Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Fragmen di Persimpangan Jalan
Jan 14 2012

Fragmen di Persimpangan Jalan

Pelan gadis itu menyeruput minuman yang ada di hadapannya. Tempat itu masih saja sepi seperti hari-hari sebelumnya. Tapi akan segera ramai dalam beberapa jam lagi. Dari sudut yang sama, ia menghabiskan waktunya menantikan senja…

Ia selalu datang di waktu yang sama, menghabiskan hari dengan membaca buku-buku kesayangannya. Melahap kata demi kata tanpa lelah.

Lamat ia mulai mendengar percakapan di seklilingnya. Fragmen beragam kehidupan yang hadir di cafe tepi pantai itu. Tempat yang menyajikan indahnya senja bagi para pengembara yang sedang singgah. Seperti dirinya. Pengembara yang hendak mencari sebuah petualangan. Ataukah petualangan itupun hanya bayang semu sebuah pelarian? Pengecut! Kata itu tak pernah berhenti bergaung di sudut-sudut hati dan pikirannya. Hanya pengecut yang berbalik dan pergi…

Samar telinganya mulai mendengar percakapan dari meja di sampingnya. Dua pria dalam balutan seragam tengah berdiskusi. Sesuatu tentang pengadilan. “Ah… adakah keadilan”, batin gadis itu. Dan ia pun kembali asik menekuni kopi yang tersaji.

“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Frustasi! Apa kuracun saja dia supaya semua selesai dan proses ini bisa dilanjut di pengadilan?” suara seorang pria memecah hening. “Dia tak mau kuceraikan, padahal semua permintaannya sudah kukabulkan!”.

“Sabar… kita harus berpikir jernih. Bukti-bukti yang kau ajukan bisa menjadi landasan untuk kasus ini. Bos pasti merestui permintaanmu”, kata pria yang sedang asik dengan rokoknya.

“Hah! bagaimana ku bisa sabar! Aku difitnah masuk hotel dengan perempuan lain padahal dia yang pergi dengan laki-laki itu!.’ sambut temannya.

Dan… keduanya pun terdiam… keheningan kembali hadir di cafe itu..

Namun di sudut lain lamat terdengar isak tangis seorang perempuan, “Aku harus bagaimana? Aku tak bisa memenuhi harapan mereka. aku memang anak tak berguna seperti kata mereka. Papa meninggal karena aku seperti kata mereka. Aku ingin mati.”

“Jangan dengarkan tuduhan mereka. Itu semua sudah garis hidup manusia. Itu misteri  ilahi.  Jangan kau biarkan gambar dirimu hancur oleh kata-kata mereka. Tuhan menyayangimu, Nak!” suara seorang wanita dewasa yang coba menenangkan gadis muda di hadapannya.

Dan perempuan itu masih terus terisak…

“Hubungan kalian terlarang. Kau tau itu ! Ini semua salah…,” lirih bisikan itu ia dengar dari meja di belakangnya. Sepasang kekasih sepertinya sedang menghadapi masalah mereka…”

Ah… fragmen ragam kehidupan.. menyajikan cerita dan masalah. Kadang tanpa penyelesaian….dan manusia, pemeran utama dalam setiap fragmen itu pun menikmati santapan di hadapan mereka. Mungkin dalam galau.. mungkin dalam gembira… dan seribu mungkin lainnya.

“Sa..,” suara itu mengagetkannya. Suara yang sangat ia kenal…suara dari masa lalu. Suara yang menjadikannya seorang pengembara…

Gadis itu tertegun .. tanpa tahu harus bersikap bagaimana. Dan orang dihadapannya itu pun duduk disitu. Diam memandangnya.  Mata itu… cerita itu masih ada di sana. Sebuah cerita yang ingin ia kubur di masa lalunya.

“Sa… aku mencarimu kemana-mana. Kenapa kau pergi tanpa kabar?”.

Hening! Dan sang gadis pun hanya berkata lirih, “Haruskah? Cerita kita sudah usai…”

Dan sama seperti dulu..seseorang dihadapannya itu meraih tangannya dan memintanya untuk kembali. Kembali? Ke mana? Ia bahkan tak tahu kemana ia harus kembali. Tiada lagi rumah baginya…

“aku ingin bersamamu”, lirih dia berkata..

“aku harus pergi”, kata sang gadis.

“aku akan ikut denganmu”, kata orang dihadapannya.

“Tidak! Jalan kita berbeda”, lembut kata-kata itu terucap

“Kita hanya berpapasan di persimpangan ini. Dan kau harus memilih jalanmu sendiri! Kalau kita pergi bersama… kau takkan pernah tau jalan untuk kembali. Dan aku pun tak pernah tau bagaimana untuk menghentikan perjalanan itu. Kita harus memilih jalan kita.. jalan yang akan membawa kita pada ujung yang sama. Kelak di ujung jalan kita akan bertemu… di sana ketika kita sudah menyelesaikan perlombaan kita masing-masing.”, kata-kata itu mengalir tanpa ia paham darimana datangnya.

“Mungkin suatu hari kita akan kembali berpapasan… tapi saat itu kita pasti sudah punya cerita lain yang bisa ceritakan. Pergilah…jalan dan cerita yang ingin kita tuliskan dalam hidup memang berbeda sejak mulanya…” kata sang gadis.

Orang itu hanya memandangnya.. dan pergi tanpa kata. Gadis itu hanya bisa memandangnya dalam diam.

Cerita tentang mereka memang telah usai. Cerita dari sisi kelam kehidupan masa lalunya.

Ia pun kemudian pergi memilih jalan lain meninggalkan cafe persinggahan itu menyusuri jalan kehidupan yang ia pilih.

Dia tak tahu akan kemana dan seperti apa fragmen hidupnya. Yang ia tahu cuma satu. Sang Pemilik Kehidupan akan selalu setia menjaga dan menopangnya dalam setiap langkah…

Dan sekali lagi senja menyambutnya.. penuh senyum menghantarkannya ke peraduan dalam janji yang ia pegang teguh kalau FirmanNya setia menerangi setiap langkahnya.

Share this entry

Leave a Reply

It was not by their sword that they won the land, nor did their arm bring them victory; it was your right hand, your arm, and the light of your face, for you loved them.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: