Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Dinamika Hidup Dengan Kartu
Feb 28 2013

Dinamika Hidup Dengan Kartu

Setiap benda selalu punya dua sisi mata uang. Sisi baik dan bermanfaat maupun sisi buruk yang memberi pengaruh buruk dan tidak memberi manfaat bahkan cenderung merugikan. Dan kedua sisi itu akan selalu dipertentangkan perlu tidaknya sampai kapanpun.

ccDulu ketika kartu kredit diperkenalkan, masyarakat langsung memberi cap buruk dimana kartu kredit dianggap sebagai alat yang digunakan untuk berutang dan akan membangun budaya konsumtif bagi masyarakat. Hal yang sama mungkin juga sempat terjadi dengan kartu ATM yang bisa berfungsi sebagai kartu debet di kemudian hari yang dianggap akan membuat masyarakat membelanjakan uangnya tanpa memperhitungkan kemampuan. Apapun itu, keduanya punya dua sisi baik dan buruk dan semua itu kembali lagi ke penggunanya.

Dengan dunia yang semakin tanpa batas, keberadaan kartu kredit maupun debet sebagai alat pembayaran justru membantu penggunanya dalam bertransaksi. Urusan negatif, dan budaya konsumtif itu sih kembali pada setiap pribadi yang menggunakannya. Apakah dia mampu mengendalikan diri atau tidak. Tapi dunia maya memungkinkan kita berbelanja dimanapun kapanpun tanpa meninggalkan rumah. Dan perjalanan ke berbagai area terasa lebih santai tanpa harus membawa-bawa segepok uang.

Tapi yang namanya kriminalitas bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Cerita yang akan saya paparkan adalah kisah saya yang masih belum usai terkait penipuan dan pencurian yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab.

Dalam setahun ada dua kejadian menimpa saya. Yang pertama adalah usaha penipuan di bilik ATM dan yang kedua adalah pembobolan kartu kredit.

Sindikat di ATM
Kejadian pertama terjadi Mei 2012 saat saya akan mengambil uang di bilik ATM di sebuah swalayan milik salah satu Bank. Modusnya?

Ketika saya tiba ada seorang Bapak sebut saja Bapak A yang mendahului masuk ke ATM. Ya sudah saya tunggu. Tak lama ia pun keluar dan saya masuk. Pada saat masuk ada segepok uang yang tertinggal. Dan saya tanpa berpikir apapun ya manggil itu Bapak A kalau uangnya ketinggalan. Si Bapak A ini kembali untuk ngambil duitnya.  Uang dia ambil dan dia keluar dari ATM. Ternyata itu cuma modus.

Pada saat ia datang mengambil uang, saya memang sedang akan melakukan transaksi dan mengalami sedikit masalah saat memasukan kartu ATM. karena kartunya seperti tersangkut sesuatu. Pada saat itu saya sudah akan membatalkan transaksi ketika tiba-tiba si Bapak A tadi buka pintu ATM setelah tadi ngambil duit dan pergi. Dia tiba-tiba menerobos masuk dan mengatakan,  “ATMnya ga rusak kok. Tadi buktinya saya bisa transaksi”. Dan dia mendorong tangan saya untuk memasukkan kartu. Saya berusaha bertahan ga masukin kartu tapi karena tenaga tuh Bapak A kuat akhirnya kartu ATM saya pun masuk ke mesin dan sebelum pergi dia mengatakan, “silahkan transaksi mbak udah bisa. mesinnya ga rusak”.

Saya yang dasarnya sudah curiga memang mencoba memilih bahasa dan kemudian membatalkan transaksi. Saat dibatalkan kartu saya tidak keluar alias tertahan di dalam. Asumsi tertahan kalau memang ada yang ganjel atau tertelan which is ga mungkin. Maka kepanikan mulai melanda dan refleks saya menelpon call center Bank. Tapi, saya memutuskan tidak keluar dari ATM karena menurut saya kartu itu masih tertahan atau tertelan masuk mesin jadi saya harus memastikan kalau kartu saya diblokir Bank sebelum meninggalkan mesin ATM.  Di luar ATM ada seorang Bapak (beda lagi.. kita sebut Bapak B) yang sedang antri, maka saya beri kode dengan tangan kalau mesinnya “rusak” sambil saya berusaha menelpon call center yang tak kunjung tersambung.

Tapi hari itu banyak bener Bapak-Bapak hobi nimbrung urusan orang. Si Bapak B pun masuk ke bilik ATM dan nanya kenapa mbak? Saya jawab ATM ketelen dan ATMnya rusak ga bisa dipakai. Dan dia pun menjawab, “telpon ke call center Bank mbak di nomer ini”  sambil menunjukkan nomer telpon yang terpasang di mesin ATM. Tak lama dia menyodorkan HPnya, ‘telpon pakai HP saya aja mbak. Ini sudah saya sambungkan. Dan  benar saja di telpon terdengar suara seorang perempuan yang menyapa. “selamat siang. Saya…. dengan Bank X”. 

Tawaran kembali saya tolak dan saya katakan saya bisa telpon dengan HP sendiri. Si Bapak B menjawab, “tapi kan ini udah tersambung”. Akhirnya ada perdebatan pendek berakhir dengan saya membentak si Bapak B ini saya suruh keluar.

Saya langsung siaga saat mengetahui telpon dari si Bapak B sudah tersambung dengan Customer Service di call center Bank. Saya sering melakukan telpon ke call center untuk berbagai keperluan yang berbeda sehingga saya tahu persis untuk bisa berbicara dengan Customer Service, butuh beberapa waktu dan melewati serangkaian pertanyaan mesin yang harus dipilih. Jadi… justru kalau bisa tersambung dengan segera itu tandanya dia memang penipu!

Akhirnya saya pun melanjutkan menelpon Bank dan meminta mereka memblokir kartu atm saya. Yah karena parno, saya menelpon sampai 3-4 kali  sebelum keluar dari bilik ATM tersebut. Saya baru keluar dari bilik ATM dan menelpon keluarga serta lapor satpam setempat setelah memastikan kartu diblokir. Sebelum pemblokiran kartu jangan pernah tinggalkan bilik ATM.

Setelah berbicara dengan satpam mall yang menyatakan kalau ATM itu adalah tanggung jawab Bank area bukan cabang yang ada dekat situ maka artinya saya tidak bisa minta mereka balikin kartu ATM saya. Pada saat ngobrol ada seseorang yang tiba-tiba keluar dari bilik ATM dan mengatakan atmnya rusak. Waktu kami suruh dia telpon ke call center Bank dengan Hpnya dia menolak katanya ga usah. Dia pun menelpon seseorang sambil mengatakan, “atm rusak ga bisa ambil kartu” atau apa saya ga jelas dan dia pun langsung lari. Satpam kemudian mencurigai kalau mereka semua sindikat tapi ya gimanaaa… orangnya dah kabur. Tapi kabur aja gih bawa atmnya. udah diblokir juga.

Jadi ya sudah saya pun ke cabang di deket situ untuk nanya Bank mana aja yang buka sabtu supaya bikin ATM baru. ternyata setelah ngobrol ama Stapam Bank Cabang dan dihubungkan ke petugas di Bandung juga, banknya tutup jam 3 dan saya ga bisa ke bank tersebut karena kesorean.

Jadilah baru seminggu setelah saya kembali dari Ambon urusan pergantian beres.

Kartu Kredit
ProcessorKejadian kedua baru saja terjadi di bulan Januari lalu. Kartu Kredit bagi saya adalah alat pembayaran yang sangat memudahkan baik untuk transaksi di dalam negeri, di internet maupun di luar negeri ketika saya sedang melakukan perjalanan.

Tapi ternyata tgl 31 Januari menjelang pagi, sebuah telpon mengagetkan saya. Telpon itu dari Bank penerbit kartu kredit yang menanyakan transaksi saya. Seperti bank pada umumnya, maka setiap transaksi di kartu kredit pasti mereka konfirmasi. Tapi ini memang agak tidak biasa… masih pagi. Biasanya sih sore sebelum jam kantor berakhir.

Pertanyannya seperti biasa menanyakan nama dan transaksi. Si mbak di ujung yang lain itu bertanya apakah saya melakukan transaksi sehari sebelumnya. Saya jawab ini yang mana ya? yang jumlahnya 100 euro untuk registrasi universitas itukah? Dan dia jawab, bukan. Apakah mbak melakukan transaksi dari jam 12 malam sampai jam 2 pagi di salah satu social media? Waks saya langsung kaget dan terjaga. Saya jawab saja, apa mbak? Saya tidur dan saya tidak melakukan transaksi di social media tersebut.

Setelah mendapat jawaban itu, si mbak pun menyampaikan informasi bahwa dalam 2 jam ada 8 transaksi berulang di social media untuk membeli credit dan dikenali sebagai high risk transaction. Maka si mbak pun mulai bertanya tentang beberapa transaksi sebelum di social media itu dan saya benarkan itu transaksi saya. Maka ia pun mulai mengintrogasi saya. Salah satu pertanyaannya, apakah saya pernah melakukan transaksi di social media tersebut dan saya jawab tidak pernah dan tidak pernah juga memasukkan informasi kartu kredit di situs tersebut. Apakah kartu saya digunakan orang lain? Apakah ada keluarga yang tau nomer cvv kartu kredit saya? apakah saya pernah memberikan kartu kredit saya untuk dipegang keluarga atau teman? apakah saya sharing kartu dengan keluarga? apakah ini mungkin transaksi yang dilakukan keluarga atau teman yang tau cvv kartu saya.

Saya pun menjawab tidak. Sama seperti password, nomer CVV saya adalah rahasia. Selain itu kartu kredit tidak pernah saya pinjamkan ke keluarga atau teman. Kalaupun ada yang menggunakan maka sayalah yang akan melakukan transaksi tersebut. Dan di keluarga hal yang sama juga berlaku. Kalau butuh minjem kartu maka si empunya kartu yang akan bertransaksi. Maka setelah dipastikan bahwa itu bukan saya, Bank langsung melakukan pemblokiran dan pergantian kartu. Setelah itu mereka mempersiapkan surat sanggahan yang dikirimkan ke email saya untuk ditanda tangani dan diserahkan kembali ke Bank untuk masuk proses investigasi. Proses ini akan memakan waktu 100-180 hari. Masalahnya transaksi yang terjadi itu akan masuk ke dalam tagihan kita dan harus dibayar. Kalau tidak yah akan dikenai bunga. Menurut Bank kita harus membayar tagihan itu atau bayar minimum payment-nya dan akan dikembalikan jika proses penyelidikan selesai.

Setelah selesai ditelpon, saya pun mulai panik. kok bisa? Total tagihan dari 8 transaksi itu setelah saya terima surat sanggahan adalah 10.500.000,-. Glek! Saya sih ga mau bayarin buat kesenangan pencuri!

Karena masih ragu dan butuh kejelasan, hari itu juga saya ke kantor yang mengurus kartu kredit dan ternyata mereka juga ga membantu banyak. Singkat cerita saya hampir setiap minggu menelpon pihak Bank menanyakan perkembangan kasusnya dan dijawab dengan jawaban super standar. “Sedang dalam penyelidikan.”

Pertengahan Februari 2013, saya menerima tagihan untuk bulan Januari. Dan disana seperti yang saya duga tertera transaksi fraud di salah satu social media. Tadinya sih saya ingin no name saja social medianya. Tapi dari sini saya akan sebut nama social media-nya karena si social media ini punya pengawasan sendiri untuk penyalahgunaan kartu kredit yang akan sangat membantu anda sebagai pengguna.

Transaksi tersebut dilakukan untuk membeli facebook credit dan di tagihan tertera nama merchant: Facebook.com*xxxxxxxxxx disertai alamat web fb.me/cc

Karena penasaran dan ingin tahu saya pun mengakses web tersebut yang mengarahkan saya ke bagian “pemahaman penggunaan kartu kredit anda”. Di poin nomer 3 tertera I don’t recognize a charge on my credit card statement, but it says it’s from Facebook.  Dan dari poin tersebut diarahkan ke halaman Security Check.

Di halaman security check saya bisa melihat bagaimana kartu kredit saya digunakan dengan memasukkan kode keamanan 9 angka yang muncul setelah facebook.com* di tagihan.  Setelah mengikuti petunjuk yang ada ternyataaaaa itu pembobolan kartu kredit digunakan untuk membeli Facebook credit untuk permainan Poker! Siall.. kalau mau main game belajar jadi ahli bukan jadi pencuri!

disputeDan pada halaman tersebut juga terdapat taut untuk melakukan penyanggahan. Saya pun melakukan penyanggahan ke Facebook. Saat melakukan itu saya hanya ingin memberi tahu dan tidak berharap banyak akan mendapat balasan. ternyata sekitar 6-7 jam kemudian datang balasan dari Facebook yang menyatakan transaksi tersebut memang Fraud dan mereka sudah melakukan refund atas kerugian yang ditimbulkan. refund baru akan saya terima dalam 3 -5 hari kerja. Sekarang sih saya masih belum terima karena email itu saya terima kurang dari 1 minggu.

Dari 8 transaksi hanya 1 transaksi yang masuk tagihan. Nah ini juga jadi pertanyaan maka saya pun mengontak call center Bank. Kalau memang mau nagih sekalian 8 transaksi supaya bisa saya selesaikan dengan Facebook. Eh.. itu petugas call center menyatakan kalau yang 7 dipending dan akan ditagih kemudian. Bagaimana cerita tagihan bulan Januari pada jam yang sama dengan transaksi pertama baru ditagih kemudian? Dan si petugas ketika saya jelaskan tentang Facebook malah menjawab dengan jawaban standar berikutnya, “biarkan kami bekerja ibu ga usah campur.” Karena kesal ya saya jawab: Anda butuh 180 hari untuk menyelesaikan? Saya minta ip address yang melakukan transaksi ga dikasih. terus saya ga boleh kontak Facebook. jadi anda maunya saya diam dan menunggu? Anda butuh 100-180 hari untuk penyelidikan saya cuma butuh 6 jam!  Sementara tagihan jalan terus dan kalau tidak dibayarkan saya yang kena bunga-nya bukan Bank! Jawabnya: iya itu memang aturannya! Saya jawab saja: Mbak.. yang harus bayar saya kalau mbak mau bayarin 10.500.000 untuk tagihan itu saya akan senang banget! Di seberang dia juga ga minta maaf dan cuma diem.

Akhirnya hari itu saya pergi ke Bank cabang tempat saya membuka rekening untuk mengurus penghentian fasilitas Bank yang saya dapat selama ini. Disana saya sempat “curhat” tentang kasus Kartu Kredit. Sebelumnya saya memang ga ke bank cabang karena setahu saya mereka hanya mengurus perbankan bukan kartu kredit. Eh.. si mas yang nerima justru lapor ke atasannya dan mereka minta maaf atas kejadian yang menimpa saya dan merasa harus ikut bertanggung jawab. Maka mereka pun menyambungkan saya ke Jakarta dengan bagian kartu kredit entah yang mana lagi untuk menanyakan nasib 7 transaksi lainnya. Dari jawaban yang saya dapat mereka menyatakan kalau proses sanggahan yang berlangsung hanya untuk yang ditagih yakni transaksi pertama saja. Sementara 7 transaksi lainnya memang tidak ditagih lagi.  Well.. sampai sekarang pun sebenarnya saya masih tidak jelas. Tapi pihak Facebook yang saya kontak menyatakan siap membantu jika saya masih bermasalah.

Apapun ini pengalaman yang pada akhirnya memberikan saya pelajaran berharga. Pelajaran untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan setiap detil yang ada. Jangan menyerahkan semuanya begitu saja pada Bank. Jika memungkinkan untuk menyelidiki dan menyelesaikan sendiri, lakukanlah! Kita juga harus proaktif. Jangan cuma marah-marah saja tapi ya do something!. Mungkin dalam kasus kartu kredit sistem pengamanan kartu kurang tapi bisa juga itu karena kecerobohan kita saat melakukan transaksi. Untuk saat ini, Bank juga melakukan pengamanan sebaik mungkin salah satunya dengan mengirimkan security number untuk memverifikasi transaksi ke nomer mobile phone anda!

Dan meskipun panik usahakan untuk tetap berpikir dengan logis dan tidak mengikuti emosi. Halah kayak saya bisa aja… :D Kasus ini belum selesai dan kadang saya juga masih ragu dengan Bank dan sering berpikir “the worst case harus membayar semua tagihan itu (duitnya dari manaaaa…)“.  Tapi ya mau tidak mau suka tidak suka, masalah ini sudah terjadi dan harus dihadapi. Saya bersyukur dalam kepanikan menghadapi masalah ini, masih ada keluarga dan rekan-rekan yang turut membantu saya untuk berpikir logis. Tapi ada juga yang kalau diceritakan langsung menyalahkan Bank atau menyalahkan saya karena melakukan transaksi di dunia maya. Hei..kita gak mungkin hidup dalam goa kan? Dunia sedang bergerak maju dan penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran tidak bisa dielakkan. Dan transaksi di dunia maya pun akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oiya, ada juga yang bawa-bawa Tuhan kalau ini cobaan. Fiuhhh….

Akhir kata, semoga cerita ini bisa memberi insight lain untuk yang membaca.

UPDATE: Kasus ini sempat pending karena Facebook kesulitan melakukan refund disebabkan oleh pihak Bank yang juga sudah mengajukan sanggahan ke FB dan penanganan diserahkan ke Bank. Tapi komunikasi saya dan pihak Facebook terus terjalin selama kasus belum selesai karena mereka juga menghendaki kasus yang sudah dinyatakan sebagai fraud itu selesai tanpa harus menunggu selama berbulan-bulan seperti permintaan Bank. Meskipun Bank sempat ngotot untuk membiarkan kasus ini berlangsung selama 100-180 hari kerja tersebut, tapi berhubung dari awal pihak FB memang sudah membatalkan transaksi dan saya juga akhirnya mengirimkan seluruh email saya dan FB ke Bank membuat pihak Bank akhirnya memilih melihat kasus ini lebih serius. Iya lebih serius untuk segera membatalkan semua transaksi fraud dari tagihan. Dan dengan sedikit ancaman plus juga desakan si mbak cantik wakil kepala cabang yang gak pengen lihat nasabahnya ini ngancem pindah ke bank lain, akhirnya mereka membatalkan transaksi bermasalah tersebut pada penagihan berikutnya.

Share this entry
1 Comments
  1. Aku hidup masih serampangan sih. Password socmed masih serampangan, pas keilangan ATM ga langsung ngeblokir dll :(

    Reply

Leave a Reply