Pilihlah Kepada Siapa Kamu Beribadah..

Pernahkah kata-kata itu terlintas di benakmu? Sebuah pertanyaan sederhana… kepada siapa kamu beribadah?

footprintTak hanya itu tapi ada sebuah kata kunci lainnya.. pilihlah!. Apakah memilih iman semudah membalikkan telapak tangan? Well.. coba kita lihat orang yang mengatakan kata-kata ini  berabad-abad lampau.

Adalah Yosua, seorang pemimpin Israel setelah Musa yang mengatakannya di masa tuanya. Kata-kata ini ia kemukakan pada bangsa yang ia pimpin. Ia bukan pemimpin diktator yang memaksa bangsanya memilih, namun ia memberi kesempatan kepada mereka untuk berpikir, menimbang dan memilih. Mengapa demikian?

Karena ia tahu bangsanya adalah bangsa yang tegar tengkuk.. yang seringkali ngedumel dan tidak pernah puas. bangsa yang sudah berulang kali mengalami mujizat dan karya tangan Sang Ilahi namun mereka jugalah yang berulang kali membangkang. Namun Yosua tak hanya memberi pilihan.. ia pun menyatakan pilihannya. Katanya,”

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN. (Yosua 24:15)

Pilihan yang Yosua ambil sangat jelas, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Pertanyaannya apakah pilihan ini datang begitu saja? Tidak juga. Yosua adalah pribadi yang hidup dan berjalan dengan Tuhan selama hidupnya. Ia mengalami banyak hal dalam pimpinan Tuhan ketika ia setia dan takut akan Tuhan. Tapi bukan berarti ia tak pernah mengalami permasalahan. Ia pernah mengalami kekalahan bersama bangsanya sebagai akibat ketidaktaatan yang terjadi pada bangsa yang ia pimpin. Namun bahkan dalam banyak perkara Yosua tak pernah berhenti untuk setia.

Bagaimana dengan kita? Seringkali ketika permasalahan datang kita justru mempertanyakan Tuhan. Dan bertanya mengapa Tuhan? Kita seringkali ketika berhadapan dengan masalah justru mundur dan ragu. Ada yang justru menjauh. Dan kita seperti menjadi orang yang tanpa pegangan. Tapi lihatlah Yosua.. perjalanan hidupnya bisa membawa dia untuk berkata, “tapi hari ini aku dan keluargaku memilih beribadah kepada Tuhan.”

Ketika seseorang memilih untuk beribadah kepada Tuhan, artinya ia bukan sekedar datang berdoa atau sekedar bernyanyi menyembah dan memuji dengan mulutnya saja. Memilih untuk beribadah tidak sedang berbicara tentang sebuah identitas keagamaan atau identitas keyakinan seseorang. Tapi memilih kepada siapa kamu beribadah berarti kamu memilih kepada siapa kamu siap menyerahkan hidupmu sepenuhnya. Pilihan ini berbicara tentang ketaatan, keyakinan bahwa Ia baik, penyerahan diri kepadaNya, berpegang pada kesetiaan Allah dan pengabdian. Yang dituntut adalah totalitas untuk menyerahkan diri tanpa meragukan Dia. Dan bagian ini tidak pernah mudah.

Manusia memiliki natur untuk terus bertanya. Dan ketika membentur masalah yang belum mampu dipecahkan, ia lebih sering mempersalahkan orang lain ketimbang bertanya pada diri sendiri atau duduk diam dan menelaah kembali masalah itu. Sounds familiar? Well itulah yang terjadi dalam hidup saya dan mungkin juga hidup banyak orang. Ketika masalah muncul dan tdak terpecahkan… yang tejadi adalah kecenderungan untuk menyalahkan orang lain. Yang terjadi adalah mempertanyakan.. Tuhan mengapa? Ketika problem datang bertubi-tubi.. seringkali pertanyaan itu hadir dan seringkali keinginan untuk membanding-bandingkan dengan orang lain pun muncul. Tapi pada akhirnya ketika kita sudah memlih pada siapa iman kita diletakkan, maka kita pun harus berani percaya bahwa rencanaNya adalah baik.

Akan butuh waktu yang panjang bagi kita untuk benar-benar bisa total berserah. Namun ada satu hal yang terus menerus berbicara padaku akhir-akhir ini. Kata-kata yang sama yang terus terngiang-ngiang namun sekaligus memberiku keyakinan untuk percaya bahwa Ia baik dan Ia tak pernah berpaling. Kata-kata Yosua, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

2 Comments

  • hallo mbak ivie .. met mlm
    salam kenal …….
    sy ingin memberi tambahan untuk bahan renungan terkait tulisan sampaen di atas.
    (maaf) di agama sy (Islam) …. ada pelajaran dari Tuhan, bahwa iblis tidak bisa menggoda/menundukkan orang yang hatinya “ikhlas”.
    yang sy perhatikan adalah bahwa, sedemikian tinggi derajat orang yang ikhlas ini sampai Iblis pun … pagi2 sudah lempar handuk (menyerah) ……
    Atau …. karena memang Orang yang Ikhlas itu dekat sekali dengan Tuhan, dan otomatis selalu mendapat pancaran sinar Ilahiah yang mengakibatkan Iblis KO … ???
    Hal ini yang selalu menjadi bahan renungan sy sampai sekarang ….,
    gimana pandangan mbak ivie sebagai penganut Christiani tentang hal “ikhlas” ini.
    dari saya ….
    JoniJono (facebook) …
    salah seorang pengagum mbak ivie … he hee
    salam

    • waduh maaf. saya baru baca komennya. saya kurang paham ikhlas yang dimaksud dalam alquran seperti apa. tapi kalau boleh saya interpretasi, org yang ikhlas itu adalah orang yang dekat dengan Allah sehingga ia tidak punya celah dimana iblis bisa menggodanya. di alkitab, dikatakan iblis itu mengaum seperti singa siap menerkma. tapi ia tidak akan bisa menerkam kalau ornag yang diincar tetap berjaga-jaga dalam artian tetap melakukan kehendak Tuhan. 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: