Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Menyusuri kembali kota Ambon!
Jan 5 2014

Menyusuri kembali kota Ambon!

Tulisan ini sudah sejak lama ingin kutuang tapi sering kali berakhir dengan pertanyaan apa yang hendak ditulis? Tapi toh ada pengalaman menarik di sana. Tahun 2012, bagi para astronom ada kejadian menarik. Transit Venus akan si bintang fajar akan bergerak melintasi wajah Matahari. Peristiwanya mirip gerhana Matahari oleh Bulan. Bedanya ini gerhana Matahari oleh Venus. Jadi Matahari tidak akan menghilang dan menyisakan kegelapan di Bumi, karena Venus berada dekat Matahari dan piringannya pun jadi jauh lebih kecil dibanding piringan Matahari. Jadi yang tampak adalah noktah hitam yang melintasi Matahari.  Fenomena ini tergolong langka karena hanya terjadi 2 kali dengan rentang 8 tahun antara transit 1 dan 2 dan kemudian baru terjadi lagi 100 tahun kemudian!

Transit Venus sebelumnya terjadi tahun 2004. Artinya transit Venus tahun 2012 lalu adalah transit terakhir abad ini. Dan Indonesia bagian tengah dan timur bisa menikmati keseluruhan proses transit dari awal sampai akhir. Yang artinya juga, kesempatan untuk memperkenalkan astronomi pada masyarakat daerah! Jadilah waktu itu, kami dari langitselatan memutuskan untuk berbagi astronomi di Ambon. Cerita lengkap perjalanan kami sudah ditulis di langitselatan.  Hal lain dari perjalanan tersebut adalah, ini pertama kalinya saya pulang ke Ambon sejak tahun 1999 aka 13 tahun kemudian.

Ambon yang saya ingat terakhir kali ke sana adalah suasana di awal konflik masyarakat yang digadang-gadang sebagai konflik antar agama.  Ambon yang saya kenal sejak lahir sampai SMA adalah kota yang menyenangkan. Ramah dan khas dengan  kehidupan pantai.  Sesuatu yang sangat saya sukai. Di Ambon saya mengenal kegiatan kemanusiaan ketika bergabung dengan Palang Merah dan pernah juga korupsi umur eh ngaku-ngaku mahasiswa demi ikut pertemuan Korps Sukarela tahun 1996 di Cibodas, Jawa Barat.  Tapi konflik yang terjadi belasan tahun lalu sempat meluluhlantakkan kehidupan masyarakat. Liburan di tahun 1999 menyisakan cerita kepulangan yang akhirnya lewat pelabuhan TNI AL karena kapal tidak bisa berlabuh di Pelabuhan Yos Sudarso dan saya pun tidak bisa melewati daerah konflik dengan aman. Rasa kuatir dan curiga saat itu masih sangat tinggi. Bagaimana tidak, konflik berkepanjangan itu tidak hanya memisahkan dua komunitas yang bertikai tapi memisahkan teman dan kerabat bahkan keluarga!

2012! Tahun yang digadang-gadang sebagai tahun kiamat gara-gara hoax 2012, saya kembali menginjakkan kaki di tanah raja-raja, Maluku! Ambon sudah aman dan kembali menata kehidupannya. Tiba di Bandara Pattimura membawa kembali kenangan masa lalu yang pernah hadir ketika remaja. Dan wajah Ambon memang sedikit berubah dibanding ingatan yang pernah ada. Setidaknya jalan-jalannya jauh lebih mulus dibandingkan Bandung. trotoarnya pun lebih baik dari Bandung. Suasana kota jadi lebih ramai dan padat mungkin karena pertumbuhan masyarakat yang memilih tinggal di Ambon semakin banyak. Tidak tahu juga. Tapi area yang pernah saya singgahi dan saya kenal masih tetap sama. Meskipun ada sedikit perbedaan yang cukup signifikan. Dua kelompok yang sempat konflik masih hidup terpisah dalam zona yang berbeda. Dan panggilan yang berbeda bisa membuat seseorang dengan mudah mengetahui “identitas” orang dipanggil. Masyarakat kedua pihak memang sudah dengan bebas keluar masuk kedua wilayah tanpa rasa kuatir. Dan ini tak lepas dari peran komunitas anak-anak muda di Ambon yang melaksanakan kegiatan bersama.

Ambon dengan wajah baru yang memberi harapan baru pada masyarakatnya. Setidaknya banyak infrastruktur baru yang dibangun dan diperbaiki dan dipermak jadi lebih bagus dibanding 13 tahun lalu.  Pattimura Park yang tampak baru dan juga area Gong Perdamaian yang dulunya ramai oleh kegiatan pasar. Meskipun si Ambon Plaza masih tegak berdiri tapi … kotornya itu loh! Bahkan seperti tak terawat. Pusar perbelanjaan Ambon City Center saat itu mulai beroperasi dengan toko dan restoran franchise yang dibawa dari Jawa. Sepertinya invasi pusat perbelajaan ala kehidupan metropolitan coba diusung di Ambon. Saat itu AAC terlihat ramai tapi apakah daya belanja masyarakatnya akan setinggi di kota metropolitan?

Yang terasa mencolok adalah kehadiran kafe yang cukup menjamur di Ambon. Salah satu yang cukup terkenal sepertinya kafe Sibu-Sibu yang menghidangkan makanan ringan khas Ambon. Tapi sayangnya kafe ini buat saya tidak begitu menarik selain makanannya. Asap rokok dimana-mana, bagaimana mungkin seseorang betah berjam-jam menikmati waktu sambil berselancar di internet?  Meskipun Ambon sudah semarak dnegan kafe, tapi yang namanya nasi ikan, coto makssar, es kacang merah dan es pisang ijo masih tetap jadi favorit. Belum lagi ikan asar yang nikmat untuk disantap! Pulang ke Ambon artinya memanjakan lidah dengan wisata kuliner. Mirip sih dengan “kalap” ngebakso, nyate, dan mencari soto ayam di KiosK setiap pulang dari Eropa!

Kunjungan ke Natsepa dan Liang masih menyisakan kenangan manis. Betapa tidak, pantai Natsepa telah berkembang menjadi dareah wisata pilihan dengan rujaknya yang super nikmat! Tapi sayangnya pantai yang seharusnya dijaga kealamian dan kebersihannya ini, rusak pemandangannya oleh sampah. Pantai Liang masih jauh lebih alami dan tertata dan bisa menjadi pilihan untuk menyepi dan menikmati dbeuran ombak sambil melihat lalu lalang ferry yang melintas pulau.

Pertemuan dengan teman lama pun mengisi kepulangan saya saat itu. Melepas kangen dan menelusuri kembali kenangan menjadi cerita menarik setelah belasan tahun tak bertemu.  Masing-masing telah mengembara dalam petualangannya dan pengembaraan itu jelas membawa kami semua dengan cara pandang dan pola pikir bahkan gaya hidup yang berbeda. Meskipun demikian satu hal pasti, kebersamaan membawa kembali kehangatan dalam apapun perbedaan yang ada.

Di balik semua cerita yang membawa kembali kenangan, perjalanan untuk berbagi ilmu tampaknya tak smeulus yang diharapkan. Kendala justru datang dari pihak yang seharusnya memberi dukungan penuh. Dinas Pendidikan. Dan pihak universitas meskipun membantu namun tampaknya sistem yang diterapkan tidaklah se-fleksibel di kampus tempat saya menimba ilmu. Perbedaan itu terasa sangat mencolok. Kehausan akan ilmu pengetahuan seperti tidak menemukan jawabannya.  Tapi di balik keangkuhan penguasa, masih ada mereka guru-guru yang punya dedikasi untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya.

Ambon kota kecil yang membawa sejuta cerita itu masih menyisakan kerinduan untuk kembali. Tujuan berikutnya? Ora Beach?

Share this entry
2 Comments
  1. ambon memang kota yang menarik untuk dikunjungi

    Reply

Leave a Reply

I write these things to you who believe in the name of the Son of God so that you may know that you have eternal life.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: