Journal

-- the pilgrim journey --

Home / film / Murid, Cermin Hidup Sang Guru
Jun 20 2010

Murid, Cermin Hidup Sang Guru

Dalam salah satu kalimat di film Karate Kid, Mr. Han aka Jacky Chan pada saat menolong Dre dia sempat mengatakan “there are no bad students only bad teachers”.

foto : Allen Frear Elementary School website

Dalam bahasa yang tak jauh berbeda, salah satu peribahasa di Indonesia juga mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, yang artinya murid mencontoh apa yang dilakukan gurunya.

Sempat terpikir .. bener gak sih? Mungkinkah seorang murid yang jahat merupakan representasi dari guru yang jahat? Apakah tak mungkin jika sang guru sebenarnya baik dan si murid saja yang jahat? Atau si murid yang salah menginterpretasikan apa yang diajarkan sang guru?

Apakah kasus ini berlaku umum ataukah ada pengecualian? Sayangnya saya tak punya jawaban pastinya. Namun jika diperhatikan lebih jauh, kalimat peribahasa tersebut tak hanya berbicara tentang apa yang diajarkan atau dicontohkan sang guru.

Yang namanya proses belajar bukan hanya di dalam kelas ketika sang guru “memberi pelajaran” namun juga dalam proses hidup keseharian.  Apakah sang guru adalah seorang guru di sekolah, tetangga, atau artis ataukah seseorang yang dijadikan idola. Manusia jelas belajar dari orang-orang yang berinteraksi intens dengannya atau terinspirasi dari orang-orang tertentu yang ia idolakan.

Problemnya lagi apakah si murid ini memilih untuk jadi sama ataukah jadi berbeda dengan sang guru atau sang idola? Jelas ini masalah pilihan. Pilihan yang harus diambil setiap manusia.

Nah, balik lagi ke peribahasa tadi, dalam film Karate Kid jelas digambarkan bahwa para “murid jahat” ini bukan sekedar belajar dari “jurus-jurus” aka ilmu yang diajarkan gurunya tapi dari karakter sang guru. Mereka menanamkan prinsip yang sama dengan guru yang memberikan contoh pada mereka.

Dan.. demikianlah kehidupan manusia. Tak bisa dipungkiri juga guru itu bukan cuma satu. Dari TK – Perguruan Tinggi, kita akan bertemu dengan banyak guru yang juga punya karakter yang berbeda-beda, cara mengajar yang berbeda-beda. Namun tak bisa disangkal pula ada 1-2 guru yang tentunya menjadi semacam “panutan” atau yang berinteraksi demikian intensnya dengan si murid. Di titik ini sang murid tak hanya belajar ilmu dari gurunya namun juga belajar dari sikap hidup, dan karakter sang guru.

Dulu saat PA, biasanya ada “godaan” kalau anak PA akan mewarisi “sikap kakak PA-nya”. Awalnya saya berpikir masa sih? Namun tahun-tahun berjalan justru menunjukkan bahwa memang demikianlah adanya. Guru bukan hanya mentransfer ilmu namun juga karakternya pada sang murid. Hanya itu? Tidak juga.  Dalam beberapa kasus tertentu saya justru bertemu dengan orang-orang yang juga mewarisi pola pikir dan ambisi dari sang guru.

Bahkan bisa dikatakan murid adalah cerminan gurunya. Apakah guru itu adalah orang tuanya, gurunya di sekolah, dosennya di kampus ataukah pembimbingnya dalam hal kerohanian. Mungkin bisa jadi bukan sebuah cermin utuh karena setiap manusia itu tentunya punya karakter masing-masing nan unik. Namun gambaran besar itu akan tetap ada. Bagaimana kita bisa mengetahuinya? Simple! Lihatlah ke dalam diri kita sendiri dan lihatlah juga pada guru kita itu dan kita akan menemukan kemiripannya.

Dan pada akhirnya pertanyaan lanjutannya adalah siapakah guru kita itu? Yang jelas guru yang terdekat dengan kita adalah orang tua kita. Namun lanjutannya siapakah guru yang demikian menginspirasi diri kita untuk mengikutinya?  Apakah Pembimbing rohani ? Guru di sekolah ? Dosen di kampus ? Pendeta di gereja? Atasan di kantor ? ataukah Artis idola ?

Ketika pertanyaan ini ditanyakan, tentu hanya masing-masing diri kita yang mampu menjawabnya. Namun ketika seseorang menyebut dirinya murid Kristus. Adakah sikap, sifat, karakter, pola pikir dan tindakan kita mencerminkan karakter sang Guru? Ataukah kita hanya sekedar murid yang numpang lewat belajar ilmu?

Yesus dan para murid. Kredit : Painting of Jesus, Walter Rane 1949-

Cobalah kita menengok sejenak kehidupan para rasul di masa kehidupan Yesus. Kedua belas murid yang senantiasa bersama Yesus ini tak hanya diajarkan tentang iman, atau dogma agama. Mereka justru belajar langsung dari kehidupan gurunya. Mereka melihat bagaimana Yesus hidup dan bersikap pada orang lain. Bagaimana kasih itu mengalir dengan nyata dan bagaimana Ia memilih untuk berjalan dalam kebenaran yang Ia ajarkan pada mereka. Yesus bukanlah guru yang hanya mengatakan sesuatu tapi tak melakukannya. Yesus juga bukan guru yang melakukan sesuatu agar dipuji. Ia juga bukan guru yang khawatir wibawanya hilang hanya karena bergaul dengan orang-orang yang terpinggirkan. Ia juga tak kawatir orang tak lagi meghormatiNya ketika Ia menerima sekaan minyak narwastu dari perempuan itu, atau ketika Ia membuat merah muka orang-orang yang menyebut diri suci saat mengatakan “barangsiapa yang tidak berdosa lemparlah perempuan itu.”

Ia melakukan apa yang harus dilakukan. Ia bukan hanya berkata-kata tapi Ia mencerminkannya dalam perbuatan, sikap yang mengalir tulus dari hatiNya yang penuh kasih. Bagaimana dengan murid-muridNya di masa kini?

Adakah murid-muridNya mencerminkan Kristus dalam hidup? Akankah perempuan pelacur dan “pendosa” tak ditolak dari muka pintu gereja? Akankah pengemis yang compang camping dijamu bak raja dalam pesta? Ataukah tangan terulur ketika menemukan anak yang hampir mati kedinginan?

Apakah murid-muridNya ini tak lagi menuding ke muka para pendosa namun merangkulnya erat? Tak lagi jadi “orang suci” ? Dan sudahkah murid-murid Kristus masa kini tak lagi memikirkan jatuhnya wibawa atau hilangnya rasa hormat ornag lain ketika ia kedapatan sedang terbahak dengan “orang yang tak selevel”. Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang hanya bisa dijawab oleh murid-murid masa kini itu.

Sudahkah Yesus tercermin dalam hidup kita? Mungkin ini saatnya kita mulai pertanyaan itu dalam hidup kita. Dan jawabannya hanya kita yang tahu. Namun dalam setiap tindakan dan sikap kita sudah seharusnya kita mulai bertanya apa yang akan dilakukan Sang Guru ?

What would Jesus do ?
Teruslah bertanya dan bersikap seperti Yesus bersikap. Karena Firman Tuhan itu baru bisa hidup ketika murid-muridNya melakukan apa yang Ia lakukan.

Tanpa itu… Firman Tuhan tak kan pernah mengalir dan murid tak kan bisa disebut murid Kristus jika hidupnya tidak mencerminkan hidup Guru  yang agung, Yesus Kristus Tuhan.

Share this entry
2 Comments
  1. Vanda

    biar bagaimanapun pengalaman hidup adalah guru yg paling berharga. yang akhirnya kembali kepada pilihan di murid untuk menentukan jalannya

    Reply
  2. Pingback:Bagaimana Seharusnya Seorang Murid? | simplyvie

Leave a Reply

He humbled you, causing you to hunger and then feeding you with manna, which neither you nor your ancestors had known, to teach you that man does not live on bread alone but on every word that comes from the mouth of the Lord.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: