Journal

-- the pilgrim journey --

Home / traveling / Jalan – Jalan di Beijing
Feb 23 2014

Jalan – Jalan di Beijing

Dari dulu cita-citanya ingin menuliskan setiap perjalanan di blog ini. Tapi selalu saja “ndak punya waktu” – alesan – atau memang malas. Kali ini saya ingin sedikit bercerita dan menggali memori perjalanan saya ke Beijing di tahun 2011 dan 2012. Digabung aja yah :). Satu hal pasti tentang kedua perjalanan ini, CAP 2011 dan IAU GA 2012 dimulai dengan iman. Mungkin terdengar aneh tapi bagaimana saya bisa tiba disana dan memperoleh pendanaan semuanya diawali dengan keyakinan bahwa Tuhan yang menyediakan segala sesuatu.

Perjalanan menghadiri CAP 2011 dan IAU GA ke-28 di Beijing, mengajarkan saya kalau Tuhan tidak pernah salah dalam menenun kehidupan anak-anaknya.  CAP 2011, membuka kesempatan bagi saya untuk bisa bekerja di Astrosphere New Media dan IAU GA ke-28 membawa saya pada kesempatan untuk bergabung dalam working group New Media di  IAU Komisi 55 Communicating Astronomy with the Public dan menjadi associate member di IAU. Kesempatan, tantangan dan tanggung jawab baru! Tapi kali ini saya hendak bercerita tentang sisi lain perjalanan saya di Beijing. Sisi jalan-jalan di luar konferensi.

Bagi saya, perjalanan ke China masih menyisakan cerita yang agak membuat males untuk kesana. Negaranya sih indah, tapi kendala bahasa menjadi problema utama. Dan hal yang sama terjadi juga ketika saya melakukan perjalanan ke Beijing.  Dan cara cepat menyelesaikan semuanya adalah dengan bahasa tubuh. It works!  Selain bahasa, kendala lainnya adalah makanan. Selama di Beijing, sepertinya yang saya pesan adalah minyak yang diberi nasi atau daging. Aneh? Tapi itulah yang terjadi. Apapun makanan yang dipesan selalu saja minyaknya berlebihan. Bisa deh diplastikin trus dibawa pulang :D.  Tapi negeri yang satu ini sangat eksotis! Setiap lokasi yang dikunjungi jelas punya balutan sejarah yang sangat menarik.

CAP 2011
Tahun 2011, saat saya menghadiri konferensi CAP di Beijing, saya menginap di Xiyuan Hotel, tak jauh dari Beijing Zoo dan Planetarium Beijing. Ada kejadian menarik sebelum tiba disana. Seperti biasa, sebelum berangkat saya pesan dulu kamar hotelnya. Biasa sih, yang menarik setelah melakukan pemesanan, tidak ada konfirmasi dari hotel. Padahal saya butuh juga surat konfirmasi dalam mengajukan visa meskipun memang tidak harus. Tapi saya lebih suka menyiapkan semuanya. Sampai saat pengajuan visa, tidak ada konfirmasi hotel. Jadi ya sudah pengajuan tanpa ada bukti pemesanan hotel. Hotel Xiyuan memang merupakan hotel tempat dimana konferensi diadakan. Artinya, semua peserta konferensi akan menginap disana. Dan yang menarik, tidak ada yang menerima konfirmasi dari pihak hotel terkait pemesanan kamar. Akhirnya dari pihak SOC yang terus berkomunikasi dengan peserta mereka sempat “bercanda” di email menyatakan, “ya mari kita dateng ke Beijing kalau tidak ada kamar kita nginep aja rame-rame di depan hotel”. Akhirnya LOC pun turun tangan dan kami memperoleh konfirmasi hotel sehari sebelum keberangkatan. Itupun surat yang saya terima adalah konfirmasi pemesanan dari pasangan suami istri asal Jepang di kamar bisnis. Untunglah nyampe di hotel, nama saya sudah terdaftar di kamar yang saya pesan sejak awal.

Selama CAP 2011 berlangsung, untuk makan malam biasanya kami menuju Wangfujing untuk mencari restoran dan sempat juga singgah di  pasar malam yang menjual serangga hidup untuk dimakan. Naik taksi berlima pun pernah dilakukan untuk kembali ke hotel. Nyasar juga pernah! Saat saya dan seorang rekan nyasar saat mencari silk market dan terdampar di selatan kota Beijing, tanpa ada yang mau membantu termasuk ditolak naik taksi karena kami hanya mampu berbahasa Inggris. Untunglah akhirnya kami ditolong seorang mahasiswa Jerman yang sedang studi di Beijing. Dan kami pun bisa kembali ke Hotel. Selama CAP 2011, saya hanya berkunjung ke Observatorium tua di tengah kota Beijing, menikmati pertunjukkan di Planetarium Beijing dan berbelanja di Jade market. Untuk berbelanja, bawalah seseorang yang jago menawar! Setidaknya itulah yang dilakukan rekan asal Beijing yang sedang S3 di US. Selama menjadi guide kami di Beijing, ia juga menjadi penawar kami yang sangat ulung!

Yang paling berkesan selama kunjungan di tahun 2011 adalah pertunjukan di Planetarium Beijing! Planetarium modern yang menyajikan hiburan pengetahuan yang sangat menarik. Saya sempat menikmati pertunjukan terkait cerita rakyat China dan benda-benda langit. Sayangnya cita-cita ke Kota Terlarang, Summer Palace dan Tembok Cina tidak berhasil saya lakukan dalam kunjungan tersebut. Tapi saya sempat berkunjung ke Olympic Green, lokasi berlangsungnya Olimpiade Beijing thn 2008 yang cuma bisa saya nikmati dari balik layar televisi di Kunming, China Selatan. Melihat struktur Bird Nest yang luar biasa, dan bermimpi bisa membangun bangunan seperti itu suatu hari nanti. Saya memang astronom tapi toh kehidupan keluarga saya tak jauh dari rancang merancang bangunan! Selain Stadion Sarang Burung, kami juga sempat menikmati National Aquatics Center plus tambahan kehilangan rekan dari Polandia yang ikut dalam grup saya saat mengunjungi Olympic Green! Saat kembali dari Olympic Green kami sempat menikmati aktivitas masyarakat di malam hari di taman tak jauh dari Olympic Green saat menuju subway. Berbagai senam, tarian, skate board show dan lampion show jadi alternatif tontonan kami saat itu. Itulah fungsi ruang hijau di tengah kota.

Di balik modern-nya Beijing, tersimpan juga sisi gelap sebuah ibukota. Kehidupan masyarakat yang bagi saya tampak miskin dan super tidak bersih. Area utama kota ini, mirip seperti Jakarta. penuh keindahan dan kemegahan. Tapi di sisi lain ada kehidupan masyarakat yang juga jorok dan tidak teratur. Setidaknya itu kesan yang saya peroleh saat kami mencari makan malam murah di sebuah area tak jauh dari Universita Peking. Saya juga sempat mengunjungi Night Market di Wangfujing.  Tempat yang menarik dengan berbagai serangga dan hewan yang ditusuk hidup-hidup dan dijajakan untuk dibakar atau dimakan dalam kondisi hidup. Belum lagi bau pesing dan sampah yang bertebaran menyengat indra pernapasan. Tak hanya itu. Pemandangan warga kota yang meludah dan muntah sembarangan menjadi pemandangan “biasa”.

Akan tetapi, Beijing merupakan ibukota negara yang juga menyuguhkan modernitas kota masa kini. Pengaturan transportasi umum menjadi nilai tersendiri dari kota ini untuk saya. Setidaknya di tengah kota yang luar biasa besar itu, transportasi umum menjadi pilihan pertama dan termurah! Bayangkan kemana-mana naik subway hanya modal 2 RMB. Bus hanya 1 RMB. Meski mengalami gegar budaya tapi saat itu saya hanya bisa berharap akan kembali ke Beijing meskipun China bukan negara favorit saya untuk dikunjungi. Alasannya sederhana, saya tidak nyaman dengan budayanya plus kekagetan saya melihat kebiasaan sebagian masyarakat yang aktivitas di toiletnya terhitung jorok.   Tapi berbicara tentang Beijing sebagai kota metropolitan, maka saya justru kagum melihat arsitektur bangunannya yang unik. Dan ternyata di tahun 2012 saya memang kembali mengunjungi Beijing.

IAU GA 2012
IAU GA yang ke-28 di Beijing dilaksanakan selama 2 minggu, dan pertemuan yang melibatkan saya dilaksanakan di minggu kedua. Jadi saya punya kesempatan jalan-jalan di minggu pertama. Meski ternyata tidak demikian karena tiba-tiba saya punya beberapa pertemuan informal dengan berbagai grup astronomi.  Lokasi kegiatan di China National Convention Center yang berada tak jauh dari Stadion Bird’s Nest (Sarang Burung) justru membuat saya tidak mengunjungi area stadion sampai hari terakhir karena setiap melewati stadion cita-citanya adalah nanti malam akan saya kunjungi. Sampai hari terakhir barulah saya menyadari kalau saya belum menyambangi lagi stadion yang dibangun untuk olimpiade tersebut.

Tapi dalam kunjungan ini saya menyempatkan diri bersama Janet dan Pak Taufiq Hidayat untuk jalan-jalan mengunjungi Tiananmen Square, Gate of Heavenly Peace aka Tiananmen, Forbidden City aka Kota Terlarang dan The Great Wall aka Tembok Raksasa. Dari Hotel Super 8 di area tak jauh dari CNCC atau area Olympic Green, Forbidden City dan Tiananmen bisa dicapai dengan subway. Tapi tidak dengan Tembok Raksasa. Dari bagian tur di IAU GA maupun dari para supir shuttle yang menawarkan perjalanan ke Tembok Raksasa, setidaknya kami harus menyediakan uang beberapa ratus ribu sampai sejuta untuk bisa menyewa mobil atau taksi ke Tembok Raksasa. Kunjungan pertama ke Tiananmen dan Forbidden City dilakukan hari sabtu dan itu luar biasaaaaa padat. Akhirnya kami pun harus bisa menikmati keindahan kota terlarang dan menyaksikan lapangan tiananmen yang menjadi saksi sejarah pembantaian dalam demonstrasi mahasiswa tahun 1989 di antara ribuan pengunjung!

Mengunjungi Forbidden City di tengah keramaian itu sama sekali tidak menyenangkan. Kami tak bisa menikmati keindahannya. Lebih mirip ikut antrean berbaris dari pintu masuk sampai keluar.  Tapi kemegahan istana terpancar menunjukkan kejayaan Dinasti Ming  dan Ching di masa lalu. Dan bahkan masih menunjukkan dominasi China di dunia modern. Ketertutupan istana tersebut juga memberi gambaran kehidupan politik negeri tirai bambu di masa kini, dan Tiananmen Square menjadi saksi bisu perlawanan mahasiswa di tahun 1989 yang dikenal sebagai June Fourth Incident. Pembunuhan massal yang dilakukan oleh militer China yang menghabiskan ratusan atau bahkan mungkin ribuan mahasiswa dan masyarakat yang mendukung gerakan perlawanan tersebut. Kisah itu kini menjadi bagian dari sejarah negeri tirai bambu dan lokasi turis yang berkunjung. Hari itu kami menghabiskan waktu jala-jalan menikmati ramainya Tiananmen Square dan juga Gerbang Tiananmen yang menjadi pintu masuk menuju Kota Terlarang atau lebih tepatnya gerbang menuju Imperrial Palace. Di gerbang Tiananmen, tampak foto Mao Zedong hasil karya Ge Xiaoguang megah menatap kota beijing dihadapannya.   Untuk kunjungan ke Forbidden City dibutuhkan setidaknya 60 RMB sebagai biaya tiket masuk.

Menikmati istana di Kota Terlarang menjadi pengalaman unik tersendiri, tapi saya sangat mengagumi kemegahan arsitektur klasik China yang dirangkai dalam tatanan istana di Kota Terlarang tersebut. Selesai mengunjungi Kota Terlarang, satu hal yang pasti kami kelaparan! Maka kami pun mencari makan, dan berakhir dengan makan mie seharga 25 RMB. Menurut saya agak mahal mungkin karena berada di tengah kota dan area wisata. Dari kunjungan ke Kota Terlarang, kami pun memutuskan mengunjungi Jade Market aka Pasar Giok. Ini merupakan area perbelanjaan mirip Kings di Bandung, dimana di dalamnya terdapat outlet-outlet penjual segala barang mulai dari barang elektronik, souvenir, sumpit, payung, baju dan giok! Di lantai teratas Jade Market dibuat taman lengkap dengan gazebo dengan tipe mirip di zaman kerajaan China. Dari sini, kami juga bisa melihat Summer Palace. Hmm sayangnya waktu yang kami miliki tidak memungkinkan untuk mengunjungi Summer Palace. Next time may be?

Berbelanja di Jade Market, sama seperti setahun sebelumnya, dibutuhkan keahlian untuk tawar menawar tingkat tinggi. Jangan takut untuk menawar bahkan 1/4 atau 1/5 harga yang ditawarkan. Saat tiba di Jade Market, kami bertemu dengan rekan-rekan komunikator yang juga sedang berbelanja. Dan tampaknya kemampuan tawar menawar seorang rekan yang juga merupakan koordinator salah satu organisasi yang jadi partner kerja kami memang mumpuni. Setidaknya dia berhasil menawar belanjaan saya dengan harga super miring. Meski saya yakin kalau diturunkan lagi bisa dapet. Setelah keliling berbelanja kami pun kembali ke hotel dan karena malam menjelang dan area tengah juga sudah bernyanyi maka dari pada pusing mencari makanan… maka kami pun brakhir di KFC!

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mengunjungi Tembok Raksasa. Tapi karena ingin bertualang dan juga kalau mencari tour dadakan akan nyewa mobil sudah kesiangan, maka kami memutuskan mencari tahu transport publik yang bisa digunakan dari stasiun Bus terdekat. Seperti biasa kendala utama adalah bahasa. Di sana kami bertemu dengan seorang nenek yang bertugas di stasiun tersebut. Jelas dia tak mampu berbahasa Inggris. Tapi dia mencoba memahami brosur yang kami perlihatkan dan dia pun meminta kami menunggu. Ternyata dia mencarikan penumpang yang bisa berbahasa Inggris di terminal Bus tersebut untuk bisa membantu kami. Dan dibawalah seorang gadis muda yang kemudian menjadi penunjuk arah bagi kami. Dari gadis tersebut kami diberi informasi untuk menumpang salah satu Bus (lupa nomernya) ke terminal terakhir si Bus dan dari sana kami bisa menumpang bus lainnya langsung menuju Tembok Raksasa.  Tiba di terminal berikutnya, kami menemukan kalau antrean menuju Tembok Raksasa bak ular yang meliuk sangat panjang. Tapi yah.. bersabar sajalah mengantri menunggu giliran. Akhirnya kami pun bisa mengunjungi Tembok Raksasa China yang membentang dari timur ke barat di sepanjang perbatasan utara China di masa lalu.

Mengunjungi tembok raksasa memang pengalaman luar biasa! Setelah membeli tiket seharga 45 RMB kami pun menyusuri tembok yang super panjang dengan jalan naik turun karena si tembok memang membentang melintasi pegunungan. Satu kata.. luar biasa! dan capek! Tapi pemandangan dan pengalamannya benar-benar tidak bisa dilupakan. Apalagi ketika kami harus memanjat bagian yang kemiringannya sangat curam! Naik turunnya itu loh! Tapi setidaknya kalau jatuh pun menggelinding dan mungkin terinjak pengunjung lain. Tapi jangan sampailah!

Seperti layaknya turis, kami pun foto-foto di sana sambil bercengkrama dan yang pasti lupa makan siang. Cuma modal biskuit aja untuk siang itu. Akhirnya sekitar jam 3 sore kami memutuskan kemballi ke Beijing dnegan bus. Kali ini antrian bus pun luar biasa panjang. Tapi yang sedikit mengejutkan adalah melihat orang tua yang menyuruh anaknya buang air besar di samping antrian di atas trotoar, dan ketika antrian maju anaknya diangkat kemudian dipindah ke depan untuk melanjutkan aktivitasnya itu. Sebenarnya aneh, karena toilet tidak jauh dari lokasi antrian dan kalaupun kuatir kehilangan antrian maka toh ada keluarganya di situ, apalagi tampaknya masyarakat disitu tak peduli dengan yang namanya antri. Jadi kalau ada yang mereka kenal maka mereka akan menyusup ke antrian. Apakah ini memang hal biasa? Akhirnya kami pun bisa kembali ke Beijing dan langsung menuju hotel. Total biaya transportasi kunjungan ke tembok raksasa hanya 28 RMB per orang untuk perjalanan dengan bus. Dan malam itu kami pun berakhir dengan makan malam di restaurant Jepang 😀

Setelah itu kami pun sibuk dengan IAU GA 2012 yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Tapi di malam terakhir sebelum pulang, saya dan Janet menyempatkan diri jalan-jalan di area stadion sarang burung menikmati kerlap kerlip lampu dan Bulan yang menggantung di antara awan dan kabut yang menghias Beijing. Sambil menikmati kuliner aka pasar malam di area tersebut. Keesokan harinya kami pun kembali ke Indonesia via HongKong dan saya pun melanjutkan perjalanan ke Bekasi untuk menghadiri pernikahan seorang rekan astronom.

Share this entry
2 Comments
  1. Anonymous

    Mbak Avivah, blog nya bagus dan memberikan info yg berguna. Aku kirim email tlg dibalas ya. Tq Selma.

    Reply
    • hai mbak. akan saya bales kalau nggak malam ini mungkin besok ya. saya lagi nyiapin materi buat ngajar soalnya.

      Reply

Leave a Reply

Good and upright is the Lord; therefore he instructs sinners in his ways. He guides the humble in what is right and teaches them his way.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: