Keinginan Yang Berakhir Maut

Berabad lampau, di zaman Musa, Allah menurunkan Hukum Taurat kepada bangsa Israel.

covet Susunan perintah yang menyadarkan manusia bahwa di dalam dirinya ada keinginan dosa dan ketidakmampuan untuk memenuhi standar yang diberikan Tuhan.  Standar kekudusan yang harus dipenuhi jika ingin bersama denganNya di dalam kekekalan. Apakah standar itu mudah? Apakah  manusia mampu untuk memenuhi setiap standar kekudusan Allah? Perintah tersebut bukan sekedar untuk menunjukkan pada manusia inilah standar Tuhan, namun perintah tersebut juga menunjukkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan dan membangun tatanan masyarakat yang harmonis.

Dalam perintah-perintah itu, Allah memberikan aturan yang secara fisik sangat terlihat. Contohnya, jangan ada Allah lain, jangan membuat patung, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri… semuanya nyata dan mudah terlihat oleh orang yang ada di sekelilingnya. Namun ada perintah lain yang tampak sangat abstrak tapi memberi dampak yang sama dengan perintah lainnya. Apakah itu ?

Tuhan menyatakan, “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Jangan mengingini. what? kok bisa? apakah keinginan itu salah ? Bukankah dalam diri manusia selalu ada keinginan? Yup! tak salah, keinginan adalah bagian dari natur manusia yang tak bisa dihindarkan.

Ketika hasrat dan keinginan menyeruak dalam diri manusia, maka yang dituntut adalah sebuah pemenuhan. Tapi keinginan itu apa? akankah keinginan membawa pada kebaikan ataukah ia akan menjadi awal sebuah bencana? Salahkah jika kita mengagumi sesuatu dan mengharapkan atau menginginkan sesuatu? Well … bisa salah bisa juga tidak. Kok bisa?

Natur manusia menunjukkan keinginan itu seringkali lahir karena melihat dan memandang milik orang lain lebih baik dari dirinya sendiri. Seringkali pula keinginan itu lahir dengan motivasi hanya untuk memuaskan diri atau menunjukkan bahwa “aku bisa” atau pun “aku lebih baik”. Inilah letak permasalahannya. Ada memang keinginan yang lahir dari harapan untuk memperbaiki sesuatu atau menolong orang lain. Namun dalam perintah ini yang dibicarakan bukan keinginan yang baik itu namun keinginan yang lahir dari rasa tidak puas. intinya, Jangan megingini!. Entah itu kekasih sesamamu, barang sesamamu, hambanya, hewan ternaknya, atau kalau zaman sekarang bisa dibilang jangan deh mengingini mobil. rumah dan segala kemewahan sesamamu itu.

Mengapa? ada dua kisah dalam alkitab yang bisa menunjukkan betapa berbahayanya yang namanya mengingini. Yang pertama ketika Ahab mengingini kebun anggur milik Nabot yang ada di dekat rumahnya. Ketika Nabot menolak keinginan sang raja, Ahab pun uring-uringan, dan tidak mau makan. Sang istri yang heran kemudian bertanya apakah gerangan penyebabnya. Setelah tau penyebabnya, Izebel justru mengatur rencana untuk mendapatkan kebun anggur itu. Rencana yang menggunakan kekuasaan sebagai Raja… kebohongan diciptakan dengan nama Tuhan, dan akhirnya Nabot pun difitnah telah menghujat Allah dan raja sehingga ia pun mati dirajam. Allah Murka… dan nabi Elia diutus mendapatkan Ahab dan menyatakan hukuman padanya.

Kisah Ahab menunjukkan pada kita, dari keinginan yang ada di dalam hati dan pikiran akhirnya berbuah pada dosa. Kebohongan, pembunuhan dan terakhir mengambil milik Nabot yang sudah mati itu.

Kisah kedua datang dari kehidupan Daud, sang Raja yang dikenal sebagai biji mata Allah. Pria yang menuliskan bait-bait indah dalam mazmurnya. Keinginannya ternyata justru membawa petaka bagi dirinya. Sore itu, saat ia tengah berada di berandanya, Daud melihat seorang perempuan tengah mandi. Batsyeba nama perempuan itu. Daud pun tertarik dan mencari tau. Kabar dari para hamba mengatakan perempuan itu istri Uria. Apakah Daud berhenti? Tidak!. Ia justru memanggil Batsyeba dan kemudian tidur dengan dia. Akibatnya? Batsyeba pun hamil. Daud bingung dan mencari cara agar semuanya tak ketahuan. Sang suami, Uria dipanggil pulang dan dengan segala cara diusahakan agar Uria mau bersetubuh dengan sang istri. Sayangnya Uria tak bergeming. Baginya, selama kawan-kawannya maish berperang ia tak akan bersenang-senang sendiri. Akhirnya cara terakhir ditempuh Daud. Uria diperintahkan berada di garis depan untuk mati dan setelah itu Daud pun mengambil Batsyeba jadi istrinya. Happy Ending buat para pecinta sinetron. Tapi hidup bersama Allah bukan untuk kepuasan diri sendiri. Akibat perbuatannya, Allah mengutus Nathan untuk menegur Daud. Daud memang menyesal, tapi anak yang dikandung Batsyeba harus mati. Dan pedang tak pernah menyingkir dari keturunannya. Tragis? seorang raja hebat jatuh hanya karena seorang perempuan.

Kisah raja Daud ini bermula dari hal paling sederhana. Keinginan untuk memiliki perempuan yang ia lihat. Dia tau itu istri orang, tapi masih dilanjutkan juga dengan perzinahan, sampai pada pembunuhan. Apakah Daud tak punya istri? jangan salah, Daud sudah diberikan istri-istri tuannya bahkan gadis manapun pasti bisa dia perintahkan untuk jadi istrinya. Tapi yang dia inginkan itu istri pegawainya. Dan ia memilih untuk mengikuti keinginan itu yang berbuah dosa.

Keinginan mungkin sesuatu yang abstrak namun ketika keinginan itu dibuahi dalam perbuatan, ia tak lagi abstrak. Dan akibat dari perbuatan bisa berujung pada kebaikan ataupun pada kecelakaan. Keinginan yang lahir dari hasrat untuk memuaskan diri atau menunjukkan kehebatan diri biasanya akan berbuah pada kecelakaan. Contoh sederhana di masa kini, seseorang yang awalnya pembela rakyat bisa jadi seorang koruptor ketika masuk pemerintahan. Mengapa? Jawaban sederhana, karena ia ingin memuaskan dirinya sendiri dan tak berhenti mencari kepuasan. Inilah yang dimaksut oleh periokop di Keluaran 20 : 17 tersebut. Jangan mengingini barang sesamamu apapun itu.

Lantas bagaimana agar kita tidak mengingini yang bukan hak kita? Jawabannya sederhana. Beryukurlah dengan apa yang sudah dimiliki. Bersyukurlah akan setiap berkat yang sudah diterima tanpa harus melihat apakah rumput tetangga lebih hijau atau lebih kuning dari kita. Belajar untuk menerima diri sendiri dengan segala talenta dan berkat serta belajar untuk puas dengan apa yang dimilikinya. Karena jika kita membiarkan ketidakpuasan itu menguasai, maka akan muncul keinginan untuk memiliki yang lebih lagi, dan dari keinginan yang dibuahi itulah hadir dosa yang membawa pada maut.

Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (Yak 1:15)

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

Leave a Reply

%d bloggers like this: