Journal

-- the pilgrim journey --

Home / traveling / Just Believe
May 12 2010

Just Believe

Setiap perjalanan selalu punya ceritanya sendiri, entah itu cerita yang penuh kegembiraan, ketegangan atau malah sesuatu yang membawa kesedihan. Tapi coretan cerita itu ketika dikenang justru membawa pelajaran baru dan wawasan baru.

Bulan maret 2010, saya berkesempatan mengikuti Communicating Astronomy with the Public conference 2010 (CAP 2010) di Cape Town Afrika Selatan. Acara yang sama pernah saya hadiri di tahun 2007 di Athena, Yunani. Tak bisa dipungkiri Afrika Selatan memang sedang terkenal dengan penyelenggaraan piala dunia yang akan dilaksanakan pertengahan tahun 2010. Dan tak bisa dipungkiri juga dampak dari persiapan piala dunia ini pun saya alami saat hendak membuat Visa. lagi-lagi saya bermasalah dengan Visa.

Semua dimulai dengan satu keyakinan kalau membuat visa ke Afsel tentu tidak akan sesulit membuat visa ke eropa. Menilik aturan yang diberikan di website kedutaan Afsel, semua bisa dipenuhi dengan mudah. Dan karena merasa aturan yang diberikan di web dan permintaan prasyarat yang diajukan jika dibuat melalui travel sama saja, saya pun memutuskan menggunakan jasa travel. Saat itu sekitar 2 minggu sebelum keberangkatan dan proses visa dinyatakan hanya membutuhkan 5 hari.

Dengan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, saya pun menyiapkan setiap prasayarat. Tapi lagi-lagi… kejadian saat ke Yunani terulang. Saya mengalami kesulitan menghubungi panitia. Namun segera setelah surat undangan didapat semuanya pun disiapkan untuk diproses.

Tapi, lagi-lagi saya harus berhadapan dengan masalah. Masalah yang sering kali membuat saya berpikir “is this happened to others? or it just me? and what do You want Lord? what is Your purpose?” kok rasa-rasanya saya jarang mendengar teman-teman saya yang “bermasalah” dengan proses Visa.

Ok, walau seluruh prasyarat sudah dipenuhi, pihak kedutaan menyatakan ada kekurangan. Oh wow.. kurang? bukankah semua sudah diikuti berdasarkan prasyarat yang tertulis dan diminta? Awalnya saya berpikir ini karena saya tidak datang sendiri dan menggunakan jasa travel. Akhirnya saya pun mengontak kedutaan. Jawaban yang saya dapat, dengan atau tanpa jasa travel syarat tersebut masih sangat kurang. Dan syarat tambahan itupun benar-benar memusingkan. Kedutaan menyatakan surat undangan yang diberikan tidak memiliki alamat institusi pengundang dan alamat tinggal saya disana. Selain surat undangan, pihak kedutaan juga meminta fotokopi paspor dan identitas pengundang serta company registration number dari institusi pengundang dalam hal ini The South African Astronomical Observatory (SAAO).

Akhirnya setelah berhasil menghubungi ketua LOC, 2 syarat pertama berhasil didapat. Permasalahannya adalah syarat ke-3. SAAO merupakan observatorium yang berada di bawah pemerintah dalam hal ini Departemen Sains dan Teknologi Afrika Selatan dan merupakan fasilitas National Research Foundation (NRF) yang artinya dia adalah lembaga pemerintah yang nggak punya company registration number aka SIUPP. Walau mencoba bicara dengan kedutaan, mereka masih saja menyatakan bahwa semua institusi itu harus ada SIUPP. Panik, stress membuatku berpikir.. ya sudahlah kalau nggak dapet ya batal aja. Paling yang harus dilakukan .. memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyurati panitia agar membatalkan kehadiran sekaligus presentasi saya.

Kevin sang ketua panitia ternyata berusaha sekuat tenaga untuk membantu saya mendapatkan semua surat yang dibutuhkan. Ia tak hanya mengirimkan fotokopi identitasnya dan surat undangan baru yang lengkap tapi ia juga mengirimkan berbagai dokumen yang menyatakan apa itu SAAO dan dokumen yang berisi keputusan pemerintah tentang SAAO dan keterkaitannya dengan NRF. Bahkan ia juga mengirimkan berkas yang terkait pajak milik observatorium.

Sore itu, saat sedang online dan masih dilanda kebingungan, saya bertemu pembimbing saya saat kuliah dan kami pun chatting. Pembicaraan yang cukup panjang, namun beliau sempat menegurku dan membuatku kembali berpikir. saat itu beliau mengatakan, lupakan afrika dan visamu. Menulislah untuk Tuhan dan lakukan yang Ia kehendaki dan kamu akan melihat Tuhan bekerja untuk visamu. Kamu ga akan sadar ketika semua masalah terselesaikan sesuai kehendakNya.

Saat itu saya hanya bisa terdiam dan kembali berpikir. ada di titik manakah saya? Apakah saya sudah menjauh? Dan dimanakah iman saya? Bukankah iman itu percaya pada segala sesuatu yang tak terlihat? Bukankah iman juga menyatakan ketaatan dan percaya sepenuhnya pada kedaulatan Allah? Pada akhirnya saya bertanya pada diri sendiri.. apakah saya sudah jadi orang yang tak mampu percaya bahwa Allah punya rencana apapun itu? Bukankah pintu itu pernah dibuka pada waktunya dan pernah juga Ia ijinkan tertutup di saat-saat terakhir? Jadi dimanakah imanmu bahwa Tuhan punya rencana dan jalanNya sendiri.

Malam itu saya pun meminta supaya kegalauan dan semua keraguan itu diangkat dan biarlah rencanaMu yang jadi. Seandainya batal seperti apa yang terjadi tahun lalu saat pintu itu ditutup 2 hari sebelum keberangkatan, pun saya siap. Apakah setelah itu semua masalah selesai? tidak juga. Yang harus dilakukan adalah percaya bahwa semua akan selesai sesuai kehendak Allah. Apapun itu. Dan percaya bahwa Allah punya tujuan untuk setiap kejadian yang dialami.

Keesokan harinya, Kevin menghubungi saya dan meyatakan akan membuat surat khusus dari Direktur SAAO yang menerangkan tentang SAAO sekaligus menerangkan seluruh identitas saya dalam surat tersebut. Well ini pun bukan solusi yang diminta bukan? Tapi saya harus mencoba karena jarum jam terus berputar dan masa keberangkatan hanya tinggal 1 minggu lagi.

Nekat, saya pun ke kedutaan membawa semua prasyarat. Mereka masih mempertanyakan soal company registration number dan saya hanya bisa menyatakan ini dokumen yang bisa anda baca yang menerangkan institusi tersebut dan kalau anda ingin mengetahui lebih lanjut, anda bisa menelpon ketua LOCnya saat itu juga karena ia sudah menyatakan siap ditelpon jam berapapun dari kedutaan. Setelah berdebat agak lama, akhirnya surat-surat itu pun diterima dan diproses.

Lima hari kemudian… aka 2 hari sebelum keberangkatan akhirnya visa itu pun keluar. Dan … lagi-lagi saya harus merenung dan meihat kembali apa arti percaya penuh pada kedaulatan Allah. dan saya harus akui.. saya masih harus banyak belajar dan melihat bahwa ya rancanganku bukanlah rancanganMu. dan rancanganMu lah yang seharusnya terjadi di dalam hidup ini bukan rencana dan rancanganku.

Tuhan tak pernah berhenti memegang anak-anakNya namun Ia juga senantiasa menggunakan berbagai kejadian untuk mengajar anak-anakNya untuk melihat padaNya dan tetap merendahkan diri di hadapanNya. Karena Ia adalah Allah yang berdaulat atas hidup kita… dan Ia tak pernah lalai merangkai kehidupan kita dalam harmonisasi yang Ia kehendaki. Satu hal pasti… semua yang terjadi hanya karena anugerah dan kasih karunia Allah.

Dan yang Ia kehendaki dari kita cuma satu. Just Believe!

Share this entry

Leave a Reply

He has shown you, O mortal, what is good. And what does the Lord require of you? To act justly and to love mercy and to walk humbly with your God.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: