Bagaimana Seharusnya Seorang Murid?

Murid! kata ini tentu tak asing bagi kita semua. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, murid adalah orang atau anak yang sedang berguru (belajar, bersekolah). Dan seperti kita ketahui, belajar tidak hanya diinterpretasikan sebagai pembelajaran di lembaga formal karena pada kenyataannya belajar bisa dilakukan dimanapun.

teacher
guru dan murid. Kredit: Shuttering Student

Dalam konteks kekristenan, kata murid mengacu pada orang percaya yang ketika menyatakan dirinya percaya pada Yesus maka ia akan menjadi murid Kristus. Murid disini berarti, kita sebagai orang percaya akan senantiasa belajar dan terus belajar dari Sang Guru dalam menjalani kehidupan. Pelajaran yang di dapat pun bukan sesi-sesi membosankan di dalam kelas atau terbatas hanya di gereja ketika beribadah. Belajar dari Yesus mengandung arti, kita senantiasa belajar setiap saat tanpa berhenti. Belajar untuk menjadi sama seperti Kristus dan menjadi serupa denganNya.

Konteks guru dan murid selalu menjadi hal yang menarik bagi saya karena dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam artikel sebelumnya saya memang pernah membahas tentang seorang murid yang merupakan cermin dari sang guru. Dan demikianlah seharusnya seorang murid karena dalam proses belajar bukan hanya ilmu yang ditransfer tapi juga karakter. Dan inilah yang kemudian diwarisi sang murid. Karakter Yesus-lah yang harus dimiliki setiap muridNya. Kehidupan yang mencerminkan karakter Kristus, karena Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Pertanyaannya bagaimana seorang murid bisa menjadi cerminan seorang guru? tentunya ini bukan hal mudah yang bisa diperoleh dengan instan. Untuk bisa memiliki karakter yang serupa dengan Sang Guru, butuh kemauan untuk terus belajar, ketekunan, kesabaran dan yang pasti ketaatan!  Yesus sebagai guru juga menunjukkan pada kita apa itu ketaatan. Ia taat meskipun harus menderita dan disalibkan. tapi Ia tahu mengapa ia harus meminum cawanNya. Ia menunjukkan karakter yang seharusnya dimiliki seorang murid. Nah bagaimana dengan kita?

Sudahkah kehidupan kita mencerminkan Kristus? Apakah kita adalah salinan Guru kita? ataukah kita masih hidup dengan cara kita sendiri? Apakah kita sudah belajar ataukah kita hanya sekedar mengetahui dan kemudian pergi? Kalau demikian sih.. bukan belajar namanya.

Dalam perjalanan sebagai murid, jurus pertama sebagai murid adalah menghormati sang guru. hal yang sangat sederhana! Tapi perlu diingat, menghormati guru atau menghormati orang lain juga merupakan cerminan dari hasil pembelajaran manusia. Proses belajar dari Tuhan bukan sekedar saat kita membaca alkitab atau di gereja atau di skeolah. Tapi dimulai dari orang tua yang seharusnya mencerminkan Kristus untuk kemudian ditransferkan pada kita. Jadi proses itu dimulai jauh sebelum kita menginjak bangku sekolah atau sekolah minggu. Penghargaan itu lahir dari cerminan yang kita terima dari orang tua kita.

Dan di saat seseorang menyatakan dia adalah murid Kristus, maka penghargaan itu pasti hadir dalam dirinya. Lahir dan kemudian berbuah dalam tindakan. Kita bisa saja mengatakan, saya menghormati Yesus, Guru yang sudah mengajarkan kehidupan pada saya. Tapi apa kenyataannya?

Ketika menjadi murid Kristus, implikasi perbuatan kita bukan hanya antara kita dan Allah. Tuhan itu tidak terlihat bukan? Manusia bisa saja mengatakan aku menghormati Yesus yang sudah menganugerahkan kehidupan dan mengubah hidupku. Tapi apa bukti nyata dari karakter Kristus nyata di dalam kita? Apa buktu nyata bahwa Yesus ada di dalam kita?

Bukti kita sebagai murid Tuhan seharusnya berimplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Disitulah orang lain akan melihat Dia dalam diri kita.

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia menghormati gurunya, sudahkan itu benar-benar dilaksanakan dan diterapkan pada guru yang ditemui sehari-hari?

Menghormati guru. Bukankah ini hal paling sederhana yang diajarkan semenjak mengenal bangku sekolah? Tapi.. ternyata tidak semua orang mampu melakukannya.

Dan memang tak semudah yang dikatakan. Guru yang ditemui sehari-hari jelas bukan Tuhan. Ia memang manusia yang juga punya kekurangan. Ia adalah manusia yang juga bisa salah. Tapi… bisakah kita menghormatinya?

Bisakah kita menghormati guru yang ada di hadapan kita dan menjadi murid yang baik ? Guru yang ditemui tentu punya banyak karakter. Ada yang keras, ada yang lembut. Ada yang cara mengajarnya dengan ketegasan ada juga yang santai. Penerimaan kita pun mungkin berbeda akan karakter guru-guru tersebut. Ada yang dijadikan guru favorit, guru “killer”, guru yang baik, guru yang jahat. Semua itu merupakan hasil interpretasi sang murid. Tapi lepas dari semua julukan itu, guru adalah guru yang harus dihormati.

Sebagai murid Kristus yang belajar dan mencerminkan Yesus dalam hidupnya, seharusnya kita bisa melakukannya. Karena pada dasarnya seorang guru menghendaki murid-muridnya untuk sukses. Dan biasanya ketika kita berguru, maka ada saja karakter yang diwarisi dari sang guru. Percayalah, suatu hari kamu akan berkaca dan mengatakan… karakter guru A atau B ternyata ada dalam keseharianku. Sama seperti ketika kita belajar dari Yesus, karakternya akan nyata dalam kita.

Tapi.. untuk punya karakter yang sama dengan sang guru bukanlah perkara gampang. Bukan hal instan! Perlu pertemuan dan pembelajaran yang rutin dan terus menerus. Dari sanalah transfer kehidupan, karakter, pola pikir dan ilmu akan diperoleh. Untuk bisa punya karakter Kristus. bukan dengan sesekali datang pada Tuhan, tapi lewat perjalanan dan pembelajaran yang tak pernah berhenti denganNya. Sederhananya … luangkan waktu untuk memahami Firman Tuhan dan bercakap-cakaplah denganNya.

Percakapan yang rutin akan membuat kita mengenal sahabat kita. Maka demikian juga dengan hubungan manusia dengan gurunya. Percakapan dan pertemuan rutin membuat manusia mengenal visi, mimpi dan harapan sang guru. Pendidikan tak hanya berbicara tentang transfer ilmu. Ada transfer pola pikir dan juga visi. Hubungan unik inilah yang biasanya tercipta antara guru dan murid. Dan hal yang sama juga berlaku dalamkehidupan sehari-hari. Rutinitas belajar dengan guru yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari akan berimplikasi dalam pola pikir dan tindakan.

Seorang murid juga akan senantiasa menerima pengajaran yang diberikan gurunya. Bukan sekedar untuk dipahami tapi juga diaplikasikan. Dan yang jelas memberi pengaruh pada kehidupan di sekelilingnya sehingga orang lain yang melihatNya akan juga melihat Sang guru dalam kehidupannya.

Tulisan ini mungkin terasa abstrak, tapi sesungguhnya itulah yang ada dalam catatan perjalanan manusia ketika ia belajar. Tidak hanya ketika ia belajar dari Tuhan tapi juga ketika ia belajar dari orang lain yang ia temui dalam kehidupannya. Pertemuan dan pengajaran sesaat mungkin bisa membuka wawasan tapi pembelajaran yang rutin dan pertemuan yang terus menerus tidak hanya memberi implikasi pada banyaknya ilmu yang diterima melainkan juga pola pikir dan karakter. Tak bisa dipungkiri ada guru yang mungkin bukan cerminan terbaik tapi ketika seorang murid mengatakan ia tidak akan meniru gurunya dan tidak ingin mengikuti jejak sang guru, maka pada akhirnya ia akan melakukan hal yang sama dengan sang guru karena pengajaran dan sikap sang guru sudah tertanam dalam dirinya sehingga pada akhirnya secara tidak sadar ia melakukan apa yang pernah dicontohkan sebelumnya. Hal inilah yang menjadi poin penting bagi kita yang menyatakan diri sebagai murid Kristus untuk punya waktu rutin untuk belajar Firman Tuhan dan mengenalNya lebih dekat, sehingga kita tidak akan mudah mengikuti guru-guru palsu.

Seringkali saya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya mencerminkan Yesus dalam hidup saya? Jawabannya masih sangat jauh… dan proses belajar masih tersu berlangsung dan tak kan pernah berhenti. Bahkan kadang saya sering bertanya karakter dan pola pikir apa yang pernnah saya warisi dari para pembimbing saya baik di pendidikan formal dan non formal. Menarik karena saya tahu ada seseorang yang memberi pengaruh sangat besar dalam pilihan saya untuk menjalani visi saya. Seorang guru yang tak pernah berhenti mengajarkan pada saya apa artinya menjadi murid Kristus.

Bagaimana denganmu?

___

disarikan dari Khotbah Minggu, 8 September di GII Dago

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

Leave a Reply

%d bloggers like this: