Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Pengasingan
Apr 16 2013

Pengasingan

Sunyi.  Sepi. Sendiri.

Aku terbangun untuk kesekian kalinya hanya untuk menemukan diriku dalam kesendirian.

Perjalanan yang seharusnya cepat ini ternyata tak secepat itu.

Kulihat waktu yang ada di sistem.  Waktu yang dikalibrasi dengan planet asalku. Desember 3520. Hmm 10 tahun sudah berlalu. Sepertinya aku diatur untuk selalu terbangun setiap 5 tahun untuk melatih tubuhku bergerak setelah hibernasi panjang.

Atau mungkin tubuhku memang tak tahan dengan asupan makanan otomatis di ranjang hibernasiku. Kuraih makanan instan yang ada di wahana antariksa dan mulai menyiapkannya. Hmm….. makanan-makanan instan ini tak pernah bisa memuaskan lidahku. Tapi cukup untuk mengisi nostalgia masa lalu sebelum aku mulai proses hibernasi panjang ini. Tapi.. adakah waktu di luar angkasa? samakah dengan di Bumi? aku tak punya jawabannya.

Masih 2 tahun lagi baru aku tiba di planet pengasingan itu. hmmm…. pengasingan. Kata itu mungkin kurang tepat. Aku cuma satu dari sekian kelinci percobaan yang dikirimkan ke planet-planet yang diduga laik huni alias punya air dalam wujud cair. Air jadi indikasi penting adanya kehidupan. Setidaknya itulah yang dibutuhkan manusia di Bumi.

Persiapan kalau kelak Matahari menelan Bumi kata mereka. Tapi itu masih milyaran tahun lagi.  Argh… kenapa aku tak dikirim ke Titan saja. Lebih dekat. Lebih memungkinkan untuk bisa hidup… mungkin.

Kemungkinan yang sama dengan Gliese 581 g planet pengasinganku itu. Akan seperti apa nasibku disana? Aku tak tahu… gelap.. segelap perjalanan hidupku. Mungkin?

Tapi mungkin ini lebih baik. Ya jelas lebih baik dari pada sudut gelap dan belenggu yang mengisi hari-hariku di Bumi.

Bumi… pikiranku kembali pada memori indah di planet biru itu.

Tahun 3490-an. Masa ketika perjalanan antariksa sudah bisa dilakukan. Wahana antariksa yang bergerak dalam kecepatan cahaya sudah berhasil dibangun dan manusia pun mulai merambah perjalanan uji coba ke planet-planet asing yang sudah ditemukan sebelumnya.

Bumi sudah hampir memasuki usianya yang ke-3500. tua? renta? entahlah. Setidaknya Matahari sudah berusia milyaran tahun.  tapi manusia-manusia di dalamnya tak pernah berubah. Membaca kembali sejarah Bumi… selalu ada mereka yang menempatkan dirinya bak pemilik Bumi yang menetapkan aturan-aturan tak masuk akal untuk manusia.

Tak masuk akal menurut siapa? aku? toh penduduk planet itu tak banyak yang protes kebebasannya dikekang.  Tak ada lagi kebebasan … semua diatur dan dikendalikan sang penguasa. Demi kebaikan katanya…

Mata-mata dimana-mana mengawasi manusia… semua ikut aturan. Indah… tentram … damai…

Tapi apa artinya kalau aku tak bisa memiliki diriku sendiri. Ketika apa yang ingin kulakukan dengan diriku harus diatur undang-undang…dan… sesuatu yang dinamakan agama!

Kata mereka. lebih baik begini. kebebasan seperti yang diceritakan dalam sejarah itu hanya menghasilkan kehancuran. kebencian. kemaksiatan.

darn it!

maksiat! itu kan yang mereka tuduhkan padaku. itu juga yang menyeretku ke balik jeruji asing. entah siapa yang dirugikan. tapi itulah duniaku. tubuhku bukan lagi milikku. semua sudah diatur dalam undang-undang yang aneh.

malam-malam yang dulu kuhabiskan bercengkrama dengan kawan menghiasi memoriku. ah… aku berharap bertemu dengannya. dia yang mengisi petualangan masa mudaku. petualangan mencari senja … menikmati deburan ombak di tanah zamrud khatulistiwa.

Dia… hmm. entah dimana dia sekarang. Mungkin hidup bahagia dengan perempuan yang bisa mengikuti setiap aturannya. Bukan perempuan yang akrab dengan kegelapan malam sepertiku. perempuan yang mengais cerita dan penghidupan di bawah bentangan langit penuh bintang.

penggalan memori masa lalu datang dan pergi.

###

Malam itu mereka datang menyeretku. membawaku ke pengadilan. putusan dijatuhkan. aku dibawa ke balik jeruji. dibelenggu. menanti perjalananku ke planet pengasiangan.

Kata mereka aku tak dibuang tapi aku akan jadi pionir di planet baru itu.

entahlah.

malam itu mereka datang ketika aku sedang mengarungi samudera cinta dengannya. mereka menyeretku dari rumah kecilku.

aku diadili. Dia ? bebas entah kemana…. tak ada pembelaan. Semua tuduhan diarahkan padaku.

Jalang! aku ingat kata-kata itu..

###

Bumi! Planet Biru dengan dinamika kehidupannya. Manusia-manusia suci tanpa cacat yang selalu ikut aturan.

kadang ada tanya yang mengusik. apakah mereka benar suci ataukah hanya berlindung di balik jubah sucinya?

mereka seperti farisi yang berdoa di jalan-jalan.

mereka seperti farisi yang membawa perempuan itu ke hadapan sang Guru.

mereka.. pelempar batu yang merajam orang-orang yang mereka anggap penuh dosa dan nista.

mereka…orang-orang yang memasturbasi iman dengan jubah kebesaran agama.

ah…cerita-cerita tentang kasih karunia sang pencipta menguap di tengah aturan-aturan yang dibangun manusia

dan disinilah aku. kelinci lain untuk tinggal di planet baru. pioner kolonisasi masa depan kata mereka. kesempatan untuk bertobat kata mereka…

hening.

###

guncangan… aku terbangun. kulihat lagi waktu di sistem.  November 3522.  2 tahun aku tertidur lagi rupanya. Sebentar lagi pesawat ini akan memasuki orbit Gliese 581g, planet hunianku yang baru.

entah apa yang akan kuhadapi di sana. Dari jauh tampak si bintang katai merah yang jadi induk planet ini. Lebih kecil dari Matahari, lebih redup dan lebih dingin. Bintang ini punya masa hidup lebih panjang di Deret Utama, kelas bintang-bintang dewasa.  Seperti Matahari ia juga membakar hidrogen tapi dengan kecepatan pembakaran yang rendah alias lambat. Katanya ia akan melakukan pembakaran selama 100 milyar tahun bahkan bisa trilyunan tahun. Belum ada yang bisa melihat bagaimana masa tua bintang katai merah karena usia alam semesta yang masih muda. OK. muda itu milyaran tahun rupanya.  Tapi menurut para ahli di Bumi, bintang katai merah seperti Gliese 581 ketika mendekati masa akhir hidupnya, ia akan jadi lebih terang, lebih panas dan kemudian berakhir sebagai bintang katai putih dengan massa kecil.

Tapi planet yang akan kudatangi ini juga berada sangat dekat dengannya karena zona laik huni yang ada airnya memang berada dekat dengan si bintang. Katanya … meski dekat, tapi karena Gliese 581 ini bintang katai merah, maka planet g yang jadi rumah baruku kelak masih akan punya atmosfer.

yang kutahu ia berada  0.14 SA atau hanya 21 juta km dari bintang induknya.  Jadi meskipun bintangnya lebih dingin dari Matahari, tetap saja panas kalau planetnya dekat sekali dengan bintang. Ukurannya pun sekitar 1,2 – 1,4 kali Bumi. Massanya memang sedikit lebih besar yaitu 3 kali massa Bumi. Dulu.. ketika baru ditemukan di tahun 2010 ribuan tahun lalu, planet ini jadi perdebatan apakah ia ada atau tidak. Ada yang menarik. Satu tahun di Gliese 581 g hanya 37 hari di Bumi.

Menurut penelitian terakhir planet ini punya atmosfer. tapi karena terlalu dekat dengan si bintang. Planet g ini terkunci secara gravitasi dan sisi planet yang berhadapan dengan bintang akan terus siang dengan panas “ekstrim” sedangkan sisi satu lagi akan terus mengalami malam.

Dan pesawat ini harus mendarat di area perbatasan siang dan malam karena katanya disitulah tempat dimana kehidupan mungkin bisa bertahan. MUNGKIN!

yah.. tak ada keterangan lain. toh aku cuma kelinci percobaan.

###

Penantian dimulai… modulku akan segera dilepas dan akan memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi. ah.. mudah-mudahan semua sesuai rencana dan aku bisa mendarat.

tapi bagaimana kalau gagal…mengakhiri hidup di tempat terasing tanpa teman dan keluarga.

mereka jauh.. sangat jauh. tapi katanya kalau aku bisa kembali.. aku akan jadi lebih muda. twin paradox. tapi bagaimana aku kembali?

sistem ini memang dirancang untuk bisa kembali. tapi bagaimana kembali? bisakah aku bertahan hidup untuk kembali?

###

sambil menanti kubaca lagi sejarah manusia di layar di depanku. cerita tentang kasih karunia dan penebusan selalu menjadi favoritku. sangat berbeda dengan kehidupan Bumi yang kujalani.

wahanaku dilepaskan. saatnya memasuki atmosfer.

kilasan bilik gelap itu muncul lagi. aku terbelenggu. sakit.

tapi rasa sakit itu datang dari belenggu lain yang tak tampak. belenggu kehidupan yang menjauhkanku dari sang pemilik hidup. belenggu yang membuatku terikat pada keinginanku…

belenggu yang mengikat masa mudaku. belenggu yang membuatku mencari kepuasan dalam pelukan sang malam.

belenggu yang sama yang membawa perempuan itu diseret menemui snag Guru.

kalimat yang sama juga hadir dalam bisikan. membebaskanku dari belenggu keabadian. jika dan hanya jika belenggu itu ada. Tapi jiwaku merasakan kebebasan! damai.

###

guncangan. guncangan. gelap.

###

sekarang seharusnya parasut itu sudah dilepaskan. rasanya aku menggantung, kulihat di bawah sana dunia yang berbeda.

Batas siang dan malam tampak di satu area. kesanalah aku menuju.

###

seperti curiosity yang sukses mendarat di Mars tahun 2012. wahanaku juga cukup sukses meskipun pendaratannya sedikit lebih keras.

###
saatnya keluar… dunia yang berbeda. bisakah kuhidup?

entahlah. aku harus mencoba. dan aku harus bertahan hidup. jika aku bisa. pesanku ke Bumi akan membawa koloni lain ke tempat ini. 22 tahun lagi…

###

aku harus mencoba! kubuka baju yang sudah dilengkapi oksigen…

berat. sesak…. sesaat.

terpukau… di depanku ada kisah kehidupan lain yang tak kalah menarik dari Bumi. sekelilingku sedikit berbeda dari Bumi. tapi aku seperti berada di Bumi kembar dengan cerita berbeda.  Ada air disini. Mirip Bumi tapi berbeda.

###

Ilustrasi kehidupan di Gliese 581g. Kredit: Dan Durda

Ilustrasi kehidupan di Gliese 581g. Kredit: Dan Durda

3 bulan… nafasku sudah mulai bisa menyesuaikan dengan udara di planet baru ini. Entah apa. aku tak tau apakah ini oksigen atau bukan. mungkin bukan. Di hadapanku sang katai merah yang suhu efektifnya 3400 K tampak seperti raksasa yang akan menelanku. Cerita siang malam yang berganti tak ada disini.

Tapi.. inilah hidupku. cerita baru yang akan kutulis dalam sejarah yang berbeda.

sejarah tentang hidup dalam air kehidupan yang membebaskanku.

###

Share this entry
1 Comments
  1. diaz jubairy

    keren, mirip film prometheus. cuma misinya beda

    Reply

Leave a Reply

Verse of the Day

"Blessed are the peacemakers, for they shall be called sons of God." (Matthew 5:9, ESV)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

catatan lainnya
Coretan lama