Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Belenggu Ini Menyakitkan Langkahku
Sep 16 2009

Belenggu Ini Menyakitkan Langkahku

Fragmen itu tak pernah pupus, hadir di antara hari-hari yang dijalani. Belasan tahun sudah perjalanan ini begitu menyakitkan Melangkah di antara kerikil tajam… tersandung dan tergelincir masuk dalam rawa yang menakutkan, tenggelam dalam lautan tak berbatas…

belengguTapi lagi dan lagi… kutemukan diriku masih tetap ada…

Kata orang, “keajaiban kau bisa tetap hidup.” Kata yang lain, “Tak mungkin kau bisa tetap bertahan…”

Tapi kenyataannya ku ada disini. Bertabur pujian, kekaguman dan sanjungan. Tak ada lagi yang tak bisa kuraih… semua bisa kudapatkan hanya dengan untaian kata. Tak ada yang tak menghormatiku. Kehidupan begitu indah. Semua yang diimpikan manusia telah kuraih, ada dalam genggaman.

Cawanku penuh..dan memabukkan. Kesenangan bisa kudapatkan dengan mudah. Semua yang dulu hanya jadi bayang-bayang mimpi kini dapat kugenggam dengan mudah…

Cawan itu terisi dan terisi lagi.. tak pernah habis kenikmatan itu kureguk. Hari demi hari, tahun demi tahun… mimpi itu terus terisi.. manis.. memabukkan dan penuh gairah. Gairah masa muda yang membawaku dalam liarnya petualangan…

Fragmen itu masih terus berman liar di antara anganku…

Entah sudah berapa tahun kulalui.. rasanya semua tanpa arti..cawan itu tak lagi punya rasa. Hambar…meski kenikmatan itu masih sama.. tapi hatiku tak lagi sama…

Fragmen itu membawaku masuk ke saat dimana aku jatuh dalam kegelapan rawa… ketika aku hampir tak dapat bangkit… ketika bayang gairah masa muda menarikku lagi dan lagi….

Ah… saat itu aku pernah bertanya bagaimana kubisa lepas. Tapi tak pernah kutemukan jawabnya. Lagi dan lagi… kujatuh.. tapi lagi dan lagi ada tangan ajaib yang menyelamatkanku. Keselamatan yang membawa tanya, “bagaimana mungkin kau bisa bertahan.”

Tapi.. ada saat ketika lelah menghampiri dan kubiarkan diriku mereguk semua cawan kenikmatan yang telah terisi penuh…fatamorgana terindah yang pernah kurasakan..

Fragmen pun berganti….. disebuah sudut jalan…orang itu tertatih berjalan…teriakan dan sorakan tak pernah berhenti menghantar perjalanannya. Dia… tertatih .. penuh darah… dan cambukan…

Sayu… matanya memandang.. tapi tak ada kemarahan. tak ada kecewa..

Di sisi sisi jalan teriakan-teriakan tak pernah berhenti. tak ada belas kasihan padanya. Semua orang bersorak melihatnya.. mereka mengejeknya…

Marah… ingin kuhentikan orang-orang itu.. tak adakah kasih? Tegakah mereka melihatnya berjalan seperti itu..?

Fragmen itu semakin dekat dan jelas. Orang berjalan terseok.. dengan mahkota duri di kepalanya. Dan ia memikul kayu panjang di bahunya…

Diam… aku terpaku.. aku pernah melihatnya..

Ya rasanya dia tak asing bagiku….kayu….. “Ya Tuhan…..itu salib.” Dia… Dia……..Dia Yesus!!!!!!!

Tercekat kumelihatnya.. terdiam dalam ketakutan… karena nun disana kulihat diriku pun berteriak.. aku juga menyalibkan Dia…

Dia… Dia memandangku.. matanya tak menyiratkan kemarahan. Ia menatapku lembut…

Hancur! aku hancur… ,”apa yang kulakukan padaNya?, mengapa ku ada disana? mengapa aku juga menyalibkan Dia?”

Tanya itu bergaung tak terjawab….lalu dalam hembusan angin..

Fragmen pun berganti… dan di sudut lain kulihat diriku… dalam sebuah ruang indah, duduk laksana penguasa yang hidup dalam kenikmatan. Dunia dalam genggaman…tapi bayangan itu pudar perlahan, berganti dengan sebuah ruang nan gelap.

Di sana kulihat diriku, terbelenggu di balik jeruji… dalam setiap langkahku ada kesakitan. Pelan kuraih belenggu itu.. kuputuskan.. tapi ia terambung lagi dan lagi.

Frustasi.. apa yang harus kulakukan.. haruskah ku menyerah?

Dalam bingung.. fragmen kembali berganti. Di atas bukit kulihat Tuhanku tersalib. Tapi… bayangan itu kabur berganti dengan hari ketika perempuan-perempuan dalam tatap kebingungan bertanya dimanakah mayat orang yang tersalib itu?

Ia bangkit.. kisah-kisah lama nyata dihadapanku kini. Ia bangkit! dan belenggu-belenggu pun terputuskan seiring nyanyian iman jutaan manusia….

Fragmen itu pun pudar…. menyadarkanku dari angan yang hadir. Membawaku kembali pada kesadaran, belenggu yang pernah terlepas dahulu masih kukenakan. Belenggu yang menyakitkan langkahku masih terus mengikatku di balik jeruji…

Sayup kudengar lantunan indah yang menyentakku dari semua yang pernah ada…

Dan…tersungkur ku bertelut.. kulantunkan lagu itu menjadi doa… yang mengubah hidupku selama-lamanya.

Tuhan angkat diriku tolong aku anakmu
lepaskan jerat hasrat kedagingan hatiku

malu akan dosaku
saat ku menghadapmu
belenggu ini sangat menyakitkan langkahku.. (-copyright disciples song-)

Share this entry
1 Comments
  1. Vanda

    you’re not alone… kita semua menyalibkan Yesus. tapi Yesus tetap tersenyum untuk kita… anak-anak Tuhan

    Reply

Leave a Reply

Surely the righteous will never be shaken; they will be remembered forever.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: