Journal

-- the pilgrim journey --

Home / astro / Potret Perempuan Dalam Sains
Sep 5 2009

Potret Perempuan Dalam Sains

Perempuan dan sains bisa jadi memang bukan hal asing bagi kehidupan masa kini. Tapi mungkin di suatu tempat tak terduga, masih ada yang mengernyitkan dahi dan balik bertanya, “apa? ilmuwan perempuan?”.

womanMungkin. dan hanya mungkin di suatu sudut di negeri ini atau di dunia ini masih ada yang bingung tak memahami pilihan ini. Atau malah menentangnya dengan berbagai alasan. Alasan yang paling sering menjadi penghalang bagi perempuan selama berabad-abad adalah persamaan hak. Perempuan tak bisa setara dengan laki-laki. Ada pekerjaan laki-laki dan ada pekerjaan perempuan. Perempuan tak boleh mengerjakan pekerjaan para lelaki dan juga sebaliknya. Alasannya? Perempuan hanya warga kelas dua. Perempuan hanya boleh menjadi istri….

Mungkin saat membaca tulisan ini, ada yang berpikir.. “hei ini udah jaman modern.. mana mungkin ada yang seperti itu.” Jangan salah mungkin di zaman serba modern ini, tak ada lagi pemisahan seperti itu. Tapi jauh di masa lampau, keberhasilan seorang perempuan masuk dalam dunia laki-laki adalah sebuah prestasi. Prestasi yang menjadi simbol kesetaraan… kepintaran… dan simbol sosial lainnya. Tapi tak hanya itu, perempuan-perempuan dalam sains ini tak hanya menggenggam keberhasilan dalam memposisikan dirinya sebagai partner laki-laki tapi juga menggebrak dunia dengan hasil yang mereka dapatkan. Hasil yang menjadi dasar bagi perkembangan sains dan teknologi di masa depan.

Perempuan-perempuan ini mungkin awalnya hanya bisa ditempatkan sebagai partner kerja laki-laki atau dikatakan turut berkontribusi namun tak pelak justru kontribusi merekalah yang menjadi dasar bagi pemikiran sains di masa depan. Tapi.. untuk sampai pada posisi itu mereka harus melewati masa-masa yang menyudutkan mereka. Masa di mana mereka harus bisa menghadapi kondisi bahwa saat itu perempuan belum diperkenankan untuk mengikuti pendidikan tinggi, perempuan tak diperkenankan untuk mendapatkan gelar sarjana, atau karir perempuan hanya sampai pada jenjang tertentu. belum lagi pandangan bahwa perempuan yang memiliki pendidikan tinggi akan berakhir melajang. Bahkan di ruang kerja tertentu ada pemisahan ruangan untuk makan antara laki-laki dan perempuan.

Tapi.. para ilmuwan perempuan ini tak pernah berhenti dan menyerah kalah. dalam berbagai bidang mereka berkarya.. walau ada yang harus bertarung dengan sakit yang diderita.

220px-Lise_Meitner_1900Lise Meitner, yang pada masanya perempuan tak bisa mendapatkan pendidikan tinggi menjadi perempuan kedua yang berhasil mendapatkan gelar Doktor Fisika di Universitas Vienna. Setelah menolak bekerja di pabrik lampu, ia justru menjadi ilmuwan yang mengabdikan dirinya untuk memecahkan problema pemecahan nuklir bersama rekannya Otto Hahn.  Sayangnya dalam publikasi tersebut Lise tak bisa diikutkan karena secara politis ia sudah keluar dari Jerman pada masa kekejaman NAZI. Otto Hahn sendiri mendapatkan hadiah nobel untuk penemuan tersebut.

Ada juga Rosalind Franklin, seorang ilmuwan biologi, fisika, biofisika, dan kimia yang pada masanya juga mengalami pembedaan antara laki-laki dan perempuan di universitas tempatnya bekerja (pemisahan untuk ruang makan kedua gender). Rosalind saat menamatkan pendidikannya Newnham College, Cambridge hanya bisa mendapatkan gelar titular (titel) karena saat itu perempuan tidak diperkenankan mendapatkan gelar BA. Walaupun bisa dikatakan ia adalah korban pembedaan gender, Rosalind mengabdikan dirinya pada kristalografi sinar-X yang ia pilih dan ia juga memberi kontribusi penting dalam pemodelan DNA yang kita kenal saat ini. Rosalind mati muda karena tumor.

Sosok lainnya adalah Barbara McClintock yang sempat dipertanyakan oleh ibunya sendiri ketika akan melanjutkan pendidikan tinggi. Sang ibu mengkhawatirkan pengabdian pada sains akan membawa Barbara pada kehidupan tanpa pernikahan. Barbara mengabdikan hidupnya mempelajari struktur genetik jagung. Ia mempelajari perubahan kromosom jagung selama masa reproduksi. Di tahun 1983, Barbara menerima Nobel Laureate. Pencapaian yang tak mudah tapi hasil dari ketekunan selama puluhan tahun meskipun ia harus melewati masa-masa penuh ketidakpuasan akan posisinya di Universitas tempatnya bekerja.

Birute Galdikas, masih bekerja dengan orang utan sampai hari ini.Ada lagi Biruté Galdikas, perempuan yang memutuskan untuk mengabdikan dirinya dalam pelestarian orang utan di Kalimantan, selama puluhan tahun. Pekerjaan yang sampai sekarang belum selesai. Pekerjaan yang tak hanya berbicara tentang mempelajari perilaku orang utan dan kehidupannya, tapi juga bagaimana melestarikan lingkungan kehidupan si orang utan dari tangan-tangan penebang kayu yang merusak hutan kalimantan atau para pedagang hewan liar. Pekerjaan yang menuntutnya berada dalam lingkungan yang seringkali tak nyaman bagi seorang perempuan.

Potret lain juga hadir dalam diri Hedy Lamarr yang lebih dikenal sebagai artis Hollywood. Ia juga salah satu penemu yang menemukan penyebaran spektrum teknologi komunikasi, kunci penting dalam perkembangan teknologi komunikasi wireless masa kini. Seandainya Hedy adalah artis masa kini, penemuan ini tentu akan menjadi publisitas yang bagus untuknya. Sayangnya di masa itu, menjadi ilmuwan bukanlah sebuah “prestasi”. Saat ia ingin mengabdikan dirinya pada keilmuan, ia justru disarankan untuk tetap berada di Hollywood karena ia akan lebih menolong orang dengan status keartisannya.

Di astronomi, ada banyak perempuan yang mengabdikan dirinya pada ilmu yang menggugah sanubari akan keindahan langit. Tiga di antaranya adalah Caroline Herschel yang menemukan beberapa komet dan menjadi asisten bagi sang kakak Sir William Herschel dalam pekerjaan astronominya.

Astronom perempuan lainnya adalah Henrietta Swan Leavitt yang menemukan hubungan Periode-Luminositas Cepheid sebagai alat penentu jarak. Penemuan yang membuka mata manusia akan kebesaran alam semesta. Dari penemuannya ini, para astronom bisa mengukur jarak cepheid di galaksi lain dan bisa mengetahui jarak galaksi tersebut. Cepheid merupakan bukti penting kalau ada galaksi lain yang berada jauh di luar Bima Sakti. Pekerjaannya juga menjadi dasar bagi pekerjaan Edwin Hubble. Penemuan Henrietta Leavitt pada akhirnya mengubah teori astronomi modern. Pencapaian yang sangat penting dan luar biasa mengingat ia hampir tak pernah mendapatkan kredit selama hidupnya. Penghargaan padanya diberikan dengan memberi nama Leavit pada asteroid dan salah satu kawah di Bulan. Penghargaan lain yang diberikan setelah hampir 100 tahun adalah nama Leavitt dilekatkan pada nama penemuannya yakni hubungan Periode-Luminositas Leavitt.

Annie J CannonAstronom lainnya, Annie J. Canon memberikan kontribusi yang sangat penting dalam klasifikasi bintang. Ia membagi bintang dalam beberapa kelas berdasarkan spektrumnya. Kelas spektrum yang ia buat inilah yang menjadi dasar klasifikasi fisis bintang dalam sejarah perkembangan astronomi sampai hari ini. Kelas yang dikenal dengan idiom Oh Be A Fine Girl and Kiss Me (O B A F G K M). Dan saat itu ia bekerja di Harvard dengan bayaran 25 sen sementara sekretaris di Harvard mendapatkan bayaran yang lebih dari itu.

Itulah  potret beberapa ilmuwan perempuan yang telah meletakkan dasar bagi keilmuan masa kini. Perempuan-perempuan yang berada di garis depan keilmuan walau harus bertarung dengan pandangan umum masa itu bahwa perempuan tak seharusnya berada pada posisi seperti mereka. Perempuan-perempuan ini juga yang mendobrak pandangan kalau tak ada yang salah dengan saintis perempuan. Tak ada yang salah… karena setiap orang bisa memberi kontribusi bagi dunia keilmuan.

Bagaimana sekarang? Kondisi masa kini memang telah berubah. Namun di beberapa bagian dunia masih ada perempuan yang dianggap sebagai warga kelas dua dan dijadikan objek eksploitasi. Perjalanan memang belum berakhir.

Dasar yang diletakkan itu telah menjadi bangunan. Dan perempuan-permpuan masa kini telah membangun di atas dasar itu, menjadikannya bangunan pencakar langit yang megah. Tapi akankah pencakar langit itu kehilangan sentuhan keindahan, kemanusian dan kasih? Pertanyaan inilah yang sekarang menjadi bagian kita untuk menjawabnya, karena ilmu pengetahuan dan teknologi digali bukan untuk sebuah kehebatan tapi untuk kemanusiaan itu sendiri.

Dan di suatu masa ketika para perempuan itu membangun dasar bangunan…mereka tak pernah kehilangan sentuhan itu. Satu diantaranya adalah Lise Meitner, fisikawan yang tak pernah kehilangan humanismenya.

___________

*terinspirasi dari Buku Perempuan dalam Sains.
Di sepanjang tahun Astronomi Internasional 2009, dibuat juga sebuah cornerstone project She is an Astronomer yang bertujuan untuk memberi semangat pada perempuan untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan berkarir dalam sains.

___________

Share this entry
1 Comments
  1. Hmm, Marie Curie gak dimention. Kayaknya kebanyakan anak sekolahan cuma kenal ilmuwan cewek yg satu ini. 😀

    Reply

Leave a Reply

The Lord your God is with you, the Mighty Warrior who saves. He will take great delight in you; in his love he will no longer rebuke you, but will rejoice over you with singing.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: