Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Astronomi, perlukah untuk dikenal?
Dec 13 2010

Astronomi, perlukah untuk dikenal?

Pernahkah ditanya apa yang menjadi cita-citamu? Setiap anak pasti pernah mengalaminya. Dan rasanya jawaban yang sering diberikan adalah ingin jadi presiden, dokter, tentara, insinyur atau astronot. Pertanyaan yang membawa seorang anak masuk dalam impian yang ingin ia raih.

astronomi di masa lalu. kredit : csa

Tapi di saat menginjak dewasa dan akan memasuki kuliah tentu sudah harus ada sebuah pilihan yang ditentukan. Belajar ilmu kedokteran, politik, teknik menjadi pilihan yang umum. Akan tetapi ketika seseorang memutuskan kuliah di astronomi, pertanyaan yang tidak kalah umum juga diajukan.

“Astronomi? Kuliah apa tuh? Belajarnya apa? Untuk apa kuliah di astronomi? Setelah lulus akan kerja dimana?”

Mungkin bagi para mahasiswa astronomi, jauh lebih mudah menjawab, “saya kuliah di ITB”, dibanding menjawab, “saya kuliah di astronomi.”

Pertanyaan seperti ini sering muncul karena ketidakmengertian masyarakat tentang ilmu itu sendiri. Seringkali pemahaman tentang apa itu astronomi justru melenceng jauh. Argumentasi yang sering diberikan adalah, “astronomi? itu yang belajar bintang-bintang ya? Oya jadi bisa meramal masa depan donk.”

Pemahaman bahwa astronomi sama dengan astrologi masih kuat melekat dalam benak sebagian masyarakat Indonesia. Akan tetapi pertanyaan terbanyak justru tentang apa hubungan astronomi dengan kehidupan manusia. Karena bagaimanapun mempelajari bintang-bintang di langit tentunya menjadi sebuah pelajaran yang abstrak dan mungkin terlalu mengawang-awang.

Tapi tahukah kamu, astronomi itu sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari? Di zaman ini mungkin manusia sudah tidak lagi menyadarinya. Namun pengetahuan yang ada saat ini justru berasal dari hasil pembelajaran panjang dari astronomi. Ups… maksutnya bagaimana yah?

Tahukah kamu perhitungan kalender itu merupakan hasil dari pengamatan gerak benda langit? Dalam hal ini tentunya gerak Matahari dan Bulan. Tahukah kamu kalau penentuan arah atau navigasi di masa lalu juga dilakukan dengan meggunakan rasi bintang sebagai petunjuk arah? Atau tahukah kamu kalau masyarakat agraris menggunakan benda langit sebagai penentu musim bercocok tanam? Dan yang sampai sekarang masih “terlihat” digunakan adalah pengamatan hilal untuk penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal yang merupakan bagian dari penentuan kalender Hijriah.

Di Indonesia, saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka gejala alam adalah cerminan lintasan waktu. Masyarakat di masa itu juga menentukan saat menanam dengan menggunakan bambu yang diisi air untuk mengukur ketinggian bintang. Pada posisi tertentu mereka akan bisa mengetahui apakah sudah saatnya memulai bercocok tanam atau belum.

Di Jawa, Bintang Salib Selatan (Crux) dikenal sebagai Lintang Pari dan juga Lintang Gubug Penceng. Rasi bintang ini sangat berguna bagi nelayan untuk menentukan arah Selatan jika berlayar di laut. Cerita lain juga datang dari Pleiades atau the seven sisters, di Jawa ketujuh bintang ini dikenal dengan nama rasi Lintang Kartika, dan diasosiasikan sebagai tujuh bidadari. Di wilayah Pantai Utara Jawa rasi ini digunakan untuk menandakan waktu (kalender) dalam penanggalan Jawa. Jika rasi ini sudah terbit sekitar 50° di langit, maka musim ketujuh (mangsa kapitu) pun dimulai. Pada musim ini, beras muda harus mulai ditanam di sawah.  Tak berhenti sampai disitu. Borobudur yang dibangun berabad-abad lampau juga memiliki keterkaitan dengan astronomi dalam hal ini dengan pergerakan matahari sepanjang tahun.

Masyarakat masa kini mungkin sudah tidak lagi mengenal itu semua karena kemudahan teknologi. Untuk menentukan arah tinggal aktifkan GPS. Tapi apakah ini berarti dasar-dasar pengetahuan harus ditinggalkan? Jawabannya tentu tidak. Teknologi tidak akan pernah bisa berkembang kalau manusia tidak pernah memahami dasar-dasar pengetahuan.

Tak hanya itu, keingintahuan manusia akan apa yang ada di luar Bumi, juga membawa manusia pada perkembangan teknologi yang luar biasa. Kalau dulu manusia hanya bisa bertanya-tanya ada apa di luar sana, sekarang perkembangan astronomi sudah membawa manusia pada penemuan planet baru, penjelajahan ruang angkasa dan pemahaman yang terus berkembang akan alam semesta.

Namun lagi-lagi, semua itu tidak akan bisa tercapai kalau tidak ada pemahaman dasar yang benar tentang astronomi. Fenomena yang muncul, selain kesadaran bahwa astronomi merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang masih kurang, informasi dan pengetahuan yang benar mengenai astronomi juga masih sangat kurang di dalam masyarakat. Ada banyak kesalahan informasi yang kemudian menimbulkan kepanikan, seperti hoax (berita yang salah atau tidak sepenuhnya benar) yang muncul setiap tahun bahwa Mars akan sebesar Bulan, atau miskonsepsi mengenai gerak Bumi dan Matahari.

Menyadari pentingnya informasi Astronomi yang benar di dalam masyarakat, dan harapan untuk memperkenalkan keindahan langit malam kepada masyarakat maka para pecinta langit baik astronom profesional maupun astronom amatir dengan giat melakukan perkenalan astronomi melalui berbagai kegiatan. Satu diantaranya adalah langitselatan, yang bergerak dalam hal media dan edukasi astronomi pada masyarakat.

Lantas apa pentingnya sehingga perlu membumikan astronomi dan mengajak masyarakat mengenal astronomi?

Manusia hidup di Bumi. Pemberi energi kita adalah Matahari. Tahukah kamu Matahari adalah bintang terdekat dari Bumi? Faktanya manusia hidup dalam sebuah realita di tengah alam semesta yang maha luas. Dengan memahami alam semesta, manusia bisa mengerti kapan semua ini dimulai, bagaimana alam semesta berevolusi, apa yang sedang terjadi dan bagaimana nasibnya kelak.

Dalam skala yang lebih kecil, manusia bisa memahami bagaimana Bumi dan Matahari terbentuk, berevolusi, berinteraksi dan bahkan bisa memperkirakan seperti apakah kelak Bumi kita kala Matahari memasuki usia senja.

Tapi mengapa kesadaran akan astronomi perlu diberikan pada masyarakat? Jawabnya sederhana. Mempelajari astronomi tidak berarti hanya belajar satu bidang ilmu. Pemahaman yang menyeluruh membutuhkan pemahaman sains secara keseluruhan. Dengan demikian kepedulian akan pentingnya sains dan pendidikan bisa ditanamkan. Masyarakat tidak hanya diajak untuk tahu tapi juga untuk menggali sendiri dengan membangun keingintahuan yang lebih dalam akan sains.

Dan pemahaman akan sains akan membawa manusia untuk melangkah maju dan membuat perubahan ke arah yang lebih baik bagi kehidupan.

_____

edited version has been published in Radar Newspaper, Banten.

Share this entry
3 Comments
  1. Libert

    Vie, boleh ga ijin share artikel ini buat para siswa gw? Trims. 🙂
    Mau gw print dan taruh di bulletin board 😀

    Reply
  2. mungkin bisa diawali dengan mengenalkan astronomi dengan cara yang sederhana terhadap kehidupan sehari2, misalnya bagaimana membaca arah bintang untuk mengetahui arah mata angin jika tersesat di hutan atau laut.

    Reply

Leave a Reply

To do what is right and just is more acceptable to the Lord than sacrifice.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: