus dirajam. Rabi apa pendapatmu?”

Akhirnya, guru itu pun bangkit dan berkata pada orang-orang itu, “”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Dan ia kembali menulis di tanah lagi…

Perempuan yang jadi pesakitan itu hanya bisa terhenyak. Kata-kata sang guru menusuk jauh dalam kalbunya. Kekosongan dalam hidupnya seperti terkoyak…

dan orang-orang yang membawanya pun tiba-tiba menghilang satu demi satu….

Tak lama, sang guru pun bangkit berdiri dan … ia bertanya pada perempuan itu, “”Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

Dan perempuan itu hanya bisa menjawab…,””Tidak ada, Tuhan.”

Lalu sang guru pun berkata, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

****
Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang….

Kata-kata itu seperti menghentakku… menarikku dengan keras… dan aku tiba-tiba terbangun dari tidur panjangku. Entah apa yang terjadi… yang kutahu .. pagi ini pagi yang sama seperti kemarin. Namun kutahu hari di depanku akan berbeda.. entah bagaimana.

Fragmen kehidupan yang tadi nyata kulihat telah lenyap.namun kutau itu bukan mimpi. Itulah fragmen hidupku. Dan kata-kata itu terus terngiang menghentak seluruh kalbuku…..menghentak kesadaranku yang telah lama mati. Mati dalam gelimang dosa… namun senyum ketulusan dan kesabaran sang guru seakan mengisi lembar baru kehidupanku. Membawaku masuk dalam sebuah babak lain kehidupan.

Babak baru kehidupan bersama sang Guru, dan memahami arti kasih yang sesungguhnya.

****

Fragmen Yoh 8:1-11

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

3 Comments

  • Nobody’s perfect ! And only Jesus who can understand this. He gave His love to her, the sinner, not punish her by throwing her stones (or by sword). Halleluyah !

  • Tuhan itu baik ya… tapi kita ga boleh memanfaatkan kebaikannya.

    nice thought.

  • good story, mengesankan dan dapat dijadikan pelajarn

Leave a Reply

%d bloggers like this: