Sungai Yordan dalam lukisan kartu pos Karimeh Abbud di tahun 1925. Kredit: Wikipedia

Melangkah dalam Iman

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN. (Yosua 24:15)

Penggalan ayat itu tentu tak asing. Itulah saat ketika Yosua menyatakan pilihannya kepada bangsa Israel yang ia pimpin. Pernyataan ini diutarakan Yosua menjelang akhir hidupnya. Sebuah penegasan akan pilihannya untuk berjalan dengan Tuhan.  Allah yang telah menyertai dirinya untuk masuk tanah perjanjian!

Tapi untuk bisa sampai di akhir perjalanannya, ada masa dimana Yosua pun harus memilih. Masa ktika ia juga diberi janji oleh Tuhan bahwa “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Sungai Yordan dalam lukisan kartu pos Karimeh Abbud di tahun 1925. Kredit: Wikipedia
Sungai Yordan dalam lukisan kartu pos Karimeh Abbud di tahun 1925. Kredit: Wikipedia

Itulah janji Tuhan pada Yosua saat ia diminta untuk memimpin Israel meneruskan kepemimpinanMusa, setelah ia meninggal. Musa, pemimpin besar yang di akhir hidupnya tidak bisa memasuki tanah perjanjian. Dan Yosua yang harus meneruskannya. Janji Tuhan pun sangat indah! Setiap tempat yang diinjak akan jadi miliknya. Penyertaan Tuhan seumur hidup. Tapi untuk bisa memperoleh semua itu ada hal yang harus dilakukan Yosua!

Firman Tuhan pada Yosua: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri  yang akan Kuberikan kepada mereka,  kepada orang Israel itu.”

Perintah Tuhan! Sebrangi sungai Yordan menuju negeri yang akan diberikan. Artinya Yosua dan seluruh bangsa Israel harus menyebrang sungai Yordan. Bagaimana caranya?

Yosua tidak mempertanyakannya. Ia cuma tau ada janji bahwa ada negeri perjanjian yang akan diberikan pada bangsanya. tapi untuk tiba kesana perjalanannya tidak semudah itu. Sebelumnya pun tidak mudah karena setelah keluar dari Mesir, bangsa Israel harus menempuh 40 tahun di padang gurun. Sekarang mereka harus menyebrang. Bersama Musa ada keajaiban dan pemeliharaan Tuhan tapi bagaimana dengan kepemimpinan Yosua? Tuhan memang berjanji semua tempay yang diinjak akan jadi miliknya dan Tuhan akan menyertainya. Tapi untuk menyebrangi sungai Yordan yang ada di depan mereka, tentu butuh kebranian. Mereka tidak tahu apa yang ada di sebrang sungai itu. Seperti apakah tanah perjanjian itu? Yang ada hanya janji Allah!

Tapi untuk bisa memperoleh janji itu, ada langkah yang harus diambil. Dulu ketika membaca kisah tentang Yosua, saya selalu berpikir bahwa yang penting adalah ketaatan karena itulah langkah yang diminta Allah bagi Yosua. Jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri. Taat sepenuhnya pada Tuhan. Taat untuk menempatkan ego kita di bawah kehendak Allah. Tapi… apa cuma itu? Ternyata Tuha meminta Yosua untuk menyebrang. Perkara mudah bukan menyebrangi sungai?

Pertanyaannya. Bagaimana ia membawa seluruh bangsa itu menyebrang? Perahu? Bikin jembatan? menyusuri sungai yang arusnya mungkin saja sangat deras? Bagaimana kalau mereka semua tenggelam? Bagaimana kalau umatnya terluka? dan berbagai pertanyaan what if pasti muncul dalam benak.

Bukankah lebih mudah untuk menetap di tanah yang dipijak sekarang tanpa harus menyebrang? Apa yang ada di seberang sana? Kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani? Jika di sebrang sungai ada kota lain, apakah penduduknya bisa menerima mereka? seperti apakah penduduknya?

Itulah juga yang jadi pertanyaan kita saat ini. Ada kalanya kita juga harus menyebrang. Melintasi perbatasan dan keluar dari zona nyaman kita. Kita tak pernah tahu apa yang ada di seberang perjalanan kita nanti. Entah baik atau buruk. Seperti apa kita harus menyebrang? Akankah semua perjalanan mulus ataukah ada amarah, kecewa, dan luka? Kita tak pernah tahu jawabannya. Dan Tuhan pun tak pernah memberi tahu kisi-kisi perjalanan pada kita. Ia tak memberi tahu ada apa di seberang sana. ia juga tak memberi tahu bagaimana rasanya menyebrang atau bagaimana caranya kita menyebrang.

Tapi.. kita tak akan pernah tau akhir dari sebuah perjalanan kalau kita memilih berkemah di tengah gurun. Kita tak pernah sampai di ujun perjalanan dan tiba di tanah perjanjian kalau kita tidak taat dan melangkah menyebrangi sungai di hadapan kita. Zona nyaman yang membuat kita terlena dan percaya semua baik-baik saja. Padahal ada cerita lain yang ada di depan kita yang bisa kita songsong kalau kita mau menyebrang. Dan itulah yang dilakukan Yosua. Ia memilih untuk taat dan melangkah menyebrangi sungai Yordan. Ketaatan yang membuahkan pertolongan Tuhan untuk membawa bangsa Israel memasuki tanah perjanjian.

Bagaimana dengan kita? Bisakah kita meninggalkan zona nyaman kita? pertanyaan yang sama pula yang hadir ketika mendengar khotbah awal tahun yang diambil dari kitab Yosua. Melangkah dalam iman! Itulah yang jadi tema tahun 2014. Dan juga memberi saya perspektif baru tentang sebuah perjalanan. Bahwa kita tak seharusnya menikmati masa perkemahan terlalu lama. Karena Tuhan menghendaki kita untuk terus melangkah dan berkarya. Melakukan hal-hal yang bisa memberi kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan dan yang pasti menggenapi visi yang Ia berikan untuk kita. Sebuah visi tidak akan pernah tercapai kalau kita hanya diam di satu tempat dan terlena dengan kehangatan yang diberikan. Visi bisa terwujud ketika kita berani mengambil langkah untuk mewujudkannya. Meskipun untuk itu tidak akan mudah bagi kita untuk bisa melintasi zona nyaman tersebut. Tapi, yang harus dilakukan adalah melangkah maju tanpa tahu apa yang ada dihadapan kita dan percaya bahwa Ia Allah yang setia akan memenuhi janjiNya untuk menyertai perjalanan kita. Bukankah bunga bakung di padang ia pelihara? Maka janganlah kuatir untuk melangkah dengan iman!

Pilihan itu ada di tangan kita. Akankah kita memilih berkemah di gurun ataukah kita memilih menyebrangi sungai di hadapan kita dan melihat pemenuhan janji Allah.

Selamat Tahun Baru 2014!

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

Leave a Reply

%d bloggers like this: