Journal

-- the pilgrim journey --

Home / traveling / The 28th IAU GA 2012
Sep 11 2012

The 28th IAU GA 2012

My first IAU GA ! and I was very excited!

IAU GA ini bisa dikatakan sama dengan pertemuan lainnya hanya saja disini astronom seluruh dunia dari berbagai bidang keahlian berkumpul dan berbagi pengetahuan dan hasil kerjanya. Ditambah juga ada pertemuan IAU (International Astronomical Union) aka organisasi buat astronom dunia yang akan berkongres (duh bahasa pasnya apa ya) untuk menentukan kebijakan astronomi di dunia dan apa yang akan dilakukan untuk lebih memperkenalkan astronomi. Ada juga perubahan-perubahan resolusi dan restrukturisasi organisasi.

Kalau di tingkat Asia Pasifik ada pertemuan regional yang namanya APRIM dan biasanya tiap bidang punya pertemuannya sendiri seperti bidang komunikasi astronomi ke masyarakat yang tiap 2 tahun mengadakan pertemuan.  Di IAU GA ini setiap bidang astronomi punya sesi pertemuannya masing-masing. Acara dilaksanakan selama 2 minggu dengan 8 simposium, 17 special session, 7 joint discussion, dan tentunya beberapa plenary session.  Peserta IAU GA 2012 sekitar 3000 peserta dan acaranya diadakan di China National Convention Center yang berada tak jauh dari Stadion Bird’s Nest (Sarang Burung).

Hari pertama IAU GA! Untuk ke CNCC kami harus berjalan kaki selama 15 menit dari hotel. Lurus kok tapi penuh tantangan karena perjalanannya melewati beberapa blok dan jalannya lebar. Menyebrang di China mirip Indonesia tidak bisa mengandalkan lampu lalu lintas ataupun trotoar. Tiba di CNCC kami harus melewati pemeriksaan keamanan dan langsung menuju ke bagian pendaftaran. Daftar ulang, mengambil goodie bag dan name tag peserta. Dan tak hanya itu, pihak panitia juga melakukan foto di tempat untuk dipasang di name tag diserta cap. Tujuannya untuk pemeriksaan saat mengikuti pembukaan yang dihadiri oleh Wakil Presiden China, Xi Jinping.

Dari Indonesia, yang hadir di IAU GA ada 5 orang. Saya, Janet (Peneliti di Obs. Bosscha), Dr. Suryadi Siregar, Dr. Chatief Kunjaya dan Dr. Taufiq Hidayat dari ITB.

Setelah pendaftaran saya pun akhirnya nyangkut di booth pameran Global Office of Astronomy for Development (OAD) yang kemudian menjadi meeting point hampir semua astronom komunikator di IAU GA.

Sebelum pembukaan, OAD melakukan penandatanganan perjanjian China sebagai regional node OAD untuk Asia Timur. Artinya China akan menjadi perwakilan OAD di Asia Timur dalam hal pengembangan astronomi.

pembukaan IAU GA

Pembukaan IAU GA di Beijing ini super meriah. Dihadiri oleh Xi Jinping, Wakil Presiden China, panitia juga menyuguhkan berbagai pentas seni seperti tabuhan drum, permainan musik, tarian dan aksi akrobat! Superb! Salah satu tarian yang menarik perhatian adalah tarian yang menggambarkan perkembangan astronomi di China. Dan bagaimana mereka mengubah payung menjadi teleskop radio. Dan yap. China sedang menunjukkan pada dunia kalau mereka serius untuk maju. Bahwa sains dan teknologi itu penting. Bahwa astronomi adalah pintu untuk sains dan teknologi yang juga dikombinasikan dengan budaya.

Kalau ditilik, dalam 100 tahun sudah demikian banyak kemajuan apalagi dalam 100 tahun ke depan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Kalau 100 tahun lalu orang masih berandai-andai ada planet lain di bintang selain Matahari, maka dalam rentang hampir 2 dekade penemuan planet-planet tersebut sudah menjadi kenyataan. Dan mungkin dalam 100 tahun ke depan manusia bisa menemukan planet Bumi lainnya di luar sana. Planet yang juga mampu mendukung kehidupan.

Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan General Assembly. Sayang sekali national representative Indonesia tidak hadir.  Setelah GA dan kuliah umum sore, acara dilanjutkan dengan welcoming reception.

menu di welcoming party

Makanannya? Isinya ga jauh-jauh dari pork & wine. Tapi berada di antara 3000 peserta, makanan seenak apapun tetap saja males ngantri. Tapi ternyata effort ngantri itu gak sia-sia. Enaknyaaaa 😀

Hari-hari selanjutnya di minggu pertama kebanyakan saya isi dengan berbincang-bincang dengan rekan-rekan yang bergelut dalam komunikasi astronomi dan public outreach. Saya juga melakukan wawancara dengan beberapa rekan penggiat astronomi. Plus istirahat di hotel setelah makan siang karena kondisi tubuh yang agak demam.

Minggu pertama IAU GA diisi oleh simposium astronomi di berbagai bidang. Menarik tapi saya sendiri sudah tidak mengikutinya lagi. Lebih karena kondisi badan yang agak tidak stabil dan lebih memilih fokus dengan komunikasi astronomi.  Satu hal yang sangat tampak di IAU GA 2012, sangat banyak peserta non anggota IAU yang hadir dan kebanyakan adalah astronom muda. Mengapa demikian? Karena pada merekalah estafet pembangunan astronomi selanjutnya akan diberikan. Mereka yang akan jadi pilar penggerak astronomi di masa depan. Dan salah satu acara yang dikhususkan untuk astronom muda adalah Lunch – Debate Young Astronomer disertai kesempatan untuk konsultasi dengan para astronom senior. Di dalam makan siang ini dibahas berbagai aspek astronomi dan pekerjaannya.

Selain keberadaan astronom muda, hal lain yang menarik perhatian saya adalah perhatian IAU untuk memperkenalkan astronomi kepada masyarakat. Setelah sukses dengan IYA, kelanjutannya IAU membentuk OAD yang berkedudukan di Afrika Selatan dan juga OPO (Office for Public Outreach) di Jepang. Tujuannya tak lain untuk menetapkan langkah-langkah strategis dalam memperkenalkan astronomi ke masyarakat dunia serta bagaimana membangun kerjasama dengan pihak pemerintah. Karena itu jugalah OAD mencari negara-negara yang bersedia untuk menjadi Regional node. Untuk Asia Timur ada China. Nah untuk Asia Tenggara, ternyata yang mengajukan diri adalah NARIT, Thailand. Maka pada tanggal 27 Agustus 2012, Thaland secara resmi menandatangani perjanjian menjadi regional node OAD di Asia Tenggara.

Keberadaan regional node ini penting karena perkembangan regional akan jadi tanggung jawab regional node dan negara-negara yang astronominya sudah baik di area tersebut. Pengembangan astronomi oleh regional node penting karena mereka lebih mengenal kebutuhan areanya sekaligus mengenal budaya negara-negara di wilayahnya.

Minggu kedua IAU GA yang dimulai dengan penandatanganan regional node Asia Tenggara sekaligus menandai dimulainya sesi khusus 11 : Office of Astronomy for Development.

Penandatangan NARIT, Thailand sebagai regional node OAD di Asia Tenggara

Sayangnya pada saat Thailand menandatangani MOU jadi regional node, yang menghadiri momen tersebut hanya astronom muda dari Indonesia, Filipina dan Srilanka. Selintas terpikir, mengapa bukan Indonesia yang menjadi regional node? Secara astronomi kita lebih baik. Tapi mungkin secara kemauan dan keuangan kita masih di bawah Thailand? Apalagi astronomi di Thailand sangat didukung rajanya. Kita?  DPR-nya sibuk gitu buat jalan-jalan demi ganti logo yang gak penting. Yup. Skala prioritas Indonesia masih belum masuk pada wilayah sains dan teknologi. Pemerintah kita belum melihat astronomi sebagai entry point budaya, sains dan teknologi. Sains bagi pemerintah kita masih sebatas kebanggaan memenangkan sebuah lomba atau bisa merakit sesuatu. Sains dianggap ketika bisa memberikan presitise bagi sekolah dan negara. Sains tidak dilihat sebagai ilmu dasar yang bisa menjawab masalah bangsa.

Jangan salah. Perkembangan pesat teknologi masa kini tak lepas dari teknologi yang dikembangkan untuk misi luar angkasa. Tapi kalau kita bicara Indonesia… well kemampuan kita masih sebatas gonta ganti logo dan urusan politik.

But who knows.. it just a random thought.

Di hari pertama ke-3 task force OAD menyampaikan perkembangannya dan implementasinya di berbagai negara. Hari itu saya juga deg-degan karena untuk pertama kalinya saya akan menyampaikan presentasi saya di GA. Akhirnya saat berbicara pun tiba. Tidak mungkin mundur kan? Maka saya pun menceritakan perkembangan astronom amatir di Indonesia dan sebarannya di bumi pertiwi.

Berbagai project di paparkan dan perkembangan dari berbagai negara juga diceritakan. Project pembangunan fasilitas instrumentasi dilakukan di beberapa negara. Ada SKA (Square Kilometer Array) di Australia dan Afrika Selatan, EELT (the European Extremely Large Telescope) milik ESO, TMT (Thirty Meter Telescope) yang akan dibangun di Mauna Kea, Hawaii. Ada yang menarik. Semua pembangunan instrumentasi masa kini seringkali tidak lagi menyertakan satu negara tunggal melainkan konsorsium beberapa negara. Selain karena masalah pendanaan, konsorsium juga berguna untuk saling menunjang satu sama lainnya. Ada negara yang kuat di dana, ada yang bisa menyediakan lokasi, ada yang bisa memberikan sumber daya manusia. Jadi konsorsium tidak melulu karena uang.  Indonesia sendiri saat ini sedang mengarah pada pembangunan Observatorium Multiwavelength yang diperkirakan akan dibangun di Nusa Tenggara.

Di dalam IAU GA 2012, peserta dari Korea Utara juga turut hadir dan memaparkan perkembangan pekerjaan mereka di Observatorium Pyongyang dan bagaimana mereka sedang berusaha membangun kerjasama dengan China dan perjalanan untuk menghasilkan astronom-astronom profesional di Korea Utara. Selain itu ada juga cerita perkembangan astronomi dari Serbia, Armenia, Mozambique, juga Filipina. OAD memiliki 3 task force yang akan bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembangunan astronomi di segala aspek.

Selain OAD, mulai tgl 29 -31 Agustu 2012 sesi khusus Communicating Astronomy with The public for Scientist dilaksanakan. Tujuannya selain berbagi cerita tentang kegiatan komunikasi astronomi di berbagai negara juga memberikan “tutorial” bagaimana melakukan komunikasi astronomi dan bagaimana menyiapkan materi untuk berbagi astronomi ke masyarakat. Selain itu ada juga pengenalan berbagai medium untuk melakukan komunikasi astronomi salah satunya adalah clubbing di planetarium untuk mengajak anak muda mengenal astronomi. Penggunaan new media dan jejaring sosial juga masih menjadi topik hangat. Untuk yang satu ini saya memberikan presentasi tentang jejaring sosial untuk astronomi di Indonesia.  Selain ke-2 sesi tersebut saya juga ikut dalam business meeting komisi 46 terkait edukasi astronomi dan pertemuan makan siang komisi 55 terkait komunikasi astronomi.  Berbagai rencana masa depan untuk memperkenalkan astronomi kepada masyarakat lewat edukasi publik di paparkan dan restrukrisasi juga dilakukan meski ya ada juga yang sedikit keberatan.

Pertemuan makan siang dengan LKBF. Kredit: Janette Suherli

Selain pertemuan resmi, ada juga pertemuan makan siang para peserta Indonesia bersama LKBF yang merupakan penyandang dana yang membantu sebagian besar peserta untuk menghadiri konferensi dan kemajuan astronomi di Indonesia. Pertemuan dengan Karel van der Hucth, Lex Kaper dan Thijs Kouwenhoven memberi khazanah baru akan kerjasama astronomi di masa depan, meskipun kita sepertinya agak tergagap untuk bercerita kemana astronomi di Indonesia akan melangkah di masa depan. Program riset yang berlanjut di Observatorium Bosscha, Pengembangan teleskop radio dan rencana pembangunan observatoium baru jadi wacana utama. Dan lagi-lagi pertanyaan menarik akankah Indonesia mampu berjalan sendiri ataukah akan ada konsorsium? Sempat juga dipertanyakan mengapa Indonesia tidak ambil bagian dalam SKA ketika SKA dimulai.  Mungkin disinilah seharusnya peran SEAAN untuk membangun konsorsium di negara-negara asia tenggara. Pertanyaannya apakah kita mau melangkah sebagai satu bangsa ataukah melangkah sebagai individu dan institusi? Apakah kita mau melepaskan cerita masa lalu dimana Indonesia adalah satu-satunya pemilik astronomi di Asia Tenggara dan mulai bekerjasama sebagai sebuah negara bukan individu dan kelompok dengan Thailand, FIlipina, Malaysia, Vietnam, Laos dll dan melihat mereka sebagai kolega yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi?

Tanggal 30 Agustus 2012 akhirnya IAU GA secara resmi ditutup meski sesi ilmiahnya masih akan berlangsung tanggal 31 Agustus. Penutupan nan megah yang diawali dengan General Assembly. Ada beberapa resolusi yang dihasilkan serta serah terima tampuk presiden IAU yang sebelumnya yakni Robert Williams ke Norio Kaifu untuk masa jabatan 2012-2015. Selain itu restrukturisasi divisi juga dilakukan dan untuk divisi C : Education, Outreach and Heritage wakil presiden divisinya dijabat oleh Pak Hakim Malasan.

Dua minggu yang melelahkan tapi sangat menyenangkan. Bertemu rekan-rekan berbagai negara, berbagi cerita dan belajar banyak hal. Selain itu, IAU GA juga membawa saya mengenal IAU dan cara kerjanya plus ikut bergabung untuk kemajuan astronomi di masa depan.

Pertemuan berakhir.. dan saya pun bersiap kembali ke Indonesia. Pengalaman dan petualangan yang luar biasa yang memberi banyak pelajaran berharga terutama tentang pentingnya kerjasama dan bekerja sebagai satu tim bukannya bergerombol dan kemudian melangkah sendiri-sendiri.

with friends in IAU GA.

Di dalam setiap pertemuan pula saya kembali dipertemukan dengan teman lama dan juga kenalan baru.

Sampai bertemu lagi di IAU GA 2015 di Honolulu, Hawaii

Share this entry
2 Comments
  1. Pingback:IAU GA 2012, Pertemuan Astronom Sedunia | langitselatan

  2. Pingback:Jalan - Jalan di Beijing | simplyvie

Leave a Reply

For you know that it was not with perishable things such as silver or gold that you were redeemed from the empty way of life handed down to you from your ancestors, but with the precious blood of Christ, a lamb without blemish or defect.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: