Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Keping Cerita di jalan itu…
Sep 4 2012

Keping Cerita di jalan itu…

Dalam diam perempuan itu menatap senja… menikmati sang surya yang perlahan kembali ke peraduannya. Menyembunyikan terang dibalik kelamnya malam. Menyisakan secercah cahaya yang hadir dari sang rembulan.

Malam..entah kenapa kegelapan malam selalu mengusiknya. Ingin dia berlari dari kegelapan tapi kegelapan seakan tak pernah melepaskannya. Semakin ingin ia berlari, semakin kuat ia tercengkram dalam kegelapan. Terbelenggu dalam kegelapan yang menyisakan rasa sakit.

Dalam diam ia menyisir pantai di hadapannya. Mencari cara untuk tetap bertahan melewati sang malam. Mencari sang penolong yang bisa memutus belenggu hidupnya. Mencari sang kekasih yang menariknya ke dalam pusaran kasih tak bersyarat. Tapi …. bertahun-tahun ia mengembara semua itu seperti janji semu yang tak pernah bisa ia raih.

Ia melihat. Ia mendengar kisah-kisah indah tentang pembebasan. Tapi itu cuma cerita untuk mereka yang lain. Bukan untuknya…. baginya semua itu cuma mimpi yang tak bertepi.

Di antara desiran angin.. sayup ia mendengar suara yang sama. suara rintihan.. tangisan dan tawa anak-anak manusia yang sedang melewati kegelapan malam. Tawa renyah dari balik dinding peraduan seakan sedang menunjukan khusyuk mesra sepasang anak manusia. Tapi … dia dalam kesendiriannya bisa mendengar sayup suara yang sama. Suara yang berulang – ulang terngiang di antara desiran angin. “Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalan perempuan itu, dan jangan menyesatkan dirimu di jalan-jalannya”.

Jalan manakah yang ia sebut… jalankukah? Entahlah.. perempuan itu hanya bisa menduga. Meski nuraninya berkata.. dialah perempuan itu.. perempuan yang jalannya menuju jurang maut. Kesanakah ia berjalan?

Pertanyaan itu tak pernah ia temukan jawabannya. Kemanapun ia bertanya hanya ada tudingan dan cemooh. Hari demi hari ia lalui hanya untuk bertahan untuk tidak masuk ke dalam lubang yang sama. Tapi hari demi hari ia mendapatkan dirinya sedang mencari bayang semu yang sama. Bayang semu yang menghempaskannya ke sisi jurang yang sama.

Bait masa lalunya telah membawanya ke jalan yang ia tempuh kini. Keindahan semu yang menghempaskannya berkali-kali. Jalan yang ia kenal hanyalah jalan yang ia susuri kini. Jalan berkerikil tajam yang memberinya kepuasan di antara rasa sakit. Yang ia tahu hanyalah menyusuri jalanan yang sama… bertemu dengan teruna yang memberinya kehangatan.

Dan hari itu… dunia menyeretnya di sepanjang jalan yang selalu ia tapaki. Tangan-tangan perkasa itu menghempasnya di antara kerumunan manusia. Mereka menudingnya … menyalahkannya dan .. menyebutnya sundal.

Diam… hanya itu yang bisa ia lakukan. ingin ia berteriak.. “aku sudah berusaha melepaskan belenggu ini… “. tapi dia memilih untuk diam dan menunduk… menerima semua cemooh dan tuduhan. Mungkin penyesahan adalah jalan terbaik baginya… mungkin itulah bayaran yang seharusnya ia terima.

Mereka menyeretnya menemui seseorang. Mungkin ia seorang hakim.. mungkin ia akan memberi hukuman yang adil untuknya. Ia tak tahu. Ingin ia berteriak.. menentang mereka yang menyeretnya tapi ia tak kuasa. Temannya hanyalah sang surya yang setiap hari datang dan pergi. Kegelapan hanyalah ruang yang membelenggunya dan menyeretnya masuk dalam pusaran maut.

Dalam diam ia mendengar mereka meminta orang yang disebut guru itu untuk memberinya hukuman. “Guru, perempuan sundal ini tertangkap basah membawa teruna-teruna muda dalam peraduannya… bukankah ia harus dirajam?”

Ia mengenal suara-suara yang memintanya dirajam. Bukankah itu suara yang sama yang ia dengar setiap malam? Bukankah mereka pun tak lebih baik dari dirinya? Tapi lagi-lagi ia cuma bisa diam terpekur menantikan penghakimannya.

Guru itu tak berkata apa-apa. Ia hanya menulis tanpa ada yang tahu apa yang ia tulis. Tapi ia kemudian berkata, “kalau ada di antara kamu yang tidak berdosa. Lemparlah perempuan itu dengan batu”.

Perempuan itu terdiam membisu. Tak salahkah pendengarannya…

Kerumunan itu hanya diam…. dan mereka pun menghilang di balik kegelapan malam. Dan sang guru pun bertanya. Di mana mereka? Tak adakah yang menghukummu dengan batu?”

Jawabnya, “Tidak ada, Tuan”.

Dan ia yang disebut guru itupun hanya berkata… “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.”

Perkataan itu seakan menikamnya tapi juga membebaskannya. Belenggu yang mengikatnya seakan terlepas.. hancur berkeping-keping.

Dan perempuan itu pun melangkah pergi meninggalkan jalanan yang memberikan kepahitan dan kenikmatan semu di sepanjang hidupnya. Ia masih tak tahu akan kemana tapi yang ia tahu… langkahnya kini tak lagi berat. Kini ia bisa menikmati indahnya senja tanpa takut akan gelapnya malam…

 

Share this entry

Leave a Reply

Surely the righteous will never be shaken; they will be remembered forever.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: