Journal

-- the pilgrim journey --

Home / film / Potret China dari Kacamata Dre
Jun 19 2010

Potret China dari Kacamata Dre

Menonton The Karate Kid sebenarnya tidak banyak memberi kejutan dalam hal plot cerita. Ceritanya sama seperti film sebelumnya, hanya dengan menampilkan seting berbeda. Tapi jangan berpikir kita akan beralih dari film ini dengan mudah.

kredit : The Karate Kid

Mengangkat kisah kepindahan Dre dan ibunya dari Detroit ke Beijing, film ini coba menampilkan keindahan kung fu, seni bela diri yang sudah hidup selama ratusan tahun di China. Film ini tak hanya coba memberikan tontonan keindahan gerakan demi gerakan dalam kung fu namun esensi dari pembelajaran bela diri itu sendiri. Apa tujuannya dan bagaimana mengatasi serta mendisiplinkan dirinya sendiri.

Mungkin sebagian orang akan bertanya, apa bedanya dengan cerita sebelumnya? Polanya sama.. endingnya pun bisa ditebak. Namun lagi-lagi film ini membawa kita bukan sekedar melihat kung fu dan perjalanan Dre menjadi seorang pesilat hmm apa yah istilahnya pekung fu tangguh? Well.. cerita ini juga coba menyajikan sisi kehidupan kota Beijing yang bisa jadi memberi gambaran tentang China secara sekilas.

Potret China mulai ditampilkan dengan keberangkatan Dre dan ibunya dari Amerika ke China. Bagaimana sang bunda coba mengajak Dre untuk “mengenal” sedikit bahasa mandarin. Tiba di Beijing, kita disuguhkan pada potret kesibukan kota metropolitan yang terlihat sekilas kala mereka melangkah dari bandara menuju lokasi tempat tinggal mereka. Kemegahan Bird’s Nest National Stadium yang dibangun untuk olimpiade tahun 2008 seakan menjadi simbol China modern yang sedang bergerak maju.

Bird's Nest National Stadium di Beijing yang dibangun untuk Olimpiade 2008. Kredit : The Backyard Birdman blog

Tiba di apartemen bernama Beverly Hills, yang jelas jauh dari bayangan kemewahan Beverly hills di USA, Dre bertemu dengan seorang anak amerika yang tinggal di China. Disini kembali kita diperhadapkan untuk melihat adanya kehidupan multikultural perkotaan. Bukan hal aneh dan memang demikianlah karakter kota besar seperti halnya kota-kota besar lainnya yang memiliki penduduk multi nasional.

Tak berhenti disitu, film ini mengajak kita untuk mengenal potret kehidupan masyarakat di lingkungan setempat. Taman tempat masyarakat beraktifitas dan saling berinteraksi mulai dari bersantai sampai dengan berolahraga. Yang unik tampak juga alat-alat “fitnes” ala kadarnya yang mungkin sedikit gambarannya bisa kita lihat dalam kisah “Gorila dari Gang Buntu” yang disajikan dalam Eagle Award 2010. Alat-alat ini bukanlah alat mewah yang harus didapat dengan mahal, tapi “alat sehari-hari yang bisa digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah”.

Cerita ini pun berhasil menunjukkan sisi lain kota Beijing. Sisi kehidupan masyarakat urban di balik megahnya gedung-gedung yang menghiasi kota metropolitan. Sisi lain yang terpampang di antara gang-gang sempit dan perumahan yang sederhana menjadi gamabaran bagaimana kehidupan masyarakat setempat. Tak ada kata yang terucap memang untuk menjelaskan semua itu. Namun gambar yang disajikan bisa berbicara sendiri pada para penontonnya.

Perbedaan budaya dan bahasa pun disajikan sekilas oleh ketidakmampuan Dre dalam berbahasa Mandarin dan kesulitan komunikasi dalam menyampaikan sebuah maksut. Sang bunda pun tampaknya mengalami kesulitan yang sama dalam hal “ketidak mampuan membedakan toilet pria dan wanita”.

Lucu? mungkin iya bagi penonton. Tapi jika anda mengalaminya ini tentu bukanlah hal yang lucu. Saya belum pernah ke Beijing, namun di Kunming toilet tanpa petunjuk gambar dan hanya tulisan dalam aksara yang tak dipahami pernah membuat saya harus menanti “org keluar dari toilet” untuk memastikan mana pria dan wanita. Sederhana tapi buat saya bagian ini justru menarik karena film ini menampilkan kejadian sehari-hari yang jadi kendala dalam memahami budaya asing yang punya bahasa dan aksara berbeda.

Dan perkenalan kita pada negeri tirai bambu ini tak berhenti sampai disitu. Ada festival yang sempat disebut “China Valentine Day” dan sebuah “shadow puppet performance” yang menampilkan kisah cinta dalam salah satu legenda di China. Dan cerita ini agak saya curigai merupakan representasi dari starlore di China, khususnya tentang alur sungai di langit yang jadi penggambaran Milky Way.

Perbedaan budaya yang menghalangi “persahabatan antara Dre dan Mei Ying” juga coba ditampilkan. Perbedaan yang sesungguhnya masih terjadi di tengah masyarakat multikultural. Tak butuh penjelasan memang dan tak butuh diberi penyelesaian. Karena sesungguhnya gambaran itu sudah cukup untuk membuat manusia berpikir mengapa di tengah dunia modern yang dipenuhi masyarakat beragam budaya, masih saja ada perbedaan dalam menjalin hubungan antar manusia. Sesuatu yang tak perlu membuat kita mengarahkan pandangan ke negeri orang tapi pada negeri kita sendiri, saat perbedaan menjadi perdebatan panjang yang membawa manusia pada perpecahan. Adakah manusia yang 100% sama? Tak ada. Karena itu perbedaan adalah warna… yang menjadikan kehidupan sebuah harmoni yang utuh dan indah.

Well.. ok… dari segi cerita.. tentu kita tau Dre ini akan belajar kung fu. Sikap seenaknya sendiri dan kurang hormat pada yang lebih tua pun coba “dirombak” oleh sang guru. Dan buatku disinilah perjalanan sisi lain melihat keindahan daratan China dimulai.

Latihan demi latihan memang dilakukan di lingkungan rumah Mr. Han. Namun ada saat ketika Dre diajak untuk belajar chi alias tenaga dalam ke sebuah gunung di barat laut Provinsi Hubei, China.

Wudang Mountain dan kuil-kuil.

Perjalanan dengan kereta yang katanya si Mr Han tak mau mengendarai mobil sendiri sungguh dapat dipahami. Ini bukan sekedar “trauma” Mr. Han pada kecelakaan yang ia alami dan merenggut nyawa anak dan istrinya, namun kita sedang dibawa untuk menikmati hamparan penuh keindahan alam China dari balik jendela transportasi massa di negeri tersebut. Simply stunning !

Latihan di The Great Wall. Kredit : live for films

Dan ketika perjalanan guru dan murid ini tiba di tempat tujuan..saya terpesona oleh keindahan gunung yang ada di layar lebar tersebut. Wu Tang Shan aka Wudang aka Wudang Mountain. Di masa lalu, Wudang dikenal memiliki kuil tao yang dijadikan sebagai pusat riset, pembelajaran, pelatihan dan meditasi seni bela diri China, obat-obat tradisional, pertanian ala Tao dan berbagai seni yang terkait.

Ikon kuil China langsung tampak dan semakin terasa indah dan mengagumkan seiring perjalanan Dre dan Mr Han menuju puncak. Pertemuan dengan para biksu yang sedang berlatih kung fu dalam gerakan-gerakan yang lembut nan mematikan dan bermeditasi memusatkan konsetrasi untuk menyatu dalam alam gunung Wudang. I would love to say.. this place is incredible. Hanya dengan melihat adegan demi adegan di Wudang, saya seakan dibawa menikmati kesegaran alam di gunung tersebut yang mengalir lembut dalam ketenangan yang penuh kekuatan di antara meditasi para biksu.

Tak hanya itu.. pelatihan berikutnya pun membawa kita untuk menikmati megahnya The Great Wall yang dibangun sebagai tembok pertahanan China dari serangan musuh. Amazing dan membuat para penontonnya ingin berkunjung ke negeri tirai bambu tersebut.

Dan tak lama kemudian film pun berakhir dengan akhir yang sama dengan film sebelumnya. Dari segi cerita tak ada yang baru bahkan sudah bisa ditebak alurnya. Namun fim singkat ini justru menjadi kaya dalam kilasan potret kekayaan negeri tirai bambu dalam seni, budaya, bahasa, dan keindahan alam di tengah perjalanan mereka di dunia modern yang dilihat dari kacamata seorang anak bernama Dre.

Selamat menonton The Karate Kid 2010 ini.

Share this entry
2 Comments
  1. memang salah 1 kelebihan film2 Hollywood adalah mereka sangat fokus pd detail. membuat film2 tersebut memang benar spt apa adanya. 😀
    btw, menurutku film ini bagian komedi-nya dapet banget.
    kadang aku ngerasa kayak bener2 nonton film komedi.
    mungkin karena ada pengaruh Jacky Chan di dlm nya. 😛

    Reply
    • komedinya enak hehehe. lucu sih dan menghibur banget filmnya. dan aku selalu suka film yg bisa nunjukin detil.

      Reply

Leave a Reply

All the believers were one in heart and mind. No one claimed that any of their possessions was their own, but they shared everything they had.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: